Maros, Katasulsel.com — Di kawasan pegunungan Mallawa, Kabupaten Maros, sebuah gua menyimpan jejak kehidupan manusia yang berlangsung puluhan ribu tahun lalu.
Gua itu bernama Leang Panninge.
Namanya mungkin belum sepopuler kawasan Leang-Leang di Kecamatan Bantimurung. Namun, situs yang berada di Kecamatan Mallawa ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten/kota oleh Pemerintah Kabupaten Maros pada 25 Juli 2019.
Penetapan tersebut dilakukan setelah kajian kelayakan oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Maros. Situs ini kemudian memiliki dasar hukum untuk dilindungi, dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi maupun wisata budaya.
Bukan Sekadar Gua di Pegunungan
Leang Panninge merupakan salah satu dari banyak situs gua yang tersebar di Kabupaten Maros.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan mencatat wilayah Maros memiliki ratusan situs gua. Sebagian di antaranya menyimpan tinggalan arkeologis yang membantu peneliti memahami kehidupan manusia pada masa lalu.
Leang Panninge termasuk dalam kawasan tersebut.
Keberadaan gua ini penting karena memperlihatkan bahwa kawasan karst Maros bukan hanya bentang alam dengan tebing dan gua. Di balik formasi batuannya, terdapat jejak aktivitas manusia yang berlangsung jauh sebelum terbentuknya masyarakat seperti sekarang.
Pernah Menjadi Tempat Tinggal
Data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat Leang Panninge sebagai situs yang berkaitan dengan tinggalan arkeologis.
Kawasan gua di Maros juga dikenal menyimpan bukti aktivitas manusia masa lampau, mulai dari artefak batu hingga sisa kehidupan sehari-hari.
Leang Panninge menjadi salah satu titik penting untuk membaca kehidupan tersebut.
Gua pada masa lalu bukan sekadar tempat berlindung. Ruang di dalamnya dapat digunakan untuk berbagai aktivitas manusia, termasuk tempat tinggal, membuat peralatan, mengolah makanan, hingga melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan kepercayaan.
Karena itu, tinggalan yang ditemukan di dalam gua dapat memberikan informasi mengenai cara manusia beradaptasi dengan lingkungannya.
Maros dan Ratusan Situs Gua
Keberadaan Leang Panninge juga memperlihatkan betapa pentingnya kawasan karst Maros dalam penelitian prasejarah.
Data resmi Cagar Budaya menyebut terdapat sekitar 209 situs gua yang telah dicatat di wilayah Kabupaten Maros. Jumlah tersebut menunjukkan luasnya jejak arkeologis yang tersebar di kawasan karst ini.
Tidak semua gua memiliki tinggalan dengan karakter yang sama.
Ada gua yang menyimpan lukisan cadas, ada yang menghasilkan artefak batu, dan ada pula yang memperlihatkan bukti aktivitas hunian manusia.
Keragaman tersebut membuat kawasan Maros menjadi ruang penting untuk memahami perjalanan manusia di Sulawesi Selatan.
Berbeda dari Leang-Leang yang Lebih Dikenal
Nama Leang-Leang selama ini lebih mudah dikenali ketika berbicara mengenai situs prasejarah Maros.
Taman Prasejarah Leang-Leang sendiri telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya peringkat nasional sejak 4 Oktober 1999. Kawasan tersebut memiliki sejumlah fasilitas untuk penelitian, edukasi, dan penyampaian informasi mengenai tinggalan prasejarah kepada masyarakat.
Namun, cerita prasejarah Maros tidak berhenti di Leang-Leang.
Leang Panninge di Mallawa merupakan salah satu situs lain yang memperlihatkan luasnya kawasan hunian dan aktivitas manusia masa lampau di wilayah tersebut.
Letaknya yang berada di Kecamatan Mallawa juga memperlihatkan bahwa jejak prasejarah tidak hanya terkonsentrasi pada satu kawasan wisata yang sudah lebih dahulu dikenal.
Gua yang Menyimpan Lapisan Waktu
Situs arkeologi seperti Leang Panninge membuat sebuah gua dapat dibaca sebagai ruang dengan banyak lapisan waktu.
Dinding batu dan lantai gua mungkin terlihat diam. Namun, tinggalan yang ditemukan di dalamnya dapat menunjukkan bahwa ruang tersebut pernah digunakan manusia dalam periode yang sangat panjang.
Setiap artefak menjadi bagian kecil dari cerita yang lebih besar.
Dari sana, peneliti dapat menelusuri bagaimana manusia hidup, memanfaatkan lingkungan, dan meninggalkan jejak di kawasan karst Maros.
Leang Panninge kini tercatat sebagai cagar budaya. Status tersebut membuat keberadaannya tidak sekadar menjadi bagian dari bentang alam Mallawa, tetapi juga bagian dari warisan arkeologis yang perlu dijaga.
Di antara pegunungan karst Mallawa, sebuah gua masih menyimpan jejak kehidupan yang usianya jauh melampaui sejarah tertulis.
Leang Panninge menjadi salah satu pintu untuk membaca kembali bagaimana manusia pernah hidup di kawasan Maros pada masa yang sangat jauh.(*)
