Toraja Utara, Katasulsel.com – Di sejumlah wilayah Toraja, hubungan keluarga tidak berhenti ketika seseorang meninggal dunia. Ada tradisi yang memperlihatkan bagaimana orang yang telah meninggal tetap ditempatkan dalam ruang kehidupan keluarga. Tradisi itu dikenal sebagai Ma’nene.
Dalam ritual tersebut, keluarga membuka kembali tempat penyimpanan jenazah leluhur, membersihkan jasad, lalu mengganti pakaian atau kain yang membungkusnya sebelum jenazah dikembalikan ke tempat semula.
Tradisi ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Toraja, terutama di sejumlah wilayah Toraja Utara. Penelitian etnografi Universitas Hasanuddin mencatat Ma’nene sebagai ritual yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, simbol, kepercayaan, dan hubungan sosial keluarga.
Ma’nene Bukan Sekadar Membersihkan Jenazah
Dari luar, Ma’nene mungkin terlihat seperti ritual membersihkan dan mengganti pakaian jenazah.
Namun, bagi keluarga yang melaksanakannya, terdapat makna yang lebih panjang.
Penelitian mengenai Ma’nene menunjukkan ritual tersebut berkaitan dengan penghormatan dan perhatian kepada leluhur. Hubungan antara anggota keluarga yang masih hidup dengan mereka yang telah meninggal dipandang tetap memiliki tempat dalam kehidupan sosial.
Karena itu, jenazah tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari keluarga.
Ada pertemuan kembali, meskipun orang yang ditemui telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya.
Jenazah Disimpan di Patane atau Liang
Salah satu tempat yang berkaitan dengan Ma’nene adalah patane.
Patane merupakan bangunan atau tempat penyimpanan jenazah keluarga. Di wilayah lain, jenazah juga dapat ditempatkan pada liang batu atau lokasi pemakaman yang menjadi bagian dari tradisi setempat.
Ketika ritual dilaksanakan, keluarga membuka tempat tersebut untuk mengambil jenazah.
Dalam beberapa pelaksanaan, pemuka adat terlebih dahulu memimpin doa sebelum proses dilakukan. Setelah itu, jenazah dikeluarkan, dibersihkan, dan pakaian atau kainnya diganti.
Setelah seluruh rangkaian selesai, jenazah kembali ditempatkan di tempat penyimpanannya.
Mengapa Pakaian Jenazah Diganti?
Penggantian pakaian merupakan bagian yang paling mudah dikenali dari Ma’nene.
Keluarga menyiapkan pakaian atau kain baru untuk dikenakan kepada leluhur. Jenazah yang telah lama disimpan kemudian dibersihkan sebelum pakaian tersebut dikenakan.
Tindakan itu memiliki makna simbolik.
Penelitian tentang Ma’nene melihat proses tersebut sebagai bentuk kasih sayang, penghormatan, dan penghargaan terhadap leluhur. Dengan merawat tubuh mereka, keluarga menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan tidak dianggap selesai hanya karena kematian.
Dalam konteks itu, pakaian bukan sekadar benda yang dikenakan.
Ia menjadi bagian dari cara keluarga memperlakukan leluhur.
Ada Perbedaan Pelaksanaan di Setiap Wilayah
Ma’nene tidak memiliki satu bentuk pelaksanaan yang sepenuhnya sama di seluruh Toraja.
Penelitian sejarah mengenai Ma’nene di Desa Tonga’riu, Kecamatan Sesean Suloara, Toraja Utara, menunjukkan adanya perubahan pelaksanaan dari masa ketika masyarakat berpegang pada Aluk Todolo hingga ketika sebagian masyarakat menjalankan kehidupan keagamaan dalam tradisi Kristen.
Karena itu, istilah dan rangkaian ritual dapat berbeda menurut wilayah dan latar belakang masyarakat yang melaksanakannya.
Situs resmi Jadesta juga mencatat Ma’nenek sebagai atraksi budaya di Desa Wisata Landorundun, Toraja Utara. Di tempat tersebut, ritual dijelaskan sebagai kegiatan mengganti pakaian dan menjemur jenazah leluhur di luar tempat penyimpanannya.
