Sidrap, Katasulsel.com — Sebelum petani di Sidenreng Rappang turun ke sawah, ada satu hal yang lebih dulu dilakukan: duduk bersama dan bermusyawarah.

Tradisi itu dikenal dengan nama tudang sipulung.

Bagi masyarakat petani di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, tudang sipulung bukan sekadar pertemuan. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk membicarakan persiapan pertanian, termasuk menentukan waktu pembibitan, penanaman, hingga panen.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat tudang sipulung telah dikenal masyarakat petani Sidrap sejak sekitar abad XV. Tradisi ini dikaitkan dengan sosok Nenek Mallomo atau La Pagala, tokoh yang dikenal dalam sejarah masyarakat Sidrap.

Bukan Sekadar Duduk Bersama

Secara sederhana, tudang sipulung berarti duduk bersama.

Namun, bagi petani Sidrap, forum ini memiliki fungsi yang lebih jauh. Musyawarah dilakukan untuk menyamakan langkah menghadapi musim tanam yang akan datang.

Dulu, pembicaraan utamanya berkaitan dengan waktu pembibitan, penanaman, dan panen. Keseragaman waktu tersebut penting karena aktivitas pertanian tidak hanya menyangkut satu petani.

Ada pengaturan air, pengendalian hama, hingga waktu panen yang saling berkaitan.

Karena itu, keputusan yang dihasilkan melalui musyawarah menjadi pedoman bersama.

Pemerintah Kabupaten Sidrap menyebut tudang sipulung sebagai tradisi yang dilakukan secara turun-temurun dan menjadi agenda tahunan sebelum musim tanam.

Tradisi Lama, Persoalan yang Terus Berubah

Menariknya, tudang sipulung tidak berhenti sebagai tradisi seremonial.

Dalam pelaksanaannya sekarang, persoalan yang dibicarakan berkembang mengikuti kebutuhan petani.

Pada Musyawarah Tudang Sipulung tingkat Kabupaten Sidrap 2026, misalnya, forum tersebut membahas jadwal tanam, kebutuhan benih dan pupuk, pengendalian hama, pengelolaan irigasi, hingga penyesuaian masa tanam dengan kondisi cuaca.

Artinya, bentuk tradisinya tetap dipertahankan, tetapi isi pembahasannya dapat mengikuti persoalan pertanian yang dihadapi masyarakat.

Tudang sipulung kemudian menjadi titik temu antara pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya dengan kebutuhan petani pada masa sekarang.

Dari Sidrap untuk Pertanian

Sidrap dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Sulawesi Selatan.

Dalam forum tudang sipulung, bukan hanya petani yang terlibat. Pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani, serta pihak lain yang berkaitan dengan sektor pertanian ikut mengambil bagian.

Pada 2026, misalnya, Musyawarah Tudang Sipulung Kabupaten Sidrap melibatkan petani, peternak, nelayan, pekebun, penyuluh, pemangku kebijakan, hingga pelaku usaha. Pembahasannya mencakup berbagai sektor pangan dan pertanian.

Forum tersebut menunjukkan bahwa tudang sipulung telah berkembang menjadi ruang koordinasi masyarakat pertanian.

Namun, akar tradisinya tetap sama: berkumpul, berbicara, lalu menyepakati langkah bersama.

Warisan yang Masih Dipakai

Banyak tradisi bertahan karena menjadi bagian dari perayaan atau pertunjukan budaya.

Tudang sipulung memiliki bentuk yang berbeda.

Ia tetap dijalankan karena memiliki fungsi langsung bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada pertanian.

Di Sidrap, tradisi tersebut masih digunakan untuk membicarakan musim tanam. Bahkan hasil musyawarah dapat menjadi pedoman bagi pelaksanaan pertanian pada musim berikutnya.

Karena itu, tudang sipulung bukan sekadar cerita tentang masa lalu.

Ia masih berlangsung ketika petani menghadapi persoalan baru, mulai dari perubahan cuaca, kebutuhan air, pupuk, benih, hingga target produksi.

Di Sidenreng Rappang, sebuah tradisi yang telah dikenal sejak berabad-abad lalu masih dimulai dengan cara yang sederhana: para pihak berkumpul, duduk bersama, dan membicarakan sawah yang akan kembali ditanami.(*)