Sidrap, katasulsel.com — Bukan hanya Pemerintah Kabupaten Sidrap yang memberi perhatian terhadap kondisi Jalan Uluale–Toddang Bojo. Komisi III DPRD Sidrap bahkan turun langsung ke lokasi mendampingi Bupati Syaharuddin Alrif dalam pelaksanaan Mutual Check 0 persen (MC 0), Selasa (8/9/2026).
Kehadiran legislatif dan eksekutif secara bersamaan di lokasi proyek menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan ruas jalan tersebut mendapat dukungan penuh untuk segera direalisasikan.
Bagi warga Toddang Bojo dan Uluale, momen itu terasa istimewa.
Sebab selama bertahun-tahun, jalan tersebut lebih sering menjadi bahan keluhan daripada kabar pembangunan.
Saat kemarau, kendaraan yang melintas meninggalkan kepulan debu yang masuk ke rumah-rumah warga. Ketika hujan turun, jalan berubah licin dan berlubang sehingga menyulitkan aktivitas masyarakat.
Kesulitan paling besar dirasakan para petani.
Mereka harus mengangkut gabah dan hasil pertanian melalui jalur yang kondisinya tidak lagi memadai. Waktu tempuh menjadi lebih lama, biaya angkut meningkat, dan aktivitas ekonomi warga ikut terdampak.
Padahal jalan tersebut merupakan salah satu akses utama menuju kawasan sentra penggilingan beras di Kecamatan Watang Pulu.
Setiap hari kendaraan pengangkut hasil pertanian keluar masuk melalui ruas itu.
Menurut informasi yang diterima Bupati Syaharuddin Alrif dari masyarakat setempat, jalan tersebut sudah sekitar 20 tahun belum mendapatkan pembangunan yang layak.
“Menurut informasi masyarakat, jalan ini sudah kurang lebih 20 tahun belum dikerjakan,” ujar Syaharuddin saat meninjau lokasi.
Karena itu, pelaksanaan MC 0 bukan sekadar tahapan administrasi proyek.
Bagi warga, itu menjadi tanda dimulainya perubahan yang telah lama dinantikan.
Pemerintah Kabupaten Sidrap mengalokasikan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp5,784 miliar untuk membangun jalan beton sepanjang 2,4 kilometer dengan target pengerjaan selama 90 hari.
Konstruksi beton dipilih karena ruas tersebut menjadi jalur utama kendaraan pengangkut gabah menuju penggilingan dan pusat distribusi.
Syaharuddin menilai pembangunan jalan itu akan memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
Dengan akses yang lebih baik, hasil pertanian dari Batu Pute dan Toddang Bojo dapat diangkut lebih cepat, biaya transportasi berkurang, dan produktivitas masyarakat meningkat.
Di lokasi yang selama ini identik dengan debu, lubang, dan keluhan warga, kini mulai terdengar suara alat ukur serta penetapan titik nol pembangunan.
Bagi masyarakat Toddang Bojo, perubahan itu mungkin tampak sederhana.
Namun setelah dua dekade menunggu, jalan yang selama ini menjadi simbol kesulitan akhirnya mulai berubah menjadi simbol harapan.(wis)
