Di ufuk timur, mentari merah putih merekah,
menyapu embun di sawah-sawah yang tabah.
Dari pesisir yang memeluk samudra,
hingga gunung-gunung yang menjaga langit nusantara.

Indonesiaku, negeri yang lahir dari doa,
dari darah para pejuang yang tak pernah meminta nama.
Kini kembali menatap masa depan,
dengan harapan yang tumbuh di setiap tangan.

Di tangan Prabowo Subianto,
kutitipkan mimpi berjuta rakyat sederhana.
Tentang petani yang ingin panennya dihargai,
tentang nelayan yang ingin lautnya memberi.

Tentang anak-anak yang berlari ke sekolah,
membawa cita-cita lebih tinggi dari angkasa.
Tentang ibu yang tersenyum di beranda rumah,
karena dapurnya tak lagi mengenal resah.

Bukan tentang siapa yang memimpin hari ini,
melainkan tentang Indonesia yang tak boleh berhenti.
Melangkah tegak di tengah dunia,
menjadi bangsa besar yang percaya pada dirinya.

Jika kekayaan bumi adalah amanah,
maka keadilan harus menjadi arah.
Jika kemerdekaan adalah warisan,
maka kesejahteraan harus menjadi tujuan.

Wahai Indonesiaku,
tetaplah menjadi rumah bagi segala perbedaan.
Tempat di mana suku, bahasa, dan keyakinan
bertemu dalam satu nama: persatuan.

Dan bila suatu hari sejarah kembali menulis,
semoga ia mencatat dengan tinta yang manis:
bahwa pada masa ini, rakyat dan pemimpinnya berjalan seiring,
menjahit harapan yang lama tercerai menjadi benang yang saling mengiring.

Sebab Indonesia bukan hanya tentang hari ini,
melainkan tentang anak cucu yang akan mewarisi.
Dan selama merah putih tetap berkibar di langit pertiwi,
aku akan selalu percaya:

Indonesiaku akan terus berdiri,
kuat dalam badai,
bijak dalam kuasa,
dan mulia dalam cita-cita. (*)