Katasulsel.com — Pengetahuan tidak selalu diwariskan melalui buku.

Di Sulawesi Selatan, sebagian pengetahuan tumbuh dari hubungan manusia dengan sawah, laut, hewan, kayu, rumah, hingga lingkungan tempat mereka hidup. Pengetahuan itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ada yang berbentuk cara membaca cuaca. Ada yang membantu nelayan menentukan arah pelayaran. Ada pula yang tersimpan dalam tata ruang rumah adat, cara memelihara kerbau, teknologi pembuatan perahu, hingga petuah yang mengatur hubungan antarmanusia.

Sebagian pengetahuan tersebut tetap hidup meski masyarakat telah mengenal teknologi modern.

Berikut 10 di antaranya.

  1. Membaca alam sebelum mengelola sawah

Bagi masyarakat agraris, alam bukan sekadar tempat bekerja.

Petani di Sulawesi Selatan memiliki pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman panjang mengelola sawah. Pengetahuan tersebut mencakup berbagai tahapan budidaya dan cara menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi lingkungan.

Pengetahuan lokal semacam ini diwariskan antargenerasi. Perkembangan teknologi pertanian memang mengubah sebagian praktik, tetapi pengalaman membaca lingkungan tetap menjadi bagian dari kehidupan petani.

Pengetahuan tradisional dengan demikian tidak selalu hilang ketika teknologi baru datang. Keduanya dapat berjalan berdampingan.

  1. Membuat alat tanam dari bahan yang tersedia

Pengetahuan lokal juga dapat muncul dalam bentuk teknologi sederhana.

Di Soppeng, petani mengenal pa’gugu, alat tanam yang dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka, seperti pipa bekas, kayu, dan roda bekas.

Alat tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat menciptakan teknologi berdasarkan kebutuhan dan kondisi setempat.

Yang menarik, teknologi semacam itu tidak otomatis ditinggalkan ketika mekanisasi pertanian berkembang. Pengetahuan tradisional dan pengetahuan modern dapat digunakan secara bersamaan.

Artinya, teknologi lama tidak selalu berarti teknologi yang usang.

  1. Membaca laut sebelum melaut

Pengetahuan tentang alam tidak hanya dimiliki masyarakat agraris.

Komunitas Bajo di Bajoe, Kabupaten Bone, memiliki sistem pengetahuan mengenai laut yang diperoleh melalui pengalaman dan diwariskan antargenerasi.

Mereka mengenali kondisi perairan, wilayah penangkapan, jenis biota, perubahan cuaca, hingga berbagai tanda alam yang berkaitan dengan aktivitas melaut.

Bagi masyarakat Bajo, laut bukan ruang kosong.

Laut memiliki tanda-tanda yang dapat dibaca. Pengetahuan itu menjadi pedoman dalam menentukan lokasi penangkapan dan menjalankan aktivitas pelayaran.

  1. Menggunakan bintang sebagai petunjuk arah

Jauh sebelum GPS hadir di layar telepon genggam, langit sudah menjadi penunjuk arah.

Dalam pengetahuan navigasi tradisional masyarakat Bajo, letak bintang digunakan sebagai salah satu petunjuk dalam pelayaran.

Pengetahuan mengenai benda langit tersebut berkaitan dengan arah dan perubahan musim. Ia diperoleh bukan melalui pendidikan formal, melainkan melalui pengalaman di laut dan proses pewarisan pengetahuan.

Bagi pelaut tradisional, langit merupakan bagian dari sistem navigasi.

Penelitian mengenai masyarakat Bajo di Bajoe mencatat pengetahuan tentang bintang dan tanda-tanda alam tersebut masih digunakan sebagai pedoman dalam aktivitas pelayaran.

  1. Mengenali perubahan cuaca dari tanda alam

Bagi nelayan, kemampuan membaca cuaca bukan sekadar pengetahuan tambahan. Ia berkaitan dengan keselamatan.

Masyarakat Bajo memiliki pengetahuan mengenai tanda-tanda perubahan kondisi laut, termasuk angin, awan, hujan, arus, dan keadaan permukaan air.

Pengetahuan tersebut terbentuk dari pengalaman menghadapi laut dan diwariskan dari orang tua kepada generasi berikutnya.

Ketika kondisi tidak memungkinkan untuk melaut, pengalaman membaca tanda alam menjadi salah satu pertimbangan untuk mencari perlindungan atau mengubah arah perjalanan.

Penelitian pemerintah mengenai sistem pengetahuan tradisional Bajo mencatat pengetahuan tersebut masih menjadi pedoman masyarakat dalam aktivitas kenelayanan.

  1. Mengolah kotoran kerbau menjadi pupuk

Di Tana Toraja, pengetahuan lokal juga berkaitan dengan cara masyarakat memelihara kerbau.

Kerbau memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Toraja. Dalam lanskap permukiman tradisional, keberadaan padang penggembalaan bahkan menjadi salah satu unsur yang menyatu dengan rumah, lumbung, sawah, dan ruang upacara.

