Soppeng, Katasulsel.com — Di puncak sebuah bukit di Dusun Libureng, Desa Goarie, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, terdapat sebuah situs yang menyimpan cerita tentang awal pemerintahan Soppeng Rilau.

Namanya Situs Goarie Tomanurung.

Di lokasi tersebut terdapat teras batu dan enam altar batu yang berada di bagian puncak. Situs ini tercatat sebagai Situs Megalitik Goarie dengan nomor registrasi cagar budaya 894. Pemerintah Kabupaten Soppeng juga memasukkannya sebagai salah satu kawasan wisata budaya dan sejarah di Kecamatan Marioriwawo.

Enam Altar di Puncak Bukit

Secara arkeologis, Situs Goarie berada di atas puncak bukit dengan kemiringan lereng sekitar 30 hingga 35 derajat. Lokasinya berada pada ketinggian sekitar 206 meter di atas permukaan laut.

Di bagian puncak terdapat enam altar batu yang disusun dan kini dilindungi bangunan beratap seng. Dalam kajian arkeologi, susunan tersebut menjadi bagian penting dari tinggalan megalitik Goarie.

Di sekitar altar juga pernah ditemukan sejumlah benda yang berkaitan dengan praktik persembahan, antara lain pedupaan, daun sirih, kapur, pinang, dan telur ayam.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa situs tidak hanya memiliki nilai sebagai tinggalan batu, tetapi juga berkaitan dengan praktik ritual yang dilakukan masyarakat.

Kisah We Temmappuppu

Nama Goarie memiliki tempat khusus dalam tradisi sejarah Soppeng.

Dalam Lontara Attoriolonna Soppeng, Goarie disebut sebagai tempat kedatangan To Manurung bernama We Temmappuppu, yang disebut sebagai datu atau raja pertama wilayah Soppeng Rilau.

Menurut kisah tersebut, We Temmappuppu kemudian dikukuhkan sebagai pemimpin atas kesepakatan empat Matoa, yakni Matoa Libureng, Matoa Mario, Matoa La’bong, dan Matoa Bulu Matanre.

Kisah ini merupakan bagian dari tradisi sejarah yang diwariskan masyarakat Soppeng. Karena bersumber dari tradisi lontara dan ingatan masyarakat, cerita mengenai To Manurung perlu dibaca sebagai bagian dari historiografi lokal, bukan disamakan begitu saja dengan bukti arkeologis mengenai peristiwa yang berlangsung pada masa tersebut.

Namun, justru di situlah nilai Situs Goarie.

Cerita dalam lontara bertemu dengan tinggalan batu yang masih dapat dilihat di lokasi.

Tempat Sejarah yang Masih Didatangi

Sekitar 700 meter di sebelah selatan lokasi utama, terdapat bangunan beratap seng yang melindungi sebuah altar batu. Di sekitarnya juga ditemukan dua batu dakon atau aggalacengeng. Salah satu altar tersebut masih dianggap keramat oleh masyarakat.

Hubungan masyarakat dengan situs tidak berhenti pada cerita masa lalu.

Pemerintah Desa Goarie masih menyelenggarakan Pesta Adat Pattaungeng Situs Goarie. Pada Januari 2024, kegiatan tersebut digelar di lokasi situs dan diisi dengan Tari Mabbissu serta pembacaan sejarah Mattoriolo ri Goarie. Pemerintah Kabupaten Soppeng menyebut kegiatan itu sebagai bagian dari upaya mengenang perjalanan sejarah masyarakat setempat.

Pemerintah daerah juga pernah menjelaskan bahwa tradisi Pattaungeng di Goarie berkaitan dengan penghormatan terhadap sejarah We Temmappuppu Arung Libureng dan perjalanan awal pemerintahan Soppeng.

Artinya, Goarie bukan situs yang hanya dikunjungi ketika penelitian atau pendataan dilakukan. Ia masih menjadi ruang tempat masyarakat menjalankan tradisi dan mengingat kembali sejarah leluhurnya.

Dari Batu Menjadi Ingatan

Situs Megalitik Goarie kini menghadapi persoalan pelestarian. Database Cagar Budaya Kabupaten Soppeng 2025 mencatat kondisi situs utama mengalami kerusakan berat akibat erosi, perubahan tata guna lahan, serta minimnya perlindungan formal. Akses menuju lokasi juga masih menjadi tantangan karena berada di kawasan perbukitan.

Meski demikian, nilai Goarie tidak hanya berada pada batu-batunya.

Enam altar di puncak bukit, cerita tentang We Temmappuppu, tradisi Pattaungeng, dan ingatan masyarakat membentuk satu lanskap budaya yang saling berhubungan.

Di Goarie, sejarah Soppeng tidak hanya tersimpan dalam tulisan. Ia berada di atas bukit, di antara batu-batu altar yang masih dinaungi bangunan sederhana, dan terus dipanggil kembali melalui tradisi yang diwariskan masyarakat.

Di tempat itulah kisah tentang awal Soppeng Rilau terus menemukan ruang untuk diceritakan.