Luwu Timur, Katasulsel.com – Desa Matano di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, punya cerita yang berbeda dari desa wisata pada umumnya. Berada di tepian Danau Matano, desa ini dikenal sebagai kawasan yang menyimpan jejak peradaban pandai besi sekaligus tradisi menempa besi yang masih diperkenalkan kepada pengunjung.
Desa tersebut dikenal sebagai Desa Wisata Matano Iniaku. Kementerian Pariwisata mencatat Matano Iniaku masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Desa ini terdiri atas empat dusun, yakni Matano, Landangi, Kayu Tanduk, dan Bone Pute.
Matano dan Tradisi Menempa Besi
Salah satu hal yang membuat Matano Iniaku berbeda adalah tradisi Molabu, yaitu aktivitas menempa besi.
Tradisi tersebut berkaitan dengan sejarah masyarakat Matano sebagai komunitas yang telah mengenal pengolahan besi sejak masa lampau. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyebut peninggalan arkeologi di kawasan ini menjadi bukti keberadaan peradaban pandai besi di Matano.
Molabu kini diperkenalkan sebagai salah satu atraksi budaya desa wisata.
Pengunjung dapat melihat proses penempaan besi secara langsung. Aktivitas yang dahulu berkaitan dengan keterampilan dan kebutuhan masyarakat tersebut kemudian menjadi bagian dari pengalaman wisata di Matano Iniaku.
Jejak Peradaban di Tepi Danau
Kisah pandai besi di Matano tidak berdiri sendiri.
Kawasan ini juga menyimpan peninggalan arkeologi yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat masa lalu. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mencatat adanya jejak peradaban besi di Galeri Matano ketika Matano Iniaku menjalani visitasi sebagai salah satu desa yang masuk 50 besar ADWI 2022.
Karena itu, Matano memiliki lapisan cerita yang berbeda.
Ada kehidupan masyarakat desa saat ini, tradisi yang masih diperkenalkan, dan peninggalan yang menunjukkan aktivitas pengolahan logam pada masa lalu.
Berhadapan Langsung dengan Danau Matano
Desa Matano berada di tepian Danau Matano.
Kondisi geografis tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman menuju desa. Berdasarkan data Jadesta, perjalanan dari ibu kota Kabupaten Luwu Timur menuju Matano membutuhkan sekitar satu jam perjalanan darat, kemudian dilanjutkan sekitar satu jam perjalanan menggunakan perahu untuk menyeberangi Danau Matano.
Danau Matano sendiri merupakan danau tektonik dengan kedalaman sekitar 600 meter. Keberadaannya menjadi salah satu unsur utama yang membentuk karakter Desa Matano sebagai kawasan wisata alam dan budaya.
Dari desa, kehidupan masyarakat dan bentang alam danau berada dalam satu ruang.
Aktivitas pertanian, wisata, tradisi, serta kehidupan di tepian air berlangsung berdampingan.
Molabu, Mesiloli, hingga Menangkap Kepiting
Matano Iniaku menawarkan beberapa aktivitas yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Selain Molabu, terdapat Mesiloli, yakni aktivitas memainkan suling. Ada pula Mohulu atau aktivitas menangkap kepiting di kawasan perairan sekitar desa. Ketiganya tercatat sebagai atraksi budaya dan alam dalam profil resmi Desa Wisata Matano Iniaku.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa wisata di Matano tidak hanya bertumpu pada pemandangan.
Pengunjung dapat berinteraksi dengan pengetahuan dan kegiatan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat setempat.
Dari Pertanian hingga Ekowisata
Mayoritas masyarakat Desa Matano bekerja sebagai petani. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat desa ini memiliki sekitar 1.517 penduduk dan aktivitas pertanian menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat.
Dalam perkembangannya, aktivitas wisata kemudian menjadi salah satu sumber kegiatan ekonomi alternatif.
Laporan Kementerian Lingkungan Hidup mengenai praktik pemberdayaan masyarakat di Matano mencatat adanya perubahan dari pola pertanian monokultur menuju polikultur atau agroforestri, bersamaan dengan pengelolaan wisata melalui kelembagaan lokal.
Perubahan tersebut membuat cerita Matano Iniaku tidak berhenti pada pelestarian tradisi.
Desa ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat mengembangkan sumber penghidupan dengan tetap mempertahankan hubungan mereka dengan lingkungan sekitar.
Desa di Antara Besi dan Danau
Matano Iniaku mempertemukan dua unsur yang kuat dalam satu kawasan.
Di satu sisi terdapat Danau Matano dengan bentang alam dan ekosistemnya. Di sisi lain terdapat jejak pengolahan besi yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat Matano.
Molabu menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali keterampilan tersebut kepada generasi dan pengunjung. Sementara kehidupan di tepian danau tetap menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Di desa ini, suara aktivitas menempa besi dan kehidupan di tepian Danau Matano berada dalam satu lanskap yang sama.
