Makassar, katasulsel.com β Bukan gedungnya yang paling penting.
Bukan pula cat tembok yang masih mengilap.
Melainkan suara anak-anak yang mulai memenuhi ruang kelas.
Itulah tanda sebuah sekolah benar-benar hidup.
Dan pekan ini, kehidupan baru itu mulai terasa di empat daerah Sulawesi Selatan: Barru, Sidrap, Tana Toraja, dan Bone.
Sebanyak 1.508 siswa resmi mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT), program pendidikan berasrama yang digagas pemerintah untuk membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Sejak 31 Juli 2026, kawasan sekolah yang sebelumnya hanya dipenuhi pekerja konstruksi kini berubah wajah.
Ruang kelas mulai terisi.
Asrama mulai ramai.
Lapangan mulai dipakai.
Dan mimpi-mimpi baru mulai dituliskan.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyebut Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pembangunan fisik.
Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai salah satu instrumen memutus rantai kemiskinan.
“Anak-anak dari keluarga prasejahtera harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengubah masa depan mereka. Sekolah Rakyat menjadi salah satu jalannya,” ujar Dody.
Di Sidrap, sebanyak 446 siswa menjadi penghuni pertama kawasan pendidikan terpadu tersebut.
Di Barru, 393 siswa mulai menempati ruang belajar dan asrama yang telah disiapkan.
Sementara di Tana Toraja terdapat 340 siswa dan di Bone sebanyak 329 siswa.
Mereka datang dari berbagai latar belakang.
Ada yang berasal dari desa terpencil.
Ada yang selama ini harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah.
Kini mereka tinggal dalam satu lingkungan pendidikan yang sama.
Belajar.
Berinteraksi.
Dan tumbuh bersama.
Yang menarik, sekolah-sekolah ini tidak dibangun seperti sekolah biasa.
Konsepnya menyerupai kawasan pendidikan terpadu.
Di dalamnya terdapat ruang belajar jenjang SD, SMP, hingga SMA.
Ada laboratorium.
Asrama siswa.
Rumah susun guru.
Masjid.
Gedung serbaguna.
Kantin.
Lapangan olahraga.
Hingga sistem pengolahan limbah dan penyediaan air bersih.
Semua dirancang dalam satu kawasan yang terintegrasi.
Di Barru, misalnya, pemerintah masih mempercepat penyelesaian jaringan air bersih melalui sambungan PDAM.
Namun proses belajar tetap berjalan karena kebutuhan air sementara dipasok menggunakan mobil tangki.
Artinya, sekolah sudah hidup meski beberapa utilitas masih dalam tahap penyempurnaan.
Bagi masyarakat Sulsel, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi cerita baru.
Selama ini, pendidikan sering kali berhenti pada persoalan biaya, jarak, atau keterbatasan fasilitas.
Kini pemerintah mencoba menghadirkan model berbeda.
Anak-anak tidak hanya mendapatkan ruang belajar, tetapi juga tempat tinggal dan lingkungan pendidikan yang lebih lengkap.
Sulawesi Selatan sendiri menjadi salah satu provinsi dengan pembangunan Sekolah Rakyat yang cukup masif.
Total ada sembilan Sekolah Rakyat Terintegrasi yang dibangun.
Saat ini tujuh di antaranya sudah mulai beroperasi, yakni di Makassar, Takalar, Sinjai, Barru, Sidrap, Tana Toraja, dan Bone.
Sementara dua lainnya di Kabupaten Soppeng dan Wajo masih menunggu penyelesaian tahap akhir utilitas pendukung sebelum menerima siswa.
Jika semuanya rampung, Sulsel akan memiliki jaringan Sekolah Rakyat yang membentang dari pesisir Barru hingga pegunungan Tana Toraja.
Dari Sidrap yang dikenal sebagai lumbung pangan hingga Bone yang kaya sejarah.
Dan mungkin, beberapa tahun ke depan, dari sekolah-sekolah inilah akan lahir dokter, guru, insinyur, birokrat, bahkan pemimpin masa depan.
Karena pembangunan sejati bukan hanya membangun jalan.
Bukan hanya membangun jembatan.
Tetapi juga membangun manusia.
Dan hari ini, pembangunan itu sedang dimulai dari ruang-ruang kelas di Barru, Sidrap, Tana Toraja, dan Bone. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
