Sidrap, Katasulsel.com – Sejarah Rappang tidak hanya menyimpan cerita tentang kerajaan dan peperangan. Pada awal abad ke-20, kawasan ini juga menjadi salah satu tempat berkembangnya pendidikan Islam di Sulawesi Selatan.

Salah satu tokoh yang berada di balik perkembangan itu adalah Syekh Ali Mathar. Ia mendirikan Madrasah Aunur Rafieq di Rappang pada awal 1930-an. Dari lembaga pendidikan tersebut, lahir sejumlah murid yang kemudian dikenal sebagai ulama, termasuk KH Abdul Muin Yusuf dan KH Ali Yafie.

Madrasah Aunur Rafieq di Rappang

Madrasah Aunur Rafieq menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Rappang.

Penelitian UIN Alauddin mencatat madrasah tersebut didirikan Syekh Ali Mathar pada 1931. Sementara kajian lain menyebut pendiriannya sekitar 1930. Karena terdapat perbedaan satu tahun dalam sumber, periode yang paling aman disebut awal 1930-an.

Madrasah itu berada di sekitar Masjid Raya Rappang.

Pada masa tersebut, pendidikan agama menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mempelajari Al-Qur’an dan ilmu keislaman. Aunur Rafieq kemudian menjadi tempat belajar bagi anak-anak dari Rappang dan daerah di sekitarnya.

Dari lembaga tersebut, terbentuk jaringan guru dan murid yang kemudian terhubung dengan pusat-pusat pendidikan Islam lain di Sulawesi Selatan.

Abdul Muin Yusuf Pernah Belajar di Sana

Salah satu murid Syekh Ali Mathar yang memiliki jejak panjang dalam sejarah pendidikan Islam Sulawesi Selatan adalah KH Abdul Muin Yusuf.

Abdul Muin lahir di Rappang pada 21 Mei 1920. Pada masa kecil, ia belajar mengaji kepada Haji Patang. Ia kemudian bersekolah pada pagi hari dan mengikuti pendidikan agama di Madrasah Aunur Rafieq pada sore hari.

Syekh Ali Mathar juga memiliki hubungan keluarga dengan Abdul Muin Yusuf. Ia merupakan paman sekaligus guru yang memberikan dasar pendidikan agama kepada Abdul Muin.

Penelitian mengenai Abdul Muin Yusuf mencatat bahwa proses belajar itu tidak hanya berlangsung di madrasah. Abdul Muin juga mendapatkan bimbingan dari pamannya di rumah.

Pendidikan di Rappang kemudian menjadi salah satu tahap dalam perjalanan keilmuannya sebelum Abdul Muin melanjutkan pendidikan ke Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang di bawah asuhan AGH Muhammad As’ad.

Dari Rappang ke Sengkang

Perjalanan Abdul Muin memperlihatkan bahwa pendidikan Islam di Rappang terhubung dengan jaringan keilmuan yang lebih luas.

Setelah belajar di Aunur Rafieq, ia melanjutkan pendidikan ke MAI Sengkang. Di sana ia berguru kepada Muhammad As’ad, salah satu ulama penting dalam perkembangan pendidikan Islam Sulawesi Selatan.

Abdul Muin kemudian dikenal sebagai ulama, qadhi, dan mufasir. Ia juga menulis tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Bugis.

Rappang menjadi salah satu tempat awal dalam perjalanan pendidikan tersebut.

Ali Yafie Juga Belajar di Rappang

Nama lain yang tercatat memiliki hubungan dengan Madrasah Aunur Rafieq adalah KH Ali Yafie.

NU Online mencatat Ali Yafie pernah belajar di Pesantren Aunur Rofiq di Sidenreng Rappang di bawah asuhan Syekh Ali Mathar pada 1939–1943.

Setelah dari Rappang, perjalanan pendidikan Ali Yafie berlanjut kepada sejumlah ulama di Sulawesi Selatan.

Ia kemudian dikenal sebagai ahli fikih, akademisi, dan tokoh Nahdlatul Ulama. Dalam perjalanan karier akademiknya, Ali Yafie pernah menjadi rektor IAIN Ujung Pandang dan terlibat dalam berbagai lembaga pendidikan serta keagamaan.

Nama Syekh Ali Mathar pun muncul dalam riwayat pendidikan tokoh yang kelak memiliki pengaruh di tingkat nasional.

Rappang dalam Jaringan Ulama

Kisah Syekh Ali Mathar menunjukkan posisi Rappang dalam perkembangan pendidikan Islam pada awal abad ke-20.

Rappang bukan hanya tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan masyarakat. Di sana terdapat guru, murid, dan lembaga pendidikan yang menghubungkan wilayah tersebut dengan pusat-pusat keilmuan lain.

Kajian Jurnal Pusaka menempatkan Syekh Ali Mathar sebagai salah satu ulama yang memberi pengaruh terhadap kehidupan keagamaan di Sidenreng Rappang, khususnya Rappang. Kajian tersebut juga menyebut peran Syekh Ali Mathar bersama Syekh Jamal Usman Padaelo dalam pembentukan dasar keagamaan Abdul Muin Yusuf sebelum melanjutkan pendidikan ke Sengkang.

Hubungan guru dan murid menjadi salah satu cara melihat bagaimana pengetahuan keislaman berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Warisan yang Tidak Berupa Bangunan Saja

Jejak Syekh Ali Mathar tidak berhenti pada nama sebuah madrasah.

Yang lebih panjang adalah hubungan keilmuan yang muncul dari sana. Abdul Muin Yusuf melanjutkan pendidikan dan kemudian dikenal sebagai ulama serta mufasir. Ali Yafie menempuh perjalanan keilmuan hingga menjadi salah satu tokoh penting dalam dunia pendidikan dan keagamaan Indonesia.

Keduanya memiliki perjalanan masing-masing.

Namun, salah satu titik yang mempertemukan keduanya adalah Rappang dan lingkungan pendidikan yang dibangun Syekh Ali Mathar.

Madrasah Aunur Rafieq menjadi salah satu titik dalam perjalanan pendidikan Islam Rappang yang kemudian terhubung dengan kiprah Abdul Muin Yusuf dan Ali Yafie di tingkat yang lebih luas.