Toraja Utara, Katasulsel.com — Ada permainan tradisional Toraja yang menggunakan bagian ujung kaki kerbau sebagai alat bermain. Namanya Kalungkung Tedong.

Permainan ini berasal dari Kampung Adat Ke’te’ Kesu’, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Panggung menyebut Kalungkung Tedong sebagai salah satu permainan khas masyarakat adat Ke’te’ Kesu’ yang jarang ditemukan di luar Toraja.

Bahan utamanya bukan dibuat khusus untuk permainan. Kalungkung Tedong menggunakan bagian ujung kaki kerbau (tedong) yang diberi tali sepanjang sekitar satu hingga dua meter.

Dahulu, tali tersebut dibuat dari kulit kayu pohon waru. Bagian kaki kerbau diperoleh dari kerbau yang baru disembelih dalam rangkaian upacara adat Rambu Solo’ atau Rambu Tuka’.

Karena menggunakan bagian kaki kerbau yang masih mengandung daging dan tidak diawetkan, permainan ini biasanya dilakukan dua sampai tiga hari setelah kerbau disembelih. Jika lebih dari waktu tersebut, bagian yang digunakan dapat mengeluarkan bau tidak sedap.

Cara bermainnya cukup sederhana.

Satu orang dari setiap kelompok menjadi pemain. Masing-masing kelompok juga memiliki pendukung yang memberikan teriakan penyemangat.

Para pemain kemudian saling mendekat dan menyambar tali lawan. Setelah tali mengenai sasaran, keduanya mulai tarik-menarik dengan tenaga masing-masing.

Pemain yang berhasil memutus tali lawan dinyatakan sebagai pemenang. Pemain yang kalah dapat menerima hukuman hiburan, salah satunya menggendong pemain yang menang. Setiap Kalungkung Tedong yang digunakan juga diberi nama oleh pemainnya.

Permainan ini tidak terlepas dari posisi kerbau dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Dalam penelitian tersebut, kerbau memiliki sejumlah nilai sosial dan budaya. Kerbau berkaitan dengan kekayaan dan kemakmuran, status sosial, kegiatan adat, alat tukar, serta kepercayaan masyarakat.

Karena itu, Kalungkung Tedong tidak hanya menjadi permainan. Keberadaan dan bahan yang digunakan dalam permainan ini berkaitan langsung dengan kehidupan adat masyarakat Toraja.

Namun, permainan tersebut kini sudah jarang dimainkan.

Penelitian Hidayana dan Swaradesy pada 2021 mencatat Kalungkung Tedong sebagai salah satu permainan yang sangat jarang ditemukan di Ke’te’ Kesu’. Bahkan ketika penelitian dilakukan, anak-anak di desa adat tersebut disebut tidak lagi mengetahui bentuk permainan itu.

Peneliti memperoleh informasi mengenai permainan tersebut dari ketua adat Ke’te’ Kesu’, Layuk Sarunggalo. Selain Kalungkung Tedong, permainan Ma’Timba, Palok’, dan Pali’ juga disebut sudah sangat jarang dimainkan. Sementara Mapasilaga Tedong atau adu kerbau masih aktif dilakukan masyarakat.

Kalungkung Tedong menjadi salah satu permainan rakyat yang tumbuh dari kehidupan masyarakat adat Ke’te’ Kesu’. Bahan permainan, waktu pelaksanaan, hingga cara bermainnya memiliki kaitan dengan kerbau dan rangkaian kegiatan adat masyarakat Toraja.(*)