Sidrap, Katasulsel.com – Massepe di Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), dikenal luas sebagai salah satu sentra pandai besi. Di rumah-rumah warga, besi ditempa menjadi parang, pisau, sabit, cangkul, kapak, hingga linggis.
Namun, Massepe memiliki cerita yang jauh lebih tua daripada industri pandai besinya.
Dalam tradisi asal-usul Sidenreng, Massépé disebut sebagai salah satu dari delapan wilayah yang menjadi bagian awal pembentukan Sidenreng. Sejarawan Stephen C. Druce mencatat delapan wilayah tersebut dalam tradisi lokal, yakni Teteaji, Watang Sidenreng, Massepe, Allakuang Liseq, Aratang, Guru, dan Lawawoi, bersama satu wilayah lain yang disebut dalam tradisi tersebut.
Catatan itu menempatkan Massepe dalam sejarah Sidenreng jauh sebelum wilayah tersebut dikenal sebagai pusat kerajinan besi.
Massepe dalam Asal-usul Sidenreng
Sejarah awal Sidenreng memiliki lebih dari satu versi.
Dalam kajiannya mengenai kerajaan-kerajaan Ajatappareng, Stephen C. Druce mencatat adanya tradisi asal-usul Sidenreng yang menyebut pembentukan kerajaan berawal dari delapan wilayah pertanian. Masing-masing wilayah memiliki pemimpin sendiri sebelum kemudian bergabung membentuk Sidenreng.
Massepe termasuk di dalam daftar wilayah tersebut.
Tradisi itu juga menunjukkan bahwa pembentukan Sidenreng tidak semata-mata berangkat dari satu pusat kekuasaan. Ada sejumlah permukiman yang telah berkembang dan memiliki pemimpin sebelum terbentuknya kerajaan.
Druce mencatat bahwa delapan wilayah tersebut berada di kawasan subur di sekitar bagian utara dan barat Danau Sidenreng. Dalam tradisi lokal, wilayah-wilayah itu kemudian dipahami sebagai bagian dari proses awal terbentuknya Sidenreng.
Sidenreng dan Rappang sebagai Kerajaan Kembar
Jejak Massepe juga berkaitan dengan hubungan antara Sidenreng dan Rappang.
Penelitian tentang panre bessi di Massepe menyebut Sidenreng dan Rappang dikenal sebagai kerajaan kembar yang diperintah oleh dua raja bersaudara. Sumber tersebut mengutip Panduan Maccera Arajang di Massepe Tahun 2006 yang menjelaskan bahwa batas kedua kerajaan tidak selalu tegas.
Dalam gambaran yang bersumber dari tradisi lokal itu, masyarakat Sidenreng dan Rappang dibedakan melalui arah aliran hasil panen. Padi yang dibawa ke utara dikaitkan dengan wilayah Rappang, sedangkan yang dibawa ke selatan dikaitkan dengan Sidenreng.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa Massepe berada dalam ruang sejarah yang sejak lama berhubungan dengan kehidupan agraris dan struktur kerajaan di kawasan Sidenreng.
Dari Wilayah Kerajaan Menjadi Kampung Pandai Besi
Massepe kemudian dikenal karena tradisi panre bessi, atau pandai besi.
Penelitian Universitas Negeri Makassar menyebut Kelurahan Massepe sebagai salah satu daerah pengrajin pandai besi yang terkenal di Kabupaten Sidenreng Rappang. Keterampilan tersebut berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat setempat.
Para panre bessi di Massepe memproduksi berbagai peralatan berbahan besi, seperti parang, pisau, sabit, cangkul, kapak, dan linggis. Hasil produksinya tidak hanya digunakan masyarakat sekitar, tetapi juga dipasarkan ke luar Kabupaten Sidenreng Rappang.
Penelitian sejarah mengenai perubahan alat produksi juga mencatat bahwa Massepe menjadi pusat industri pandai besi di Kabupaten Sidenreng Rappang. Aktivitas tersebut telah berlangsung secara turun-temurun dan mengalami perubahan teknologi antara 1990 hingga 2017.
Besi yang Ditempa dari Generasi ke Generasi
Tradisi panre bessi membuat sejarah Massepe tidak berhenti pada catatan kerajaan.
Penelitian antropologi terhadap para perajin menunjukkan bahwa kegiatan tersebut membentuk hubungan ekonomi dan sosial di tengah masyarakat. Ada warga yang memasok besi, ada yang mengolahnya, sementara bagian lain membuat gagang kayu untuk peralatan yang dihasilkan.
Peralatan kerja juga mengalami perubahan.
Panre bessi Massepe dahulu menggunakan peralatan tradisional seperti palu, lanraseng, betele, dan sifit. Seiring waktu, sebagian proses produksi mulai menggunakan peralatan yang lebih modern.
Meski teknologi berubah, keterampilan menempa besi tetap bertahan sebagai pekerjaan yang diwariskan.
Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan bahkan menerbitkan buku dwibahasa Panre Bessi ri Massepe pada 2024. Buku tersebut menggambarkan Massepe sebagai kampung dengan banyak pandai besi dan mencatat produk seperti parang, pisau, sabit, linggis, dan cangkul yang dipasarkan hingga ke berbagai daerah.
Massepe dalam Dua Lapisan Sejarah
Sejarah Massepe akhirnya memiliki dua lapisan yang saling berdekatan.
Lapisan pertama berada jauh di masa lalu, ketika Massepe disebut sebagai salah satu wilayah yang ikut membentuk awal Sidenreng dalam tradisi asal-usul kerajaan.
Lapisan kedua terus berlangsung hingga sekarang melalui panre bessi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Di Massepe, sejarah kerajaan tidak hanya tersimpan dalam cerita asal-usul. Jejak kehidupan masyarakat juga terlihat dari suara palu yang menempa besi, peralatan yang dibuat, dan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
