Tana Toraja, Katasulsel.com — Dua daerah yang menjadi ikon wisata budaya Sulawesi Selatan, Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja, masih menghadapi tantangan besar dalam menekan angka kemiskinan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan tahun 2025 yang diperbarui pada Februari 2026, jumlah penduduk miskin di Toraja Utara tercatat mencapai 24,48 ribu orang dengan persentase kemiskinan sebesar 10,05 persen.
Sementara Kabupaten Tana Toraja mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 25,82 ribu orang dengan tingkat persentase kemiskinan mencapai 10,54 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meski dikenal memiliki potensi besar di sektor pariwisata dan budaya, kedua daerah di kawasan pegunungan Sulawesi Selatan ini masih memiliki pekerjaan rumah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dari sisi jumlah, Tana Toraja memiliki penduduk miskin lebih banyak dibanding Toraja Utara. Namun secara persentase, tingkat kemiskinan Tana Toraja sedikit lebih tinggi.
BPS juga mencatat garis kemiskinan Maret 2025 di Tana Toraja berada pada angka Rp435.955 per kapita per bulan. Sedangkan Toraja Utara memiliki garis kemiskinan sebesar Rp435.309 per kapita per bulan.
Data tersebut menggambarkan batas minimum pengeluaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar dalam satu bulan.
Tingginya angka kemiskinan di dua daerah tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat Toraja Utara dan Tana Toraja memiliki potensi ekonomi yang besar, mulai dari pariwisata, pertanian, perkebunan, hingga ekonomi kreatif berbasis budaya.
Potensi wisata seperti budaya leluhur, rumah adat Tongkonan, tradisi unik, hingga panorama alam pegunungan menjadi modal besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Namun, potensi tersebut masih membutuhkan penguatan agar manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha tertentu, tetapi mampu membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara luas.
Pemerintah daerah dituntut memperkuat program pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan UMKM, perluasan akses pasar, serta penguatan sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Data BPS ini menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya dan potensi wisata belum otomatis menghapus persoalan kemiskinan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah potensi daerah menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat Toraja.
