Oleh: Makmur Aluddin
Pagi itu,
langit Barru tak seramai biasanya.
Ada doa yang belum sempat diucapkan,
ada sumpah yang belum sempat dilafalkan,
ada amanah yang telah menunggu,
namun pemiliknya lebih dulu dipanggil pulang.
Ibrahim,
namamu telah dipilih rakyat,
ditulis dalam harapan-harapan sederhana
di rumah-rumah kayu Desa Jangan-Jangan.
Mereka percaya,
di tanganmu desa akan menemukan arah,
di langkahmu masa depan akan bertumbuh.
Hari itu seharusnya menjadi hari kemenangan.
Hari ketika senyum keluarga mengembang,
ketika masyarakat menyambut pemimpinnya,
ketika sebuah perjalanan baru dimulai.
Namun takdir menulis cerita berbeda.
Di saat pakaian pelantikan mungkin telah disiapkan,
di saat kursi kepala desa telah menantimu,
di saat masyarakat bersiap menyaksikan sejarah,
engkau justru melangkah menuju perjalanan yang lebih jauh.
Bukan ke kantor desa,
bukan ke ruang pelantikan,
melainkan menuju keabadian.
Betapa singkat jarak
antara harapan dan perpisahan.
Engkau pernah berdiri di surat suara,
bahkan berhadapan dengan istrimu sendiri,
bukan karena perebutan kuasa,
tetapi karena tanggung jawab yang harus dijalankan.
Dan rakyat memilihmu.
Mereka menitipkan mimpi-mimpi kecil:
jalan yang lebih baik,
sawah yang lebih subur,
anak-anak yang lebih sejahtera.
Namun Tuhan memilihmu lebih dahulu.
Kini tak ada pidato pelantikan.
Tak ada tepuk tangan kemenangan.
Yang terdengar hanyalah isak kehilangan,
dan doa-doa yang terbang bersama angin pagi.
Ibrahim,
engkau memang belum sempat memimpin desa ini,
tetapi kisahmu telah memimpin banyak hati
untuk memahami satu hal:
Bahwa jabatan hanyalah titipan,
kemenangan hanyalah persinggahan,
dan manusia hanya mampu merencanakan.
Sebab pada akhirnya,
ketika Tuhan memanggil,
tak ada pelantikan yang lebih tinggi
selain kembali menghadap-Nya.
Selamat jalan, Ibrahim.
Hari yang seharusnya mengantarmu ke kursi kepemimpinan,
justru mengantarmu ke pangkuan keabadian.
Dan di antara air mata warga yang kehilangan,
namamu akan tetap hidup sebagai pengingat:
bahwa takdir selalu memiliki kalimat terakhir.
