Oleh: Dinda Fatimah Zahra
Puasaku, Tuan,
berjalan begitu berat
sebab harus mengasuh
anak-anak rindu.
Mereka menolak sahur,
memilih mengunyah
sisa-sisa perpisahan
semalaman.
Menjelang zuhur,
mereka meminta
seteguk pelukan
yang tak pernah matang.
Kubawa mereka
menyusuri senja,
berharap azan
pandai membujuk.
Ternyata magrib
hanya mengenyangkan perut.
Tak pernah benar-benar
mengenyangkan kehilangan.
Maka di sela-sela
jemari yang menangkup doa, aku ingin,
puisiku puasa dari luka-luka.
Tanjung Priok, 26 Juli 2026
