Soppeng, Katasulsel.com — Sebuah rumah panggung berdiri di Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Bentuknya menyerupai rumah bangsawan Bugis, tetapi kawasan di sekitarnya justru memperlihatkan keragaman arsitektur dari berbagai daerah di Indonesia.
Bangunan itu adalah Rumah Adat Sao Mario.
Kompleks Sao Mario dikenal sebagai kawasan wisata budaya yang menghimpun rumah bergaya Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Minangkabau, hingga Batak. Di dalamnya juga terdapat koleksi benda antik dari berbagai daerah dan luar negeri.
Dijuluki Bola Seratu
Ada alasan mengapa Rumah Adat Sao Mario dikenal masyarakat dengan sebutan Bola Seratu.
Rumah utama Sao Mario merupakan rumah panggung yang ditopang lebih dari 100 tiang. Jumlah tiang inilah yang menjadi salah satu ciri yang membuatnya mendapat julukan tersebut. Penelitian arsitektur Universitas Hasanuddin tahun 2024 juga mencatat karakter rumah ini sebagai rumah saoraja, yakni rumah bangsawan Bugis, yang terlihat antara lain dari bentuk bangunan dan susunan timpalaja-nya.
Pada bagian depan, timpalaja Rumah Adat Sao Mario tersusun lima tingkat, sementara bagian belakang terdiri atas empat tingkat. Di samping rumah utama terdapat baruga mattamping riolo. Empat pilar dari kayu hitam juga menjadi bagian dari karakter bangunannya.
Detail tersebut membuat Sao Mario tidak tepat jika hanya disebut sebagai rumah panggung biasa.
Arsitekturnya memperlihatkan upaya menghadirkan kembali karakter rumah bangsawan Bugis dalam sebuah kompleks yang dibangun pada masa modern.
Dibangun untuk Orang Tua
Kawasan Sao Mario didirikan oleh Prof. Andi Mustari Pide, seorang akademisi yang juga pernah menjadi rektor Universitas Ekasakti. Penelitian Universitas Hasanuddin mencatat kawasan tersebut didirikan sebagai bentuk persembahan Prof. Mustari kepada orang tuanya.
Nama Sao Mario sendiri memiliki beberapa latar penamaan. Dalam kajian arsitektur Universitas Hasanuddin, kata sao berarti rumah, sedangkan mario berkaitan dengan nama kawasan Marioriawa. Penamaan itu juga dikaitkan dengan nama Datu Mario serta gabungan nama keluarga pendirinya.
Dari sinilah Sao Mario memiliki cerita yang berbeda dibandingkan rumah adat yang benar-benar merupakan bangunan tradisional peninggalan masa lampau.
Sao Mario merupakan ruang budaya yang dibangun untuk menghadirkan kembali karakter arsitektur tradisional sekaligus menjadi tempat penyimpanan dan pengenalan benda-benda budaya.
Bukan Hanya Rumah Bugis
Daya tarik Sao Mario terletak pada kompleksnya.
Pemerintah Kabupaten Soppeng mencatat keberadaan rumah dengan gaya arsitektur Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Minangkabau, dan Batak. Dinas Pariwisata Soppeng juga menyebut terdapat rumah lontara di kawasan tersebut.
Karena itu, pengunjung tidak hanya menemukan satu bentuk rumah tradisional ketika datang ke Sao Mario.
Keragaman tersebut membuat kawasan ini dapat dibaca sebagai semacam ruang perjumpaan berbagai identitas arsitektur Nusantara. Masing-masing rumah membawa bentuk, struktur, dan karakter visual yang berbeda.
Di dalam kompleks juga terdapat koleksi benda antik, mulai dari kursi, meja, tempat tidur, senjata hingga benda bernilai sejarah lainnya. Pemerintah Kabupaten Soppeng menyebut fungsi Sao Mario juga berkaitan dengan museum.
Pernah Menjadi Ruang Festival Budaya
Sao Mario tidak hanya digunakan sebagai objek wisata.
Pada 2023, kompleks ini menjadi salah satu lokasi rangkaian Festival Budaya Gau Maraja La Patau Matanna Tikka Soppeng. Kegiatan tersebut mencakup jelajah budaya, pameran benda pusaka, kirab budaya, permainan tradisional, pementasan seni, seminar, hingga pertemuan keluarga keturunan La Patau.
Kehadiran berbagai kegiatan budaya memperlihatkan bahwa kompleks Sao Mario masih digunakan sebagai ruang untuk mempertemukan wisata, kebudayaan, dan ingatan sejarah.
Namun, kawasan ini juga menghadapi tantangan pengelolaan. Penelitian Universitas Hasanuddin pada 2024 mencatat adanya lahan kosong yang cukup luas serta penurunan jumlah wisatawan. Penelitian tersebut kemudian mengusulkan pengembangan lanskap dan fasilitas agar kawasan dapat kembali memiliki aktivitas wisata yang lebih beragam.
Sao Mario akhirnya bukan sekadar rumah besar dengan ratusan tiang.
Ia adalah ruang yang mempertemukan arsitektur Bugis dengan bentuk-bentuk rumah dari berbagai penjuru Nusantara. Di satu sisi, bangunan utamanya mempertahankan karakter saoraja Bugis. Di sisi lain, kompleksnya membuka ruang bagi rumah-rumah dengan identitas arsitektur yang berbeda.
Di Batu-Batu, Soppeng, keberagaman itu berdiri dalam satu kawasan: lebih dari seratus tiang menopang satu rumah, sementara rumah-rumah lain membawa cerita dari daerah yang berbeda.
