Soppeng, Katasulsel.com β Siang hari di pusat Kota Watansoppeng bukan hanya milik kendaraan, pejalan kaki, dan aktivitas warga. Di atas pepohonan, ribuan kelelawar justru memilih bertahan. Mereka bergelantungan, berhimpitan di antara dahan, sementara kehidupan kota terus bergerak di bawahnya.
Pemandangan itu bukan kejadian sesekali. Kelelawar telah lama hidup di pepohonan pusat Kota Watansoppeng dan menjadi salah satu ciri yang membuat Soppeng dikenal sebagai Kota Kalong. Pemerintah Kabupaten Soppeng bahkan menetapkan kelelawar sebagai salah satu fauna identitas daerah. Kawasan tempat mereka berkumpul kini dikenal sebagai Taman Kalong.
Yang menarik, tempat itu bukan gua dan bukan pula hutan lebat. Kelelawar tersebut justru memilih pepohonan di tengah kota.
Lantas, apa yang membuat mereka betah?
Pakar ekologi satwa liar Universitas Hasanuddin, Risma Maulany, menjelaskan kelelawar di Soppeng memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang berdekatan dengan manusia. Selama kondisi di sekitarnya relatif aman, keberadaan manusia tidak serta-merta membuat satwa tersebut meninggalkan tempat istirahatnya.
Di Soppeng, pepohonan asam menjadi tempat mereka beristirahat pada siang hari. Kawanan kelelawar dapat terlihat jelas bergelantungan di atas jalan dan aktivitas warga. Ketika sore menjelang, mereka mulai meninggalkan pepohonan untuk mencari makan.
Di sinilah pemandangan Kota Watansoppeng menjadi berbeda. Bagi pendatang, ribuan kelelawar di atas pohon mungkin terasa ganjil. Bagi warga Soppeng, pemandangan itu justru telah menjadi bagian dari wajah kota.
Pemerintah Kabupaten Soppeng kemudian mengembangkan kawasan tersebut sebagai Taman Kalong. Tempat itu berada di alun-alun Kota Watansoppeng, Kecamatan Lalabata, dan diresmikan pada Desember 2017. Sejak itu, kawasan populasi kelelawar tersebut semakin dikenal sebagai salah satu ikon kota.
Namun, satu pertanyaan masih menarik: sejak kapan kelelawar itu tinggal di sana?
Tidak ada catatan sejarah yang memastikan kapan tepatnya kawanan kelelawar mulai bersarang di pepohonan pusat kota. Cerita yang hidup di tengah masyarakat mengaitkan keberadaan mereka dengan masa yang sangat lama, bahkan sebelum La Temmamala dikenal sebagai Raja Soppeng pertama. Kisah tersebut merupakan bagian dari cerita masyarakat, bukan catatan sejarah yang dapat memastikan waktunya.
Keberadaan kalong kemudian melahirkan cerita-cerita lain. Salah satunya tentang mitos jodoh. Masyarakat setempat mengenal kepercayaan bahwa pendatang yang terkena kotoran kelelawar di sekitar kawasan tersebut dipercaya akan mendapatkan jodoh orang Soppeng. Namun, cerita itu merupakan mitos yang berkembang di masyarakat dan belum memiliki dasar penelitian yang memastikan kebenarannya.
Lebih dari sekadar cerita, kelelawar telah menempati posisi tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat Soppeng. Penelitian Universitas Negeri Makassar mencatat keberadaan kelelawar di Watansoppeng berkaitan dengan identitas masyarakat, simbol persatuan, serta perkembangan kawasan tersebut sebagai ikon pariwisata.
Maka, ada sesuatu yang menarik dari pemandangan di pusat Kota Watansoppeng. Manusia membangun kota, sementara kalong tetap memilih pohon-pohon yang sama sebagai tempat pulang.
Menjelang petang, ketika satu per satu kelelawar mulai membuka sayap, langit Soppeng perlahan berubah menjadi jalur keberangkatan.
Besok siang, mereka akan kembali lagi.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
