Sidrap, katasulsel.com — Saat sebagian petani mulai menengadah ke langit menunggu hujan, hamparan sawah di Kelurahan Bangkai, Kecamatan Watang Pulu, justru tetap mendapatkan pasokan air.

Bukan dari sungai besar. Bukan pula dari hujan yang turun setiap hari.

Air itu datang dari tiga titik sumber yang dipompa menggunakan tenaga listrik melalui program “Listrik Masuk Sawah”, program yang kini menjadi salah satu andalan Pemerintah Kabupaten Sidrap menghadapi musim kemarau.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, turun langsung memantau kondisi persawahan dan memastikan sistem pompanisasi berjalan maksimal.

Di lokasi, air tampak menyembur deras dari instalasi pompa menuju saluran-saluran pertanian yang mengairi sedikitnya 29 hektare sawah produktif.

Pemandangan itu menjadi kabar baik bagi petani.

Sebab dalam dunia pertanian, kemarau panjang sering menjadi ancaman serius terhadap produktivitas. Ketika air berkurang, tanaman padi memasuki fase kritis yang dapat memengaruhi pembentukan bulir hingga hasil panen.

Namun kondisi tersebut kini mulai diantisipasi melalui pemanfaatan air tanah yang diangkat menggunakan teknologi pompanisasi listrik.

“Tiga titik sumber air ini mampu mengairi sekitar 29 hektare sawah masyarakat. Ini menjadi solusi nyata agar petani tetap bisa berproduksi meski musim kemarau berlangsung,” ujar Syaharuddin.

Program Listrik Masuk Sawah sendiri merupakan salah satu gagasan yang telah lama diperjuangkan Syaharuddin Alrif untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Saat musim penghujan, manfaatnya mungkin tidak terlalu terasa.

Tetapi ketika kemarau datang dan kebutuhan air meningkat, keberadaan pompa listrik dan sumur bor menjadi penentu keberlangsungan musim tanam.

Tahun ini, delapan kelompok tani di Sidrap mendapatkan bantuan sumur bor tiga inci yang mendukung sistem pompanisasi tersebut.

Bagi petani, bantuan itu bukan sekadar fasilitas.

Itu adalah jaminan bahwa lahan yang sudah ditanami tidak berubah menjadi hamparan tanah retak akibat kekurangan air.

Syaharuddin juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas dukungan terhadap pembangunan sektor pertanian di Sidrap.

Menurutnya, kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPRD Sidrap, kelompok tani, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga posisi Sidrap sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan.

“Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman atas perhatian dan dukungannya kepada petani Sidrap. Dukungan ini sangat berarti untuk menjaga produksi pertanian kita tetap berjalan,” katanya.

Di tengah ancaman kemarau, tiga titik sumber air itu kini bukan sekadar sumur bor.

Bagi petani, ketiganya adalah sumber harapan.

Karena selama air masih mengalir ke sawah, bulir padi tetap bisa tumbuh, panen tetap bisa diharapkan, dan roda kehidupan petani akan terus berputar. (edybasri)