Toraja Utara, Katasulsel.com β€” Mengajar bukan lagi sekadar menyampaikan materi di depan kelas.

Tantangan pendidikan hari ini jauh lebih kompleks. Guru dituntut mampu membuat siswa memahami, bernalar, dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata.

Karena itu, literasi dan numerasi kini menjadi dua “mesin penggerak” utama dalam peningkatan mutu pendidikan.

Semangat itulah yang mewarnai Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi dan Numerasi Bantuan Operasional Satuan Pendidikan Kinerja (Boskin) Tahun 2026 yang digelar Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Toraja Utara.

Kegiatan berlangsung selama dua hari, 23 hingga 24 September 2026, dengan lokasi pelaksanaan di SMP Negeri 1 Rantepao dan SD Katolik Rantepao.

Sebanyak delapan sekolah yang tergabung dalam Gugus 7 dan Gugus 8 mengikuti kegiatan tersebut. Para guru dan kepala sekolah hadir bukan hanya untuk mendengar materi, tetapi juga membedah berbagai tantangan pembelajaran yang mereka hadapi di sekolah masing-masing.

Di era banjir informasi seperti saat ini, kemampuan membaca tidak lagi cukup diukur dari seberapa lancar seseorang mengeja kata.

Literasi telah berkembang menjadi kemampuan memahami informasi, memilah fakta, serta mengolah pengetahuan menjadi solusi.

Hal yang sama berlaku pada numerasi.

Bukan hanya soal angka dan rumus, tetapi kemampuan menggunakan logika dan data dalam menghadapi persoalan sehari-hari.

Karena itu, pendekatan pembelajaran yang digunakan di sekolah pun dituntut ikut berubah.

Dalam bimtek tersebut, peserta mendapat pendampingan langsung dari Erwin Nurjiono, S.Pd., M.Pd., yang bertugas sebagai Fasilitator Daerah (Fasda) Literasi dan Numerasi.

Dengan pendekatan interaktif, Erwin mengajak peserta mendalami konsep deep learning atau pembelajaran mendalam, sebuah pendekatan yang menempatkan pemahaman siswa sebagai tujuan utama, bukan sekadar menyelesaikan materi pelajaran.

Peserta juga diajak mengeksplorasi berbagai praktik baik (best practices) yang telah diterapkan di sejumlah sekolah dalam mengintegrasikan literasi dan numerasi ke dalam proses pembelajaran.

Diskusi berlangsung aktif.

Guru saling berbagi pengalaman, bertukar strategi, hingga membahas cara menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna di ruang kelas.

Bimtek ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi para pendidik untuk membaca kembali kebutuhan peserta didik di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.

BBPMP Sulsel dan Dinas Pendidikan Toraja Utara berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda pelatihan semata.

Lebih dari itu, hasil pendampingan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata di sekolah masing-masing, mulai dari perencanaan pembelajaran, penguatan budaya literasi, hingga peningkatan kualitas hasil belajar siswa.

Sebab pada akhirnya, mutu pendidikan tidak hanya diukur dari nilai yang tertulis di rapor.

Tetapi dari seberapa jauh sekolah mampu melahirkan generasi yang gemar belajar, berpikir kritis, mampu bernalar, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Dan dari Rantepao, ikhtiar itu kembali dimulai.(edy)