Makassar, Katasulsel.com — Dulu, sebuah cerita tidak harus dibuka lewat layar ponsel.

Di tengah masyarakat Makassar, cerita bisa hadir bersama suara alat musik yang bentuknya menyerupai rebab. Seorang penutur menyampaikan kisah dengan irama, sementara senar digesek mengiringi ceritanya.

Tradisi itu dikenal sebagai Sinrilik.

Sinrilik tidak hanya merujuk pada alat musiknya. Istilah tersebut juga digunakan untuk menyebut tradisi bertutur masyarakat etnik Makassar dan teks cerita yang dibawakan oleh penuturnya.

Alat musik Sinrilik memiliki bentuk menyerupai perahu. Bagian perutnya lebih besar dan agak bulat, sementara gagang serta pemutar dawainya dibuat lebih pendek. Bagian permukaan badan alat menggunakan kulit kambing yang telah dihaluskan.

Dulu, Sinrilik tidak hanya muncul sebagai pertunjukan khusus.

Suara penutur dan gesekan Sinrilik dapat dijumpai dalam berbagai acara tradisional masyarakat Makassar, seperti perkawinan, sunatan, naik rumah baru, hingga pesta panen.

Tradisi ini juga pernah menjadi hiburan setelah masyarakat seharian bekerja. Pada malam hari, Sinrilik dapat hadir ketika warga melakukan ronda di kampung.

Cerita yang dibawakan pun beragam.

Salah satunya dikenal dengan nama Sinrilikna Kappalaq Tallumbatua, yang berarti cerita tentang tiga buah kapal. Nama tersebut menunjukkan bahwa Sinrilik juga merujuk pada cerita atau teks yang dituturkan, bukan hanya alat musik pengiringnya.

Dalam pertunjukannya, penutur tidak sekadar membaca cerita.

Teks disampaikan secara berirama atau dilagukan sambil diiringi gesekan alat musik Sinrilik. Cara bertutur tersebut menjadi ciri yang membedakannya dari cerita lisan biasa.

Namun, ruang hidup Sinrilik kini tidak lagi seperti dulu.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat kesenian ini semakin kurang diminati dan jumlah pelakunya terus berkurang. Perubahan tersebut berjalan seiring dengan munculnya berbagai bentuk hiburan baru yang menggantikan fungsi Sinrilik dalam acara masyarakat.

Padahal, pada masa kejayaannya, Sinrilik tidak hanya menjadi tontonan.

Ia hadir ketika orang menikah, ketika anak disunat, ketika sebuah keluarga menempati rumah baru, setelah panen, bahkan ketika warga berhenti bekerja dan berkumpul pada malam hari.

Dari satu acara ke acara lain, cerita terus dituturkan.

Kini, suara itu semakin jarang terdengar.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Makassar hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Makassar terbaru di sini