Takalar, Katasulsel.com — Tidak banyak yang tersisa dari sebuah benteng yang pernah menjadi bagian dari pertahanan Kerajaan Gowa. Di Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, jejak itu masih dapat ditemukan dalam susunan batu bata yang menjadi saksi perjalanan sebuah kawasan kerajaan di pesisir selatan Sulawesi Selatan.
Namanya Benteng Sanrobone.
Kawasan ini bukan hanya menyimpan struktur benteng. Di dalamnya terdapat sejumlah tinggalan lain, mulai dari kompleks makam raja-raja Sanrobone, makam tokoh kerajaan, sumur tua, hingga Masjid Tua Sanrobone. Penelitian Universitas Hasanuddin mencatat keberadaan struktur benteng, bastion, kompleks makam, masjid tua, dan meriam dalam satu kawasan.
Salah Satu Benteng dalam Sejarah Gowa
Benteng Sanrobone memiliki hubungan dengan sejarah Kerajaan Gowa. Kajian mengenai kawasan tersebut mencatat Sanrobone sebagai salah satu benteng yang berkaitan dengan pertahanan Kerajaan Gowa.
Posisinya juga tidak dapat dilepaskan dari karakter Sanrobone sebagai kawasan pesisir.
Pada masa lalu, benteng bukan hanya berfungsi sebagai bangunan pertahanan. Keberadaannya berkaitan dengan penguasaan wilayah, keamanan kawasan, serta aktivitas masyarakat yang berada di sekitarnya.
Karena itu, sisa struktur Benteng Sanrobone hari ini menjadi petunjuk mengenai bagaimana sebuah kawasan kerajaan pernah dibangun dan digunakan.
Di Dalamnya Ada Makam Raja-Raja Sanrobone
Yang membuat kawasan Benteng Sanrobone semakin menarik adalah tinggalan yang berada di dalam dan sekitar kawasan benteng.
Penelitian mengenai pelestarian kawasan tersebut mencatat adanya Kompleks Makam Raja-Raja Sanrobone, Kompleks Makam Kare Panca Belong, Kompleks Makam Gaddong, serta makam Tamma Danggang. Di kawasan yang sama juga ditemukan Masjid Tua Sanrobone, sumur tua, dan meriam.
Artinya, kawasan ini tidak hanya berbicara tentang satu bangunan pertahanan.
Benteng, makam, masjid, dan tinggalan lainnya membentuk satu lanskap sejarah yang memperlihatkan kehidupan masyarakat Sanrobone pada masa lalu.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga mencatat Makam Raja-Raja Sanrobone sebagai salah satu potensi wisata sejarah di Kabupaten Takalar. Dalam dokumen RIPPARDA Sulawesi Selatan, situs tersebut tercatat berada di Kecamatan Mappakasunggu.
Masjid Tua di Dalam Kawasan Benteng
Jejak sejarah di Sanrobone tidak berhenti pada batu bata benteng.
Ada pula Masjid Tua Baitul Makdis yang menjadi bagian dari identitas kawasan tersebut. Pemerintah melalui platform Desa Wisata Kementerian Pariwisata menggambarkan Sanrobone sebagai desa dengan tiga karakter utama, yakni budaya, sejarah, dan religi. Masjid Baitul Makdis menjadi salah satu unsur yang memperkuat karakter religi tersebut.
Dengan demikian, seseorang yang datang ke Sanrobone tidak hanya menemukan sisa bangunan pertahanan.
Ada ruang yang mempertemukan sejarah kerajaan, makam keluarga bangsawan, kehidupan keagamaan, serta kehidupan masyarakat pesisir.
Benteng yang Berhadapan dengan Perubahan Zaman
Menjaga kawasan seperti Sanrobone bukan pekerjaan sederhana.
Penelitian Universitas Hasanuddin pernah mencatat sejumlah persoalan yang mengancam tinggalan arkeologis di kawasan tersebut, antara lain kerusakan struktur, pelapukan, pencemaran lingkungan situs, permukiman yang semakin padat, keberadaan tambak, hingga penggalian liar.
Kondisi itu menunjukkan bahwa tinggalan sejarah tidak otomatis bertahan hanya karena usianya panjang.
Benteng membutuhkan ruang untuk tetap dikenali. Makam membutuhkan lingkungan yang terawat. Struktur lama juga memerlukan perlindungan agar tidak hilang sedikit demi sedikit akibat perubahan kawasan.
Pemerintah Kabupaten Takalar sendiri memasukkan Sanrobone dalam rencana tata ruang kawasan Mappakasunggu-Sanrobone. Dokumen tersebut juga memuat program identifikasi dan penetapan bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan.
Sanrobone Tidak Hanya Menyisakan Batu Bata
Hari ini, Benteng Sanrobone mungkin tidak lagi terlihat seperti benteng besar yang utuh.
Sebagian tinggalannya berupa struktur yang tersisa di tengah permukiman dan aktivitas masyarakat.
Namun, justru dari sisa-sisa itulah cerita masa lalu dapat ditelusuri.
Ada benteng yang mengingatkan pada sejarah pertahanan, makam yang menyimpan nama-nama penguasa, masjid yang merekam perjalanan kehidupan keagamaan, serta pesisir yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan Sanrobone.
Di Desa Sanrobone, sejarah kerajaan tidak seluruhnya hilang. Sebagian masih bertahan dalam batu bata, makam, masjid, dan ruang yang sampai sekarang masih dihuni masyarakat.
