Toraja Utara, Katasulsel.com – Sebuah Tongkonan tidak berdiri sendirian.

Di hadapannya dapat berdiri alang, lumbung padi tradisional. Di sekitarnya ada keluarga, ruang adat, dan jejak hubungan kekerabatan yang menghubungkan satu generasi dengan generasi lainnya.

Di Toraja Utara, susunan itu masih dapat dilihat di kawasan perkampungan adat seperti Ke’te’ Kesu’. Di sana, Tongkonan, alang, area pemakaman, tempat upacara, sawah, dan area penggembalaan kerbau berada dalam satu kawasan.

Itulah sebabnya Tongkonan tidak cukup dipahami sebagai rumah adat.

Namanya berasal dari kata tongkon, yang berarti duduk. Dalam kehidupan masyarakat Toraja, Tongkonan menjadi tempat berkumpul keluarga sekaligus penanda hubungan seseorang dengan rumpun keluarganya.

Di Palawa’, Toraja Utara, misalnya, masyarakat dan keturunan dari sebelas Tongkonan memiliki hubungan dengan setidaknya satu Tongkonan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara mencatat Tongkonan juga digunakan untuk mengetahui silsilah serta menjadi tempat pelaksanaan kegiatan adat, termasuk Rambu Solo’ dan Rambu Tuka’.

Hubungan itu membuat sebuah Tongkonan memiliki nama dan kedudukan tersendiri.

Seseorang tidak hanya mengatakan dari mana ia berasal. Ia juga dapat mengaitkan dirinya dengan Tongkonan tempat garis keluarganya berhubungan.

Karena itu, ketika keluarga berkumpul di Tongkonan, yang hadir bukan sekadar orang-orang yang menempati satu bangunan.

Ada hubungan darah yang kembali dipertemukan.

Ada urusan keluarga yang dibicarakan. Ada kegiatan adat yang disiapkan. Ada pula pengetahuan tentang asal-usul yang terus dikenali melalui hubungan dengan Tongkonan.

Fungsi tersebut membuat Tongkonan berbeda dari rumah tinggal biasa.

Kajian mengenai perubahan arsitektur rumah adat Toraja mencatat Tongkonan memiliki fungsi adat, sosial, dan budaya. Rumah ini diwariskan turun-temurun serta menjadi tempat berkumpul keluarga dan masyarakat, termasuk untuk memusyawarahkan persoalan adat.

Bentuk bangunannya sendiri menyimpan aturan.

Tongkonan merupakan rumah panggung dengan tiga bagian utama, yakni bagian kaki, badan, dan atap. Arah bangunannya secara tradisional juga berkaitan dengan pandangan kosmologi masyarakat Toraja.

Atap yang melengkung memang menjadi bagian yang paling mudah dikenali. Tetapi dindingnya menyimpan cerita lain.

Ukiran pada Tongkonan bukan sekadar ornamen. Dalam tradisi Toraja, passura’ memuat gambaran dan simbol yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Data Warisan Budaya Kemendikbud mencatat passura’ sebagai karya budaya yang memiliki fungsi menyampaikan gagasan dan konsep melalui gambar pada bangunan adat.

Tongkonan juga tidak berdiri terpisah dari lingkungan di sekitarnya.

Di Ke’te’ Kesu’, misalnya, jejeran Tongkonan berhadapan dengan alang. Di kawasan yang sama terdapat ruang pemakaman, tempat upacara, persawahan, dan area penggembalaan kerbau.

Susunan itu memperlihatkan bahwa ruang hidup masyarakat Toraja sejak lama tidak hanya dibentuk oleh rumah.

Ada ruang untuk keluarga. Ada ruang untuk menyimpan hasil pertanian. Ada ruang untuk upacara. Ada ruang untuk berhubungan dengan leluhur dan lingkungan.

Tongkonan menjadi salah satu titik yang menghubungkan semuanya.

Hari ini, kehidupan masyarakat Toraja terus berubah. Anggota keluarga dapat tinggal di kota lain. Rumah modern tumbuh di sekitar permukiman lama. Pekerjaan dan cara hidup pun tidak lagi sama seperti generasi sebelumnya.

Namun, hubungan dengan Tongkonan masih menjadi bagian dari kehidupan sejumlah keluarga Toraja.

Rumah itu tetap dirawat. Keluarga masih berkumpul. Kegiatan adat masih berlangsung. Nama Tongkonan masih menjadi bagian dari cara seseorang mengenali garis keluarganya.

Di sebuah kawasan adat, atap Tongkonan dan alang masih berdiri berhadapan.

Orang-orang datang, duduk, berbicara, lalu pulang.

Besok, pintu Tongkonan itu tetap ada. Yang datang mungkin berbeda, tetapi nama keluarga yang dibawanya tetap sama.(*)