Oleh: Syaharuddin Alrif
SAYA minta mobil berhenti.
Mendadak.
Tidak ada dalam jadwal.
Tidak ada dalam rundown.
Tidak ada pula dalam laporan staf.
Pokoknya berhenti.
Di kiri jalan, hamparan padi membentang luas.
Menguning.
Sebagian sudah merunduk.
Sebagian lagi tinggal menunggu beberapa hari.
Panen sudah di depan mata.
Saya turun.
Lalu berdiri di pematang.
Diam.
Cukup lama.
Sampai ajudan saya mungkin bertanya-tanya.
Apa yang sedang dilihat Bupati?
Padahal yang saya lihat sederhana.
Padi.
Hanya padi.
Tetapi bagi orang Sidrap, padi tidak pernah sekadar padi.
Ia adalah kehidupan.
Ia adalah ekonomi.
Ia adalah alasan mengapa ribuan keluarga bisa tersenyum.
Ia adalah alasan mengapa warung-warung tetap ramai.
Ia adalah alasan mengapa pasar tetap hidup.
Karena itu saya selalu merasa ada energi berbeda ketika berdiri di tengah sawah.
Terutama sawah yang menguning.
Saya berada di wilayah Dua Pitue dan Pitu Riawa hari itu.
Dua kecamatan yang sejak lama menjadi salah satu kekuatan pertanian Sidrap.
Kalau ada yang bertanya di mana wajah asli Sidrap, saya mungkin akan mengajaknya ke sini.
Bukan ke kantor bupati.
Bukan ke ruang rapat.
Bukan ke podium.
Tapi ke pematang sawah.
Karena di sinilah Sidrap sesungguhnya.
Di tengah bulir-bulir padi yang sedang menunggu dipanen.
Saya melihat jauh ke depan.
Hamparan kuning itu seperti tidak ada ujungnya.
Indah.
Dan jujur saja, saya lega.
Beberapa bulan terakhir, kata yang paling sering saya dengar adalah kemarau.
Kemarau.
Kemarau.
Kemarau.
Kadang sampai bosan mendengarnya.
Petani membicarakan kemarau.
Penyuluh membicarakan kemarau.
Pemerintah membicarakan kemarau.
Seolah-olah kemarau adalah tamu yang tidak diundang tetapi sulit disuruh pulang.
Karena itu saya datang sendiri.
Saya ingin melihat apakah kemarau berhasil mengalahkan petani Sidrap.
Dan setelah melihat langsung, saya punya kesimpulan.
Belum.
Kemarau belum menang.
Setidaknya belum di Dua Pitue dan Pitu Riawa.
Padi-padi itu menjadi buktinya.
Bulirnya padat.
Warnanya bagus.
Pertumbuhannya normal.
Saya bertemu beberapa petani.
Mereka tidak banyak bicara.
Petani memang begitu.
Jarang berpidato.
Jarang membuat pernyataan panjang.
Mereka lebih suka menunjukkan hasil kerjanya.
Dan hasil kerja mereka ada di depan mata saya saat itu.
Sawah yang siap panen.
Kadang saya berpikir, petani adalah profesi yang paling jujur di dunia.
Mereka tidak bisa memanipulasi hasil.
Kalau bekerja baik, sawah akan menunjukkan hasilnya.
Kalau bekerja asal-asalan, sawah juga akan menunjukkan hasilnya.
Sawah tidak mengenal pencitraan.
Sawah hanya mengenal kerja keras.
Dari sawah, saya bergerak menuju Jalan Salodua-Anabana.
Di sinilah saya kembali menemukan alasan untuk optimistis.
Jalan itu berubah.
Sangat berubah.
Saya masih ingat kondisinya dulu.
Saya juga masih ingat keluhan masyarakat.
Sekarang drainasenya sudah terbentuk.
Badan jalannya sudah dipersiapkan.
Tahap pengaspalan semakin dekat.
Saya berjalan menyusuri sebagian ruasnya.
Lalu terlintas satu pikiran.
Jalan dan sawah ternyata mirip.
Keduanya sama-sama menentukan nasib rakyat.
Sawah menghasilkan panen.
Jalan mengantarkan panen itu ke pasar.
Sawah menciptakan produksi.
Jalan mempercepat distribusi.
Kalau salah satunya bermasalah, ekonomi desa ikut tersendat.
Karena itulah saya selalu menempatkan pembangunan jalan dan pertanian dalam satu tarikan napas.
Tidak bisa dipisahkan.
Kalau sawah adalah jantung Sidrap, maka jalan adalah pembuluh darahnya.
Saya lalu menuju Bendungan Bulucenrana.
Air masih menjadi perhatian utama.
Karena saya tahu, panen tahun ini mungkin sudah aman.
Tetapi musim berikutnya harus disiapkan dari sekarang.
Petani tidak hidup untuk satu musim.
Petani hidup dari musim ke musim.
Karena itu pompa harus diperkuat.
Pasokan listrik menuju lahan pertanian harus terus ditingkatkan.
Infrastruktur air harus dijaga.
Pertanian tidak boleh bergantung pada keberuntungan.
Pertanian harus bergantung pada perencanaan.
Menjelang sore, saya kembali melihat hamparan sawah itu.
Kali ini dari kejauhan.
Matahari mulai turun.
Cahayanya memantul di bulir-bulir padi yang menguning.
Indah sekali.
Saya jadi teringat satu hal.
Selama ini banyak orang mengenal Sidrap sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan.
Saya setuju.
Tetapi kadang istilah itu terdengar terlalu formal.
Terlalu administratif.
Terlalu birokratis.
Padahal maknanya sederhana.
Lumbung pangan berarti ada petani yang bekerja sejak subuh.
Ada keluarga yang menggantungkan hidupnya pada sawah.
Ada orang-orang yang tetap turun ke lumpur saat sebagian besar dari kita masih tidur.
Dan hari itu saya melihat mereka.
Melihat kerja keras mereka.
Melihat hasilnya.
Melihat optimisme mereka.
Karena itu saya pulang dengan perasaan bahagia.
Bukan karena proyek berjalan baik.
Bukan karena laporan terlihat bagus.
Tetapi karena saya melihat sendiri bahwa jantung pertanian Sidrap masih berdetak kuat.
Di Dua Pitue.
Di Pitu Riawa.
Di tengah hamparan padi yang menguning.
Dan selama warna kuning itu masih mendominasi sawah-sawah kita, saya percaya masa depan Sidrap akan tetap cerah. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
