Oleh: Rangga ART

penuh.

anehnya, sesuatu yang penuh justru menyisakan ruang paling banyak.

tujuh puluh dua ribu guru datang dari dua puluh empat kabupaten dan kota. masing-masing membawa nama daerahnya, lalu perlahan meletakkannya di depan pintu, seolah persaudaraan tak pernah pandai menghafal asal-usul.

orang menyebutnya pertemuan.

padahal setiap pertemuan selalu diam-diam adalah perpisahan yang sedang menunggu giliran.

lapangan dipenuhi langkah.

tak seorang pun bertanya ke mana langkah-langkah itu pergi setelah kaki berhenti.

mungkin langkah tidak pernah pulang.

mungkin manusialah yang selalu terlambat menyusulnya.

di arena, kemenangan berdiri di podium.

di luar arena, kekalahan sedang mengajari seseorang cara berjalan tanpa menundukkan kepala.

barangkali keduanya saudara.

hanya lahir dari arah yang berbeda.

sidrap tak bertambah luas.

yang berubah hanya cara orang mengukur jarak.

sebab jarak ternyata bukan perkara kilometer.

ia hilang begitu dua tangan saling menjabat.

ketika acara usai, bus-bus kembali berangkat.

kota perlahan lengang.

namun ada satu hal yang tertinggal.

bukan spanduk.

bukan medali.

melainkan sebuah pertanyaan yang tak sempat dijawab siapa pun:

jika guru datang untuk belajar,

lalu siapakah yang diam-diam menjadi gurunya?

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini