Soppeng, Katasulsel.com — Sebuah patung setinggi sekitar lima meter berdiri di Desa Tettikenrarae, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Sosok yang digambarkan adalah La Tenritatta Arung Palakka, tokoh penting dalam sejarah politik Sulawesi Selatan abad ke-17.

Di sekelilingnya berdiri tembok yang dihiasi relief. Kompleks tersebut dikenal sebagai Situs Arung Palakka, sebuah situs yang tidak hanya menyimpan cerita sejarah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat masa kini membangun ingatan tentang seorang tokoh masa lalu.

Patung Lima Meter di Tettikenrarae

Elemen paling menonjol di situs ini adalah patung Arung Palakka dengan tinggi sekitar lima meter. Patung tersebut dikelilingi tembok berpahat relief yang menggambarkan sejumlah fragmen sejarah lokal.

Database Cagar Budaya Kabupaten Soppeng 2025 mencatat situs ini memiliki luas sekitar 8.000 meter persegi dan berada tidak jauh dari permukiman warga. Akses menuju lokasi juga relatif mudah karena terhubung dengan jaringan jalan desa.

Keberadaan patung dan relief membuat Situs Arung Palakka tampil berbeda dibandingkan sejumlah situs sejarah Soppeng lainnya.

Jika banyak tinggalan sejarah di daerah ini berupa makam, rumah bangsawan, atau batu megalitik, Situs Arung Palakka justru menggunakan monumen dan relief sebagai medium untuk menghadirkan kembali sosok tokoh sejarah.

Tempat yang Diyakini sebagai Kelahiran

Ada cerita penting yang melekat pada lokasi tersebut.

Menurut keterangan masyarakat setempat yang dihimpun dalam pendataan cagar budaya Soppeng, lokasi situs diyakini sebagai tempat kelahiran Arung Palakka. Masyarakat juga memiliki tradisi tutur yang menyebut tempat tersebut berkaitan dengan lokasi dikuburkannya ari-ari tokoh tersebut.

Namun, keterangan tersebut merupakan tradisi tutur masyarakat, bukan bukti arkeologis mengenai kelahiran Arung Palakka.

Database Cagar Budaya Kabupaten Soppeng 2025 justru memberikan catatan penting: struktur patung dan relief yang ada sekarang merupakan konstruksi modern. Karena itu, situs tersebut lebih tepat dipahami sebagai situs memorial, bukan bangunan atau struktur asli dari abad ke-17.

Di sinilah Situs Arung Palakka menjadi menarik.

Yang dilestarikan bukan semata-mata benda yang berasal dari masa hidup Arung Palakka, melainkan ingatan masyarakat terhadap tokoh tersebut.

Arung Palakka dan Sejarah Sulawesi Selatan

Nama Arung Palakka tidak dapat dilepaskan dari konflik politik Sulawesi Selatan pada abad ke-17.

Ia merupakan salah satu tokoh utama dalam pergulatan politik antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dan VOC. Hubungannya dengan VOC membuat posisi Arung Palakka dalam sejarah memiliki banyak pembacaan.

Database cagar budaya Soppeng mencatat adanya perbedaan cara masyarakat memandang tokoh tersebut. Sebagian narasi lokal menempatkan Arung Palakka sebagai pahlawan yang membantu membebaskan Soppeng dari dominasi Gowa. Namun, perspektif sejarah yang lebih kritis juga melihat aliansinya dengan VOC dalam konteks meluasnya pengaruh kolonial di kawasan tersebut.

Perbedaan pandangan itu membuat relief di Situs Arung Palakka tidak sekadar menjadi ornamen.

Relief tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat memilih, menampilkan, dan mengingat kembali perjalanan seorang tokoh yang memiliki posisi kompleks dalam sejarah Sulawesi Selatan.

Pattaungeng dan Ingatan yang Tetap Hidup

Ingatan terhadap Arung Palakka juga tidak hanya hadir melalui patung.

Masyarakat Tettikenrarae masih menggelar Pesta Adat Pattaungeng Situs Arung Palakka. Pemerintah Kabupaten Soppeng mencatat kegiatan tersebut sebagai tradisi turun-temurun yang melibatkan masyarakat dan tokoh adat setempat. Pada 7 Oktober 2024, pesta adat tersebut kembali digelar di Tettikenrarae.

Dengan demikian, situs ini memiliki kehidupan sosial yang melampaui fungsi monumen.

Patung menjadi penanda fisik, relief menghadirkan visualisasi sejarah, sementara pesta adat menjadi ruang ketika masyarakat kembali berkumpul dan menghidupkan ingatan terhadap masa lalu.

Situs Arung Palakka akhirnya memperlihatkan satu sisi menarik dari sejarah: masa lalu tidak selalu bertahan karena bangunan aslinya masih utuh.

Kadang, ia bertahan melalui patung yang dibangun kemudian, relief yang menceritakan kembali sebuah perjalanan, dan tradisi masyarakat yang terus mengulang ingatan tentang seorang tokoh.

Di Tettikenrarae, Arung Palakka tidak hanya hadir sebagai nama dalam buku sejarah. Sosoknya berdiri lima meter di tengah desa, sementara masyarakat terus menegosiasikan makna sejarahnya dari satu generasi ke generasi berikutnya.