Tana Toraja, Katasulsel.com — Sebuah rumah kecil berdiri dengan hiasan dan lampu dalam rangkaian upacara kematian di Tana Toraja.
Rumah itu bukan tempat tinggal.
Ia merupakan Lantang Pangngan, bagian dari prosesi adat yang berkaitan dengan upacara Rambu Solo’ di Desa Tumbang Datu, Kecamatan Sangalla’ Utara, Kabupaten Tana Toraja.
Bentuknya menyerupai rumah dan dilengkapi berbagai pernak-pernik serta lampu. Pembuatannya bahkan dapat berlangsung hingga sekitar satu bulan, bergantung pada tingkat kerumitan desain.
Lantang Pangngan tercatat sebagai salah satu atraksi budaya di Desa Wisata Tumbang Datu.
Dibuat Menyerupai Rumah
Lantang Pangngan bukan rumah dalam ukuran sebenarnya.
Dalam penelitian mengenai tradisi ini, Lantang Pangngan dijelaskan sebagai miniatur berbentuk rumah Tongkonan yang dihiasi berbagai ornamen, termasuk lampu hias dan lilin atau obor. Miniatur tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian upacara pemakaman masyarakat Toraja.
Di Tumbang Datu, pembuatan miniatur ini melibatkan keluarga, kerabat, dan teman dari orang yang meninggal.
Prosesnya tidak sebentar. Keterangan resmi Desa Wisata Tumbang Datu menyebut pembuatan satu miniatur terkadang membutuhkan waktu hingga satu bulan, tergantung desain yang dibuat. Biayanya juga tidak sedikit dan dalam keterangan tersebut disebut dapat mencapai belasan juta rupiah untuk satu miniatur.
Karena itu, Lantang Pangngan bukan sekadar benda kecil yang dibuat sebagai pelengkap upacara. Ada proses pembuatan dan keterlibatan banyak orang di dalamnya.
Berkaitan dengan Orang yang Meninggal Muda
Lantang Pangngan memiliki konteks khusus dalam tradisi kematian Toraja.
Penelitian etnografi yang diterbitkan dalam Ethical Lingua menjelaskan Lantang Pangngan dalam ritual Mate Malolle’, yakni ritual yang berkaitan dengan orang yang meninggal dalam usia muda. Penelitian tersebut melihat tahapan Lantang Pangngan sebagai bagian dari identitas masyarakat adat Toraja.
Keterangan Desa Wisata Tumbang Datu juga menyebut Lantang Pangngan digelar ketika orang yang meninggal masih tergolong anak muda dan memenuhi ketentuan tertentu dalam pelaksanaan Rambu Solo’.
Salah satu ketentuan yang dicatat dalam laman tersebut berkaitan dengan jumlah kerbau yang dipotong dalam upacara, yakni minimal empat ekor atau lebih.
Artinya, Lantang Pangngan tidak otomatis dibuat dalam setiap upacara kematian masyarakat Toraja.
Ada kondisi tertentu yang menyertainya.
Dibuat Bersama Keluarga dan Sahabat
Pembuatan Lantang Pangngan juga memperlihatkan keterlibatan orang-orang yang berada di sekitar keluarga yang berduka.
Sumber resmi Desa Wisata Tumbang Datu menyebut keluarga, kerabat, dan teman semasa hidup orang yang meninggal turut membuat miniatur tersebut.
Penelitian mengenai Lantang Pangngan juga menemukan adanya nilai kedekatan dan persahabatan di dalam prosesnya.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2024 menyebut Lantang Pangngan sebagai bagian dari ekspresi bahwa duka keluarga merupakan duka bersama. Penelitian itu dilakukan melalui pendekatan kualitatif dan wawancara dengan tominaa, pemangku pengetahuan adat Toraja.
Dengan demikian, orang-orang yang datang tidak hanya hadir ketika upacara berlangsung. Dalam tradisi ini, keterlibatan dapat dimulai sejak proses pembuatan Lantang Pangngan.
Tidak Semua Orang Membuatnya
Ada pula batasan sosial dalam pelaksanaan Lantang Pangngan.
Keterangan Desa Wisata Tumbang Datu menyebut tidak semua kalangan dapat dibuatkan miniatur tersebut. Pelaksanaannya berkaitan dengan kasta dan strata sosial orang yang meninggal.
Penelitian tentang ritual ini juga mencatat status sosial sebagai salah satu unsur yang berkaitan dengan pelaksanaan ma’lantang pangngan.
Karena itu, keberadaan Lantang Pangngan tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial dalam masyarakat Toraja.
Bentuk rumah kecil yang muncul dalam rangkaian upacara tersebut membawa serta aturan mengenai siapa yang dapat menjalankannya dan dalam kondisi seperti apa ritual tersebut dilakukan.
Tercatat sebagai Atraksi Budaya Tumbang Datu
Tumbang Datu merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Tana Toraja.
Desa ini berada di Kecamatan Sangalla’ Utara, sekitar 15 kilometer dari Kota Makale. Dalam profil resmi Desa Wisata Tumbang Datu, masyarakatnya disebut masih memegang adat istiadat, termasuk Rambu Tuka’, Rambu Solo’, dan ritual Ma’nenek.
Lantang Pangngan tercatat secara khusus sebagai salah satu atraksi budaya desa tersebut.
Di antara rumah adat, persawahan, kawasan batu karst, dan berbagai tradisi masyarakat Tumbang Datu, miniatur rumah yang dibuat dalam rangkaian upacara kematian itu menjadi salah satu bentuk kebudayaan yang masih dicatat dan diperkenalkan sebagai bagian dari kehidupan adat setempat.
Rumah kecil itu akhirnya bukan hanya soal bentuknya.
Ia hadir dalam sebuah upacara ketika keluarga sedang berduka, dibuat bersama kerabat dan sahabat, dihiasi, dan menjadi bagian dari rangkaian adat kematian masyarakat Toraja di Tumbang Datu.
