Perang Sidenreng 1905, Saat Belanda Menyerang dan La Sadapotto Bertahan
Sidrap, Katasulsel.com – Sebelum menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang, wilayah Sidrap merupakan kawasan kerajaan yang terdiri atas Sidenreng dan Rappang. Pada 1905, keduanya menghadapi ekspedisi militer Pemerintah Hindia Belanda yang menjadi bagian dari upaya memperluas kekuasaan kolonial di Sulawesi Selatan.
Di tengah perang tersebut, nama La Sadapotto menjadi salah satu tokoh penting. Ia merupakan Addatuang Sidenreng sekaligus Arung Rappang. Arsip pemerintah kolonial Belanda juga mencatat La Sadapotto sebagai penguasa Sidenreng setelah menggantikan saudaranya, yang wafat pada 1904.
Perlawanan kemudian berlangsung di sejumlah tempat, termasuk Lajawa, Kape, dan Allakuang.
Belanda Menyerang Sidenreng
Ekspansi Belanda ke wilayah Sidenreng berlangsung dalam rangkaian operasi militer terhadap kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada 1905.
Penelitian sejarah Universitas Hasanuddin mencatat bahwa pada 21 Oktober 1905, pasukan Belanda menyerang pertahanan laskar Ajatappareng di Lajawa, Kape, dan Allakuang.
Pertempuran terjadi di beberapa titik sekaligus.
Di Lajawa, pertempuran menelan korban dari pihak laskar. Salah satunya Pabbicara Ambona La Baju, yang gugur dalam pertempuran tersebut.
Nama La Baju penting dalam cerita perang Sidenreng karena ia merupakan salah satu pemimpin pertahanan yang berada di garis depan ketika pasukan Belanda berusaha masuk ke wilayah kerajaan.
Lajawa Menjadi Salah Satu Titik Pertahanan
Lajawa menjadi salah satu kawasan yang berusaha dipertahankan pasukan Sidenreng dan Rappang.
Dalam catatan sejarah lokal yang merujuk pada tradisi dan sumber mengenai perang tersebut, La Baju ditempatkan untuk mempertahankan jalur selatan menuju wilayah Sidenreng. Sumber tersebut juga mencatat adanya tiga jalur pertahanan yang dijaga oleh para Pabbicara Sidenreng.
Namun, pertahanan itu akhirnya dapat ditembus.
Penelitian Unhas mencatat bahwa setelah pertempuran pada 21 Oktober, pasukan Belanda berhasil menduduki Allakuang pada 22 Oktober 1905. Allakuang saat itu merupakan pusat Kerajaan Sidenreng.
Jatuhnya Allakuang menjadi titik penting dalam perang tersebut.
La Sadapotto Menolak Kehadiran Belanda
La Sadapotto berada pada posisi sulit setelah pertahanan Sidenreng semakin terdesak.
Ia bukan hanya penguasa Sidenreng, tetapi juga memegang pemerintahan Rappang. Arsip kolonial Belanda menyebut bahwa setelah dirinya menggantikan saudaranya pada 1904, La Parenrengi Karaeng TinggimaΓ« ditetapkan sebagai calon penerus pemerintahan Sidenreng.
Dalam penelitian Unhas, La Sadapotto disebut menolak kehadiran pemerintahan Hindia Belanda. Setelah kekalahan dalam pertempuran, putranya, La Tjibu, kemudian mewakili Addatuang Sidenreng dalam penandatanganan korte verklaring pada 25 Oktober 1905.
Korte verklaring merupakan pernyataan pendek yang digunakan pemerintah kolonial Belanda untuk mengikat kerajaan-kerajaan pribumi dalam hubungan politik dengan pemerintah kolonial.
Penandatanganan itu dilakukan setelah posisi militer Sidenreng dan Rappang semakin melemah.
Perlawanan Tidak Langsung Berhenti
Jatuhnya Allakuang tidak berarti seluruh perlawanan langsung berakhir.
Penelitian Unhas mencatat bahwa sejumlah laskar Ajatappareng masih menolak menyerah dan melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda. Nama yang disebut antara lain La Pakkanna dan sejumlah pimpinan laskar lainnya.
Sumber sejarah lain mencatat La Parenrengi Karaeng TinggimaΓ« bersama sejumlah komandan pasukan melanjutkan perlawanan setelah La Sadapotto menyerah. Pertempuran kembali terjadi di Langcirang pada 5 Desember 1905.
Sehari kemudian, La Parenrengi ditangkap Belanda menurut sumber sejarah tersebut.
Kronologi perang ini memang ditemukan dalam beberapa versi sumber sekunder. Karena itu, detail yang berbeda tidak seharusnya dicampur menjadi satu rangkaian peristiwa tanpa penanda sumber.
La Sadapotto dan Berakhirnya Kekuasaan Kerajaan
Setelah aksi militer Belanda, kedudukan pemerintahan Sidenreng berubah.
Catatan dalam Adatrechtbundels menyebut bahwa setelah tindakan militer terhadap Sidenreng, La Sadapotto melepaskan pemerintahan dan kemudian digantikan oleh putranya, La Tjeboe atau La Tjibu.
Sumber kolonial lain juga mencatat bahwa penguasa Sidenreng yang sebelumnya melarikan diri kemudian melepaskan kedudukannya, sementara pemerintahan selanjutnya berada di tangan anggota keluarganya yang menerima ketentuan yang ditetapkan pemerintah kolonial.
Perubahan tersebut menunjukkan dampak perang terhadap struktur politik Sidenreng dan Rappang.
Perang tidak hanya menghasilkan kekalahan militer. Kekuasaan kerajaan juga perlahan bergeser di bawah kendali pemerintahan kolonial.
Nama-Nama yang Tertinggal dari Perang
Perang Sidenreng 1905 meninggalkan sejumlah nama dalam catatan sejarah Sidrap.
Ada La Sadapotto sebagai penguasa Sidenreng dan Rappang. Ada La Parenrengi yang terlibat dalam perlawanan. Ada pula Pabbicara Ambona La Baju yang gugur dalam pertempuran di Lajawa.
Tempat-tempat seperti Lajawa, Kape, dan Allakuang juga tercatat sebagai bagian dari rangkaian pertempuran ketika pasukan Belanda berusaha menguasai wilayah Sidenreng dan Rappang.
Peristiwa itu terjadi lebih dari satu abad lalu, ketika Sidrap masih terdiri atas kerajaan-kerajaan dengan pemerintahan sendiri.
Jauh sebelum nama Sidenreng Rappang menjadi nama sebuah kabupaten, wilayah ini pernah menjadi medan perlawanan ketika kekuasaan kolonial Belanda datang membawa pasukan dan menuntut perubahan hubungan politik.
Perang 1905 itu kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Sidenreng dan Rappang menuju masa kolonial.
