Sidrap, katasulsel.com — Pemandangan berbeda terlihat di ruas Jalan Uluale–Toddang Bojo, Kecamatan Watang Pulu, Selasa (8/9/2026). Jika selama bertahun-tahun warga hanya menyaksikan jalan yang menua dan menunggu perbaikan, kali ini mereka melihat langsung dimulainya tahapan pembangunan yang selama ini dinantikan.
Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, turun langsung memimpin pelaksanaan Mutual Check 0 persen (MC 0), sebuah tahapan awal sebelum alat berat dan pekerjaan fisik mulai bergerak di lapangan.
Kehadiran orang nomor satu di Sidrap itu bukan sekadar seremoni. Bersama anggota DPRD Komisi III, Dinas Pekerjaan Umum, camat, lurah, tokoh masyarakat, hingga warga setempat, ia menyaksikan pengukuran awal sekaligus penetapan titik nol pembangunan jalan yang akan menghubungkan Kelurahan Uluale dengan kawasan Toddang Bojo.
Ruas jalan sepanjang 2,4 kilometer tersebut akan dibangun menggunakan konstruksi beton dengan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp5,784 miliar. Pemerintah menargetkan pekerjaan rampung dalam waktu 90 hari.
Bagi masyarakat sekitar, proyek ini bukan sekadar pembangunan jalan. Ruas Uluale–Toddang Bojo merupakan jalur penting yang setiap hari dilalui kendaraan pengangkut hasil pertanian dan aktivitas industri penggilingan beras.
Karena itulah, jalan tersebut kerap disebut sebagai salah satu urat nadi ekonomi masyarakat di kawasan Watang Pulu.
“Kita turun bersama masyarakat, Komisi III, camat, lurah, dan Dinas PU untuk melakukan MC 0 pengerjaan jalan ruas Uluale–Toddang Bojo sepanjang 2,4 kilometer,” kata Syaharuddin Alrif.
Menurutnya, pilihan konstruksi beton bukan tanpa alasan. Selain menjadi jalur utama masyarakat, kawasan tersebut juga dikenal sebagai sentra industri penggilingan beras yang setiap hari dilintasi kendaraan bermuatan berat.
“Jalan ini akan dibangun dengan konstruksi beton karena merupakan kawasan sentra penggilingan beras,” ujarnya.
Di hadapan warga, Syaharuddin juga mengungkapkan informasi yang ia terima selama berada di lokasi. Menurut masyarakat, ruas jalan tersebut sudah sekitar dua dekade belum mendapatkan pembangunan yang memadai.
“Menurut informasi masyarakat, jalan ini sudah kurang lebih 20 tahun belum dikerjakan,” ungkapnya.
Karena itu, pembangunan jalan tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan kenyamanan bagi pengguna jalan, tetapi juga mempercepat mobilitas hasil pertanian dari wilayah Batu Pute dan Toddang Bojo menuju pusat distribusi.
Dengan akses yang lebih baik, biaya angkut hasil panen diharapkan menurun dan aktivitas ekonomi masyarakat meningkat.
“Semoga produksi pertanian dari Batu Pute dan Toddang Bojo bisa lebih cepat diangkut dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” harap Syaharuddin.
Bagi warga yang telah lama menanti, dimulainya MC 0 menjadi penanda bahwa harapan yang selama ini hanya terdengar dalam usulan dan musyawarah akhirnya mulai terlihat di lapangan.
Jika pekerjaan berjalan sesuai target, jalan yang selama puluhan tahun menjadi keluhan warga itu akan berubah menjadi jalur beton yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat Watang Pulu dan sekitarnya.(*)