Artinya, tidak tepat menganggap semua komunitas Toraja menjalankan Ma’nene dengan tata cara yang persis sama.
Tidak Selalu Dilakukan Setiap Tahun
Ma’nene juga bukan ritual yang otomatis dilakukan setiap tahun oleh semua keluarga.
Menurut penjelasan pemangku adat yang dikutip detikSulsel, pelaksanaan dahulu dapat dilakukan setiap tahun. Namun, musyawarah adat kemudian memungkinkan pelaksanaan dilakukan sekitar tiga tahun sekali karena membutuhkan biaya dan tidak semua anggota keluarga tinggal di Toraja.
Kondisi keluarga yang tersebar di berbagai daerah juga menjadi pertimbangan.
Ma’nene pada akhirnya menjadi salah satu kesempatan bagi anggota keluarga yang tinggal di perantauan untuk kembali berkumpul di kampung halaman.
Dengan demikian, ritual tersebut memiliki fungsi sosial selain fungsi adat.
Ada Doa, Jamuan, dan Pertemuan Keluarga
Rangkaian Ma’nene tidak hanya berisi proses membuka makam dan mengganti pakaian.
Dalam sejumlah pelaksanaan, keluarga juga berkumpul dan menyiapkan makanan serta kebutuhan ritual lainnya.
Penelitian etnografi Universitas Hasanuddin menemukan berbagai simbol yang hadir dalam pelaksanaan Ma’nene, antara lain pakaian dan kain, hewan seperti babi dan kerbau, beras, rokok, tikar, serta perlengkapan sirih.
Benda-benda tersebut menunjukkan bahwa ritual berlangsung sebagai kegiatan bersama.
Ada keluarga yang datang dari berbagai tempat, ada doa yang dipanjatkan, ada persiapan makanan, dan ada ruang untuk kembali bertemu dengan kerabat.
Cerita Pong Rumasek
Ma’nene juga memiliki cerita asal-usul yang diwariskan dalam masyarakat Toraja.
Salah satu versi berkaitan dengan seorang pemburu bernama Pong Rumasek.
Dalam cerita tersebut, Pong Rumasek menemukan jasad seseorang di tengah perjalanan. Ia kemudian merawat jasad tersebut dan memberinya pakaian yang layak sebelum menguburkannya.
Setelah kembali ke rumah, ia disebut mendapatkan keberuntungan pada pertaniannya.
Cerita Pong Rumasek menjadi salah satu kisah yang menjelaskan bagaimana tradisi merawat orang yang telah meninggal dikaitkan dengan masyarakat Toraja. Namun, kisah tersebut merupakan cerita tradisional, bukan bukti sejarah mengenai asal-usul Ma’nene.
Kematian Tidak Memutus Hubungan Keluarga
Di balik pemandangan jenazah yang dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terdapat gagasan mengenai hubungan keluarga.
Kajian tentang Ma’nene menemukan bahwa ritual tersebut digunakan untuk mempertahankan hubungan dengan leluhur sekaligus memperkenalkan anggota keluarga yang lebih muda kepada orang-orang yang telah meninggal lebih dahulu.
Anak-anak dan generasi muda dapat mengetahui siapa leluhur yang jasadnya disimpan di tempat tersebut.
Dengan begitu, makam bukan hanya menjadi tempat menyimpan orang yang telah meninggal.
Ia juga menjadi ruang untuk mengingat hubungan kekerabatan.
Tradisi yang Berubah Mengikuti Masyarakat
Ma’nene tidak berhenti sebagai praktik masa lalu.
Penelitian terbaru menunjukkan tradisi tersebut masih dipraktikkan sebagian masyarakat Toraja, termasuk komunitas yang kini memeluk agama Kristen. Pada saat yang sama, bentuk dan pemaknaan ritual dapat mengalami perubahan sesuai konteks sosial dan keagamaan masyarakat.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu bertahan dengan bentuk yang sama.
Yang dipertahankan dapat berupa penghormatan kepada leluhur, pertemuan keluarga, serta ingatan mengenai hubungan kekerabatan.
Di Toraja, Ma’nene memperlihatkan cara sebagian masyarakat memandang kematian bukan sebagai titik putus hubungan keluarga, melainkan bagian dari perjalanan kekerabatan yang terus diingat.
