Sidrap, Katasulsel.com — Hamparan kolam ikan di Desa Abbokongang, Kecamatan Kulo, Sabtu (5/9/2026), mendadak menjadi pusat perhatian. Di lokasi itu, Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), H. Syaharuddin Alrif, menyaksikan langsung panen ikan nila yang nilainya bukan main.
Dari satu hektare kolam milik warga bernama Ajid Tamburin, hasil panen mencapai sekitar 1,8 ton ikan nila. Jika dikalkulasikan dengan harga pasar saat ini yang berada di kisaran Rp28 ribu per kilogram, omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp56 juta dalam satu kali panen.
Yang menarik, setelah dikurangi biaya produksi sekitar Rp20 juta, keuntungan bersih yang tersisa diperkirakan mencapai Rp36 juta per petak kolam.
“Ini satu hektare kolam bisa menghasilkan kurang lebih satu ton delapan ratus. Kalau harga sekarang Rp28 ribu per kilogram, bisa menghasilkan Rp56 juta. Setelah biaya produksi, bersihnya sekitar Rp36 juta,” ungkap Syaharuddin saat meninjau panen.
Namun bagi Syaharuddin, yang lebih menarik bukan hanya angka keuntungan tersebut.
Di balik kolam ikan itu, ia melihat sebuah model ekonomi pedesaan yang menurutnya layak menjadi contoh bagi masyarakat Sidrap.
### Satu Lahan, Empat Sumber Penghasilan
Pemilik kolam, Ajid Tamburin, ternyata tidak hanya mengandalkan usaha perikanan.
Di lokasi yang sama, ia juga mengelola sawah, peternakan ayam, kebun alpukat, hingga usaha sarang burung walet.
Bagi Syaharuddin, pola usaha seperti ini adalah gambaran nyata pertanian modern berbasis integrasi sektor.
“Ini menandakan bahwa orang Sidrap itu pekerja keras dan pekerja cerdas. Sekali bekerja, penghasilannya bisa banyak,” ujarnya.
Menurutnya, konsep usaha terpadu membuat setiap sektor saling menopang dan menekan biaya produksi.
Air kolam yang kaya nutrisi dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Kotoran ayam dapat diolah menjadi pupuk alami. Bahkan keberadaan usaha walet turut mendukung produktivitas lahan pertanian.
Dengan sistem seperti itu, satu kawasan usaha mampu menghasilkan beberapa komoditas sekaligus dalam satu siklus produksi.
### Panen Tidak Lagi Menunggu Setahun
Model usaha yang diterapkan di Abbokongang juga dinilai mengubah pola pikir petani tradisional.
Jika selama ini petani hanya bergantung pada satu komoditas, kini mereka dapat memperoleh pendapatan dari berbagai sektor dalam waktu yang berdekatan.
“Alhamdulillah, dalam empat bulan kita bisa panen padi, panen ikan, panen walet, panen ayam. Alhamdulillah,” kata Syaharuddin.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan iklim yang memengaruhi sektor pertanian, pola usaha terintegrasi seperti ini dianggap lebih tahan terhadap risiko.
Ketika harga satu komoditas turun, petani masih memiliki sumber pendapatan dari sektor lainnya.
### Sidrap dan Mimpi Menjadi Lumbung Pangan Terintegrasi
Selama ini Sidrap dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras di Sulawesi Selatan. Namun di tangan para pelaku usaha tani yang kreatif, daerah ini mulai menunjukkan wajah baru.
Bukan hanya sebagai lumbung padi.
Tetapi juga sebagai kawasan pertanian terpadu yang menggabungkan sektor perikanan, peternakan, perkebunan, hingga usaha walet dalam satu ekosistem produksi.
Panen ikan nila di Abbokongang menjadi bukti bahwa lahan yang sama dapat menghasilkan lebih dari satu sumber pendapatan.
Dan ketika satu petak kolam mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp36 juta dalam sekali panen, maka yang dipanen bukan hanya ikan.
Tetapi juga harapan baru bagi ekonomi pedesaan Sidrap. (*)
