Tana Toraja, Katasulsel.com – Di Kambira, Tana Toraja, ada sebuah pohon yang menyimpan cerita tentang cara masyarakat Toraja pada masa lalu memperlakukan kematian bayi. Pohon itu disebut Tarra’ dan menjadi tempat pemakaman bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi.
Tradisi tersebut dikenal sebagai Passiliran. Berbeda dari pemakaman pada umumnya, jenazah bayi ditempatkan di dalam batang pohon yang masih hidup. Praktik ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Toraja pada masa ketika Aluk Todolo masih menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Bayi Dikembalikan ke Pohon
Passiliran diperuntukkan bagi bayi yang meninggal sebelum memiliki gigi.
Dalam kepercayaan masyarakat Toraja masa lalu, bayi yang belum tumbuh gigi dianggap masih suci. Karena itu, kematian mereka diperlakukan dengan cara yang berbeda.
Pohon Tarra’ dipilih sebagai tempat pemakaman. Getahnya yang berwarna putih dianggap menyerupai air susu ibu. Pohon kemudian dipandang sebagai ruang yang dapat menerima kembali bayi ke alam.
Gagasan tersebut membuat pemakaman di Kambira memiliki hubungan erat dengan simbol ibu dan kehidupan.
Bayi tidak ditempatkan di dalam tanah seperti pemakaman biasa. Jenazah justru diletakkan di dalam tubuh pohon yang terus tumbuh.
Batang Pohon Dilubangi
Proses pemakaman dilakukan dengan membuat ceruk pada batang pohon.
Setelah jenazah bayi ditempatkan di dalamnya, bagian tersebut ditutup. Seiring waktu, pohon terus tumbuh dan bagian batang di sekitar ceruk mengalami perubahan.
Sumber Visit Toraja mencatat bahwa makam-makam di Kambira kini telah berusia lebih dari 50 tahun. Pemakaman dengan cara tersebut juga sudah tidak dilakukan lagi.
Dengan demikian, pohon-pohon yang masih dapat ditemui di Kambira sekarang merupakan tinggalan dari praktik pemakaman masa lalu.
Mengapa Pohon Tarra’?
Pemilihan pohon tidak dilakukan secara sembarangan.
Pohon Tarra’ memiliki getah berwarna putih yang dalam pemaknaan masyarakat dikaitkan dengan air susu ibu. Karena itu, pohon tersebut memiliki hubungan simbolis dengan gagasan tentang seorang bayi yang kembali kepada alam.
Dalam penelitian mengenai Passiliran, pohon Tarra’ juga disebut sebagai bagian penting dari kepercayaan bahwa bayi yang telah meninggal akan kembali tumbuh seiring dengan pertumbuhan pohon.
Kepercayaan tersebut menunjukkan bagaimana alam dan kematian ditempatkan dalam satu pemahaman.
Pohon bukan hanya tempat menyimpan jenazah. Ia menjadi bagian dari proses mengembalikan bayi kepada kehidupan yang dipercaya terus berlangsung melalui alam.
Tradisi yang Berhenti
Passiliran kini tidak lagi menjadi praktik pemakaman masyarakat Kambira.
Penelitian dari Institut Agama Kristen Negeri Toraja mencatat bahwa tradisi tersebut tidak lagi digunakan setelah masyarakat Kambira memeluk agama Kristen.
Karena itu, Kambira hari ini lebih banyak menjadi tempat untuk melihat jejak tradisi tersebut daripada menyaksikan pelaksanaannya.
Yang tersisa adalah pohon, ceruk pemakaman, serta pengetahuan masyarakat mengenai praktik yang pernah dilakukan leluhur mereka.
Perubahan tersebut juga memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu bertahan dalam bentuk yang sama. Perubahan keyakinan dan kehidupan sosial turut memengaruhi cara masyarakat memperlakukan kematian.
Pohon yang Menyimpan Ingatan
Kambira menarik bukan karena pemakamannya masih dilakukan.
Justru karena tradisi itu telah berhenti, pohon-pohon di kawasan tersebut menjadi semacam arsip kehidupan masyarakat Toraja pada masa lalu.
Batang pohon yang terus tumbuh menyimpan bekas ceruk pemakaman. Di sana terdapat kisah tentang bayi, keluarga, kepercayaan, dan hubungan manusia dengan alam.
Passiliran juga memperlihatkan bahwa cara masyarakat memahami kematian tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan keyakinan, hubungan keluarga, serta pandangan mengenai kehidupan setelah kematian.
Di Kambira, semua itu tersimpan pada sebuah pohon yang masih berdiri.
Tradisi pemakamannya telah lama berhenti. Namun, jejaknya tetap tumbuh bersama pohon Tarra’ yang menjadi bagian dari ingatan masyarakat Toraja.