Pengetahuan mengenai ternak tidak berhenti pada pemeliharaan.

Bahan sisa dari peternakan juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik. Praktik semacam ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya.

Pengetahuan tersebut sederhana, tetapi menunjukkan prinsip penting: tidak semua yang tersisa harus menjadi limbah.

  1. Menata kehidupan melalui Tongkonan

Tongkonan sering dikenal karena bentuk atapnya yang khas.

Namun, rumah adat Toraja bukan hanya persoalan arsitektur.

Dalam permukiman tradisional Tana Toraja, tongkonan berhubungan dengan lumbung, tempat pemakaman, ruang upacara, sawah, hutan bambu, serta padang penggembalaan. Pola tersebut menunjukkan bahwa rumah merupakan bagian dari sebuah lanskap sosial dan budaya yang lebih luas.

Dengan demikian, pengetahuan yang diwariskan bukan hanya cara membuat rumah.

Ada pengetahuan mengenai bagaimana manusia, keluarga, ruang hidup, pertanian, hewan, dan lingkungan ditempatkan dalam satu kesatuan.

Itulah sebabnya Tongkonan tidak tepat dipandang hanya sebagai bangunan tradisional.

Ia merupakan bagian dari sistem kehidupan.

  1. Menyimpan aturan hidup melalui tradisi lisan

Sebagian pengetahuan leluhur tidak memiliki bentuk fisik.

Di Tana Toraja, misalnya, terdapat tradisi lisan Karapasan dan Kasiturusan. Keduanya memuat nilai kedamaian, keharmonisan, persatuan, serta partisipasi masyarakat.

Kajian yang diterbitkan BRIN menyebut tradisi tersebut sebagai pengetahuan lisan yang diwariskan dan diharapkan terus dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Di sinilah tradisi lisan berfungsi seperti arsip sosial.

Pengetahuan mengenai bagaimana seseorang seharusnya hidup tidak disimpan di rak buku, melainkan dalam ungkapan, cerita, petuah, dan praktik kehidupan sehari-hari.

  1. Mengambil keputusan pertanian secara bersama

Pengetahuan bertani tidak selalu berada di tangan seorang petani.

Sulawesi Selatan mengenal Tudang Sipulung, sebuah tradisi musyawarah yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat pertanian.

Dalam praktik semacam ini, pertanian dipandang sebagai urusan yang juga membutuhkan koordinasi masyarakat.

Hal tersebut penting karena kegiatan pertanian berlangsung dalam ruang yang saling berhubungan. Pengelolaan lahan, air, waktu tanam, hingga berbagai kebutuhan produksi dapat memengaruhi petani lain.

Karena itu, pengetahuan pertanian bukan hanya soal bagaimana menanam.

Ada pula pengetahuan tentang bagaimana hidup dan mengambil keputusan bersama.

  1. Membangun perahu tanpa kehilangan pengetahuan leluhur

Salah satu warisan teknologi paling kuat dari Sulawesi Selatan adalah pinisi.

UNESCO menetapkan Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2017. Warisan tersebut berkaitan dengan seni dan keterampilan pembuatan perahu di Sulawesi Selatan.

Yang diwariskan bukan sekadar bentuk kapal.

Ada pengetahuan mengenai kayu, pengerjaan, penyusunan bagian kapal, layar, serta keterampilan para pembuatnya.

Teknologi tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional tidak harus berhenti ketika zaman berubah.

Perahu dapat berubah fungsi. Pasar dapat berubah. Teknologi dapat berkembang.

Namun, pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi tetap menjadi bagian penting dari identitas pembuatnya.

Pengetahuan yang Tidak Selalu Terlihat

Sepuluh contoh tersebut memperlihatkan satu hal.

Pengetahuan leluhur Sulawesi Selatan tidak selalu berbentuk benda yang disimpan di museum.

Sebagian hidup di sawah.

Sebagian mengikuti perahu ke tengah laut.

Sebagian berada di langit yang dibaca sebagai penunjuk arah.

Sebagian melekat pada Tongkonan, pada cara masyarakat berhubungan dengan kerbau, pada petuah yang diwariskan orang tua, atau pada tangan pembuat pinisi yang masih bekerja dengan pengetahuan turun-temurun.

Pengetahuan seperti ini tidak selalu tampil sebagai sesuatu yang spektakuler.

Justru karena melekat pada kehidupan sehari-hari, keberadaannya sering luput dilihat.

Padahal, di dalamnya tersimpan cara masyarakat memahami lingkungan, menghadapi risiko, mengatur kehidupan bersama, dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Peninggalan memberi tahu kita tentang sesuatu yang pernah hidup. Warisan menunjukkan sesuatu yang masih digunakan untuk menjalani kehidupan.

Dan di Sulawesi Selatan, sebagian pengetahuan itu masih bekerja sampai hari ini.(*)