Sidrap, Katasulsel.com – Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 segera diikuti gerakan mempertahankan kemerdekaan di berbagai daerah. Di Sidenreng Rappang (Sidrap), Amparita menjadi salah satu tempat yang tercatat dalam perkembangan gerakan tersebut.
Di wilayah itu terdapat Andi Sulolipu Petta Pabbicara, tokoh Sidenreng yang terlibat dalam pergerakan politik dan pendidikan. Buku Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mencatat Andi Sulolipu sebagai Raja Sidenreng ketika itu. Buku tersebut juga menyebut dukungan Andi Sulolipu serta penerangan para guru lembaga pendidikan Nasrul Hak di Amparita membantu memperkuat dukungan masyarakat terhadap Proklamasi.
Jejak Pergerakan Sebelum Proklamasi
Aktivitas Andi Sulolipu dalam pergerakan kemerdekaan tidak baru muncul setelah 17 Agustus 1945.
Buku Sejarah Berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mencatat bahwa pada 1928 Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) telah berdiri di Teteaji, wilayah Sidenreng. Tidak lama kemudian, pimpinan PSII Haji Umar Said Tjokroaminoto berkunjung ke Teteaji dan berbincang dengan Andi Sulolipu mengenai perjuangan menuju kemerdekaan.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa gagasan mengenai kemerdekaan telah beredar di Sidenreng jauh sebelum Proklamasi.
Amparita juga memiliki lembaga pendidikan Nasrul Hak. Para guru di lembaga tersebut, salah satunya Usman Isa, disebut turut memberikan penerangan kepada masyarakat mengenai Proklamasi.
Pendidikan dan organisasi menjadi dua ruang yang kemudian mempertemukan gagasan kebangsaan dengan kehidupan masyarakat setempat.
PNI Berpusat di Amparita
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, aktivitas politik di Amparita semakin terlihat.
Catatan sejarah lokal mengenai Andi Sulolipu menyebut ia mengajukan gagasan pembentukan Partai Nasional Indonesia (PNI) di Sidenreng dengan pusat kegiatan di Amparita. Menurut catatan tersebut, Andi Sulolipu kemudian menemui Sam Ratulangi di Makassar dan mendapat dukungan untuk membentuk organisasi tersebut.
Catatan yang sama menyebut Mr. Tadjuddin Noor kemudian menyertai Andi Sulolipu dalam pembentukan PNI di Amparita. Andi Sulolipu tercatat sebagai ketua umum, bersama sejumlah tokoh lain dalam kepengurusan organisasi.
Sumber lokal itu juga mencatat anggota PNI tidak hanya berasal dari Amparita. Masyarakat dari sejumlah daerah seperti Enrekang, Soppeng, Pinrang, dan Wajo disebut datang untuk mendaftarkan diri.
Sementara itu, buku sejarah Proklamasi mencatat keberadaan PNI yang didirikan Andi Sulolipu di Amparita turut memperkuat semangat kemerdekaan di Sidenreng.
Rapat Pejuang di Amparita
Amparita kemudian menjadi tempat pertemuan sejumlah tokoh perjuangan Sidenreng.
Catatan sejarah lokal menyebut pada Oktober 1945 Andi Sulolipu, sebagai ketua umum PNI, mengundang sejumlah tokoh pejuang ke Amparita. Di antaranya Andi Cammi dan Andi Nohong dari Rappang, Andi Takko dari Tanrutedong, Andi Nemba dari Pangkajene, Andi Abdul Latif dari Bilokka, Abdul Gani Rasul dari Massepe, serta M. Abduh Pabbaja dari Allakuang.
Sumber tersebut menyebut pertemuan membahas pembagian wilayah pertahanan Sidenreng Rappang dan dukungan terhadap pengangkatan Sam Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi. Setelah pertemuan, para peserta disebut mengikuti pengibaran Merah Putih di halaman Rumah Adat Bola Lampe’e di Amparita.
Rincian pertemuan tersebut berasal dari dokumentasi sejarah lokal. Karena itu, informasi tersebut digunakan sebagai catatan mengenai riwayat perjuangan Andi Sulolipu, bukan sebagai dasar tunggal untuk seluruh kronologi perjuangan di Sidrap.
Andi Sulolipu dan Jejak Perjuangan di Amparita
Kisah Andi Sulolipu memperlihatkan bahwa gerakan mempertahankan kemerdekaan di Sidrap memiliki akar yang lebih panjang daripada peristiwa setelah Proklamasi.
Sebelum 1945, organisasi PSII telah berkembang di Teteaji. Di Amparita, lembaga pendidikan Nasrul Hak menjadi ruang penyebaran pengetahuan. Setelah Proklamasi, PNI kemudian hadir sebagai wadah politik yang berpusat di Amparita.
Rangkaian itu menempatkan Andi Sulolipu di antara tokoh yang menghubungkan aktivitas pendidikan, organisasi, dan gerakan kemerdekaan di Sidenreng.
Nama Andi Sulolipu Masih Digunakan
Jejak Andi Sulolipu masih terlihat di Amparita hingga sekarang.
Pemerintah Kabupaten Sidrap mencatat Lapangan Andi Sulolipu di Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, masih digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Pada Februari 2026, lapangan tersebut menjadi lokasi Festival Simponi Kecaping yang dihadiri jajaran pemerintah daerah.
Pada Mei 2026, Lapangan Andi Sulolipu kembali menjadi titik kegiatan jalan santai dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional tingkat Kecamatan Tellu Limpoe.
Catatan sejarah lokal juga menyebut Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang membangun Monumen Perjuangan Andi Sulolipu di Amparita. Monumen tersebut disebut diresmikan pada 10 Agustus 1998.
Nama Andi Sulolipu dengan demikian masih hadir di ruang publik Amparita. Di tempat yang sama, catatan sejarah menghubungkan namanya dengan pendidikan, organisasi politik, dan gerakan mempertahankan kemerdekaan pada masa awal Republik.
