Toraja Utara, Katasulsel.com — Dua tongkonan dan deretan lumbung padi berdiri di atas sebuah bukit di Kelurahan Ba’tan, Kecamatan Kesu’, Toraja Utara. Di balik bentuknya sebagai kampung adat Toraja, Buntu Pune menyimpan sejarah tentang bangsawan, pertahanan, hingga perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda.
Buntu Pune merupakan situs cagar budaya peringkat nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.09/PW.007/MKP/2010. Situs ini berada sekitar tiga kilometer dari pusat Rantepao.
Nama Buntu Pune berasal dari dua kata. Dalam bahasa Toraja, buntu berarti bukit, sedangkan pune merujuk pada pakis tiang yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut.
Dibangun Pong Maramba pada 1880
Pemukiman Buntu Pune dibangun sekitar 1880 oleh Siambe’ Pong Maramba’, seorang bangsawan yang berpengaruh di Toraja pada periode tersebut.
Buntu Pune menjadi salah satu kediaman Pong Maramba bersama keluarga dan para pengawalnya. Namun, posisi di atas bukit membuat kawasan ini juga memiliki fungsi pertahanan.
Puncak bukit digunakan sebagai tempat pengintaian, sementara bagian lereng dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan. Kondisi alam berupa bukit karst turut mendukung fungsi tersebut.
Di kawasan itu terdapat dua tongkonan, yakni Tongkonan Kamiri di sebelah barat dan Tongkonan Potok Sia di sebelah timur. Di depan keduanya berdiri tujuh Alang Sura’, lumbung padi tradisional yang dihiasi ukiran.
Tongkonan dan Alang Menjadi Satu Kesatuan
Susunan Buntu Pune memperlihatkan pola permukiman tradisional Toraja.
Tongkonan menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga dan adat, sedangkan Alang Sura’ tidak hanya berfungsi menyimpan padi. Bangunan tersebut juga digunakan untuk menerima tamu dan menjadi tempat formal dalam pelaksanaan upacara adat, termasuk Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’.
Di kawasan ini juga terdapat berbagai bentuk makam, seperti liang, kuburan pada gua alam, kuburan pada dinding batu, erong, patane, dan tau-tau.
UNESCO mencatat Buntu Pune dan Rante Karassik pada awalnya merupakan satu kesatuan permukiman tradisional. Buntu Pune berfungsi sebagai kawasan hunian, sedangkan Rante Karassik digunakan sebagai ruang upacara. Perkembangan permukiman kemudian membuat keduanya terpisah secara fisik.
Tempat Pemimpin Toraja Bermusyawarah
Salah satu bagian penting dari sejarah Buntu Pune terjadi pada September 1905.
Saat itu, para pemimpin dan bangsawan dari berbagai wilayah Toraja berkumpul di Buntu Pune untuk membicarakan sikap menghadapi rencana kedatangan tentara dan pemerintahan Belanda.
Musyawarah tersebut menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan perang saudara yang terjadi di sejumlah wilayah Toraja dan menyatukan kekuatan menghadapi Belanda. Kesepakatan itu dikenal sebagai Perjanjian Buntu Pune.
Tentara Belanda kemudian memasuki Toraja pada awal Maret 1906. Perlawanan muncul dari berbagai wilayah, tetapi kekuatan persenjataan Belanda membuat perlawanan secara terbuka sulit dilakukan.
Pong Maramba kemudian memilih strategi kooperatif sambil membangun kekuatan dari dalam. Pada 1907, ia bersama sejumlah pemimpin Toraja ditunjuk sebagai kepala distrik untuk wilayah Kesu’ dan Tikala.
Pong Maramba’ Berakhir di Pengasingan
Strategi tersebut tidak membuat Pong Maramba’ sepenuhnya tunduk kepada pemerintah kolonial.
Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, ia tetap menyusun kekuatan secara diam-diam, menambah persenjataan dan menolak sejumlah kebijakan pemerintah Belanda, termasuk kewajiban pajak dan kerja paksa.
Pong Maramba’ kemudian ditangkap dan menjalani proses hukuman hingga akhirnya dibuang ke Ambon. Ia meninggal di sana pada 1919.
Setahun kemudian, jenazahnya dijemput untuk dibawa kembali ke Toraja melalui wilayah Luwu. Pada September 1920, upacara pemakaman pertama dilaksanakan di Tongkonan Buntu Pune. Upacara berikutnya berlangsung di Rante Karassik pada akhir 1921.
Pong Maramba’ kemudian dimakamkan di Patane Buntu Pune. Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, patane tersebut merupakan patane pertama di Toraja yang dibuat dari tembok.
Buntu Pune yang Masih Menyimpan Jejak Masa Lalu
Hari ini, Buntu Pune tetap memperlihatkan unsur penting sebuah permukiman tradisional Toraja. Tongkonan, alang, makam, benteng, dan bukit tempat pengintaian menjadi bagian dari lanskap yang menyimpan lebih dari satu cerita.
Statusnya sebagai cagar budaya nasional membuat Buntu Pune tidak hanya penting bagi masyarakat Toraja Utara, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.
Di atas bukit yang dahulu banyak ditumbuhi pakis tiang, tongkonan dan lumbung masih berdiri. Tidak jauh dari sana, Rante Karassik menjadi ruang yang dahulu menyatu dengan permukiman tersebut.
Buntu Pune akhirnya bukan hanya tentang rumah adat Toraja. Di tempat inilah jejak kehidupan bangsawan, sistem pertahanan, ruang musyawarah, perlawanan terhadap kolonialisme, dan tradisi pemakaman bertemu dalam satu lanskap sejarah.
