Sidrap, Katasulsel.com – Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, perang belum berhenti di Sulawesi Selatan. Di Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, rakyat kembali menghadapi pasukan Belanda yang datang bersama NICA.
Pada Juli 1946, ribuan orang bergerak menuju Rappang. Senjata mereka jauh dari perlengkapan militer modern. Sebagian besar hanya membawa bambu runcing dan senjata sederhana.
Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Serangan Bambu Runcing Rappang.
Serangan berlangsung selama tiga hari, 10 hingga 12 Juli 1946, dengan Rappang sebagai salah satu titik pertahanan penting NICA di kawasan Ajatappareng. Sumber akademik UIN Alauddin mencatat sekitar 6.000 orang terlibat dalam penyerbuan tersebut.
Rappang Menjadi Titik Pertahanan NICA
Setelah Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pasukan NICA kembali masuk ke berbagai wilayah Indonesia.
Sulawesi Selatan tidak luput dari situasi tersebut.
Di kawasan Ajatappareng, Rappang menjadi salah satu titik penting karena wilayah ini berada dalam jaringan pemerintahan dan pertahanan yang mencakup Sidenreng Rappang, Parepare, Pinrang, Barru, dan Enrekang.
Penelitian sejarah mencatat bahwa perlawanan terhadap NICA di Rappang kemudian berkembang melalui organisasi perjuangan lokal bernama Badan Perjuangan Ganggawa, yang dipimpin Andi Cammi.
Andi Cammi merupakan pemuda kelahiran Rappang yang kemudian menjadi salah satu tokoh utama dalam perlawanan bersenjata di wilayah tersebut.
Dari Ganggawa hingga Serangan Bambu Runcing
Badan Perjuangan Ganggawa dibentuk pada 20 November 1945.
Organisasi ini tidak hanya bergerak di Rappang. Wilayah operasinya meliputi Sidenreng Rappang dan daerah sekitarnya, kemudian meluas hingga sejumlah wilayah lain di Sulawesi Selatan.
Sebelum serangan besar ke Rappang, kelompok ini telah terlibat dalam sejumlah perlawanan terhadap NICA.
Karena itu, Serangan Bambu Runcing bukan peristiwa yang muncul tiba-tiba.
Ia merupakan bagian dari rangkaian perlawanan yang sebelumnya telah berlangsung di beberapa tempat.
Enam Ribu Orang Bergerak
Serangan ke Rappang menjadi salah satu aksi terbesar dalam rangkaian perjuangan tersebut.
Sumber akademik UIN Alauddin mencatat sekitar 6.000 orang dikerahkan. Sebagian besar pasukan menggunakan bambu runcing sebagai senjata.
Jumlah tersebut memperlihatkan besarnya mobilisasi masyarakat.
Mereka menghadapi pasukan yang memiliki persenjataan lebih modern dengan perlengkapan yang sangat terbatas.
Dalam catatan mengenai perjuangan di Rappang, serangan berlangsung selama tiga hari. Pasukan bergerak dari sejumlah arah untuk menekan posisi NICA yang bertahan di kota.
Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Serangan Bambu Runcing.
Ada Peran Anregurutta Abdul Muin Yusuf
Di balik mobilisasi tersebut terdapat pula peran seorang ulama muda Rappang, KH Abdul Muin Yusuf, yang kemudian dikenal sebagai Anregurutta Kali Sidenreng.
Ia bukan komandan lapangan.
Namun, sejumlah sumber akademik mencatat keterlibatannya dalam menggerakkan masyarakat dan berkomunikasi dengan Andi Cammi, pemimpin Badan Perjuangan Ganggawa.
Pada masa itu, Abdul Muin Yusuf juga menjalankan perannya sebagai qadhi di Sidenreng Rappang.
Perannya memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Rappang tidak hanya berlangsung melalui pertempuran bersenjata.
Tokoh agama, pemuda, dan masyarakat juga terlibat dalam jaringan perjuangan dengan peran yang berbeda.
Setelah Serangan, Perlawanan Berlanjut
Serangan Bambu Runcing bukan akhir dari perjuangan Ganggawa.
Pertempuran masih berlangsung di sejumlah tempat di Sidrap.
Salah satunya terjadi di Carawali pada Agustus 1946. Dalam pertempuran tersebut, Andi Cammi dan sejumlah anggota pasukannya menjadi korban. Sumber yang menghimpun riwayat perjuangan Ganggawa mencatat Andi Cammi gugur dalam pertempuran tersebut.
Kematian Andi Cammi tidak langsung menghentikan perlawanan.
Gerakan Ganggawa tetap berlanjut dalam menghadapi NICA di berbagai wilayah.
Rappang dan Ingatan tentang Perjuangan
Nama Serangan Bambu Runcing masih dapat ditemukan dalam ruang publik Sidrap.
Bahkan, terdapat Monumen Bambu Runcing di kawasan Pangkajene yang berkaitan dengan ingatan atas perjuangan tersebut. Sumber penelitian mengenai Abdul Muin Yusuf juga menyebut pembangunan monumen itu sebagai bentuk pengingat terhadap peristiwa Serangan Bambu Runcing.
Namun, kisahnya tidak hanya tentang sebuah monumen.
Di Rappang, pada 1946, ribuan orang pernah bergerak menghadapi pasukan NICA dengan persenjataan yang sangat terbatas.
Ada Andi Cammi yang memimpin laskar. Ada Abdul Muin Yusuf yang ikut menggerakkan masyarakat. Ada pula ribuan warga yang datang membawa bambu runcing.
Tiga hari pada Juli 1946 itu menjadi salah satu episode dalam sejarah Sidrap setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Rappang pernah menjadi medan pertempuran ketika kemerdekaan yang telah diproklamasikan harus dipertahankan dengan senjata seadanya.
