SIDRAP, katasulsel.com — Kemunculan seekor anoa di Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap, bukan sekadar peristiwa langka yang membuat warga penasaran.
Di balik kemunculan satwa endemik Sulawesi itu, ternyata tersimpan cerita tentang posisi geografis Leppangeng yang berada di kawasan kaki Gunung Latimojong.
Bagi masyarakat yang melihatnya, anoa mungkin sekilas tampak seperti kerbau berukuran kecil. Namun satwa ini bukan hewan biasa.
Anoa merupakan satwa endemik Indonesia yang secara alami hanya ditemukan di Sulawesi dan Pulau Buton. Satwa ini juga termasuk fauna yang dilindungi dan keberadaannya di alam menjadi perhatian konservasi.
Kemunculannya di Leppangeng menjadi menarik karena desa tersebut berada tepat di kaki kawasan pegunungan Latimojong.
Wilayah ini memiliki bentang alam berupa hutan dan pegunungan yang menjadi bagian penting dari habitat anoa pegunungan.
Artinya, ketika anoa terlihat di sekitar Leppangeng, kemunculan tersebut secara ekologis bukan sesuatu yang mustahil.
Satwa yang dikenal pemalu dan cenderung menghindari manusia itu memang dapat bergerak melewati kawasan hutan hingga wilayah yang berbatasan dengan permukiman apabila jalur jelajah dan sumber pakannya memungkinkan.
Namun ada sisi lain yang patut diperhatikan.
Ketika habitat alami mengalami tekanan akibat pembukaan lahan, aktivitas perkebunan, pertambangan, maupun perubahan tutupan hutan, ruang hidup satwa liar ikut menyempit.
Dalam kondisi tertentu, satwa dapat bergerak lebih jauh untuk mencari makanan, air, atau wilayah yang dianggap aman.
Di sinilah kemunculan anoa di Leppangeng menjadi lebih dari sekadar tontonan.
Ia seperti mengingatkan bahwa hutan di sekitar kaki Latimojong masih menyimpan kehidupan liar yang sangat berharga.
Bahkan, keberadaan anoa di kawasan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga koridor habitat agar satwa liar tidak semakin sering berhadapan langsung dengan manusia.
Anoa sendiri merupakan salah satu kekayaan hayati Sulawesi yang tidak dimiliki wilayah lain di dunia.
Karena itu, ketika satwa langka ini muncul di sebuah desa di Sidrap, kabar tersebut seharusnya tidak berhenti pada rasa kagum.
Ada pesan yang jauh lebih besar: di balik hutan dan pegunungan yang selama ini terlihat biasa saja, ternyata masih ada satwa asli Sulawesi yang sedang berjuang mempertahankan ruang hidupnya.
Leppangeng bukan sekadar tempat anoa lewat.
Bisa jadi, kawasan itu adalah salah satu pintu kecil menuju dunia liar Latimojong yang selama ini jarang terlihat manusia.
