Soppeng, Katasulsel.com — Sebuah rumah panggung berdiri di Dusun Rompegading, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Bentuknya masih memperlihatkan karakter rumah bangsawan Bugis, tetapi bagian bawah bangunan justru menunjukkan pengaruh arsitektur yang berkembang pada masa kolonial.

Bangunan tersebut adalah Saoraja Pattojo, rumah yang berkaitan dengan keluarga bangsawan Pattojo dan kini menjadi bagian penting dari sejarah sosial-budaya Soppeng.

Dalam pendataan cagar budaya Kabupaten Soppeng 2025, Saoraja Pattojo tercatat sebagai bangunan bersejarah yang masih dikelola keluarga Datu Pantjaitana. Bangunan tersebut juga masih digunakan dalam kegiatan sosial dan adat keluarga.

Rumah Panggung dengan Tembok Melengkung

Dari luar, Saoraja Pattojo memperlihatkan ciri rumah panggung melalui penggunaan tiang dan material kayu pada bagian utama bangunan.

Namun, bagian bawahnya memiliki karakter yang berbeda.

Dokumen kepurbakalaan mencatat bagian bawah rumah menggunakan tembok yang dibentuk melengkung. Bentuk tersebut menjadi salah satu elemen yang memperlihatkan pengaruh arsitektur kolonial Belanda pada bangunan. Rumah utama memiliki ukuran sekitar 12 x 7 meter, dengan bagian yang menonjol di sisi bangunan berukuran sekitar 3 x 6 meter.

Pada bagian depan terdapat empat jendela. Sementara itu, sisi kiri dan kanan bangunan menonjol dan digunakan sebagai ruang tamu serta kamar.

Perpaduan tersebut membuat Saoraja Pattojo tidak bisa dibaca hanya sebagai rumah tradisional Bugis.

Database Cagar Budaya Kabupaten Soppeng 2025 menyebut bangunan ini dibangun pada masa transisi kekuasaan kolonial Belanda di Sulawesi Selatan, sekitar awal abad ke-20. Berdasarkan keterangan keturunan Datu Pantjaitana, arsitekturnya memperlihatkan kombinasi unsur lokal dan gaya Indo-Europeesche stijl.

Rumah Keluarga Bangsawan

Saoraja dalam tradisi Bugis bukan sekadar tempat tinggal.

Bangunan semacam ini berkaitan dengan kedudukan sosial pemiliknya dan dapat menjadi ruang berlangsungnya berbagai aktivitas keluarga serta adat.

Saoraja Pattojo hingga kini masih dimiliki dan dirawat oleh keluarga keturunan Datu Pantjaitana. Dalam pendataan 2025, kondisi bangunan disebut tergolong baik. Pembersihan dilakukan setiap hari oleh anggota keluarga, sementara perawatan besar terakhir tercatat pada 2018.

Di dalam rumah juga masih tersimpan sejumlah benda lama.

Pendataan tersebut mencatat adanya berangkas kayu dan besi, guci debu, pena, koin kuno, serta pamoneang selendang. Benda-benda itu tidak hanya menjadi koleksi lama, tetapi berkaitan dengan status dan legitimasi adat keluarga Pattojo.

Keberadaan benda-benda tersebut membuat sejarah Saoraja Pattojo tidak berhenti pada bentuk bangunan.

Rumah itu juga menyimpan benda yang merekam kehidupan keluarga bangsawan dari masa ke masa.

Kini Menjadi Museum Datu Pattojo

Babak baru dalam sejarah Saoraja Pattojo dimulai pada 23 Juli 2024.

Pada hari tersebut, Pemerintah Kabupaten Soppeng meresmikan Museum Datu Pattojo yang berada di Saoraja Pattojo, Desa Rompegading, Kecamatan Liliriaja. Museum tersebut dibentuk oleh rumpun keluarga Datu Pattojo untuk menyimpan dan memperkenalkan berbagai peninggalan tokoh tersebut.

Pendirian museum bermula dari ditemukannya foto perkawinan Datu Pattojo. Penemuan tersebut kemudian mendorong keluarga menelusuri kembali barang-barang peninggalan yang masih tersimpan.

Museum itu akhirnya menjadi ruang untuk menempatkan koleksi tersebut sekaligus memperkenalkan sejarah Datu Pattojo kepada masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Soppeng menyebut Museum Datu Pattojo dapat menjadi destinasi wisata berbasis budaya sekaligus media pembelajaran dan penelitian lapangan bagi pelajar, mahasiswa, guru, dan masyarakat.

Warisan yang Masih Digunakan

Keistimewaan Saoraja Pattojo terletak pada kesinambungan fungsinya.

Bangunan ini bukan sekadar objek tua yang ditinggalkan. Keluarga masih membersihkannya, kegiatan adat masih berlangsung, dan peninggalan keluarga masih tersimpan di dalamnya.

Bahkan pada peresmian Museum Datu Pattojo, Saoraja menjadi bagian dari rangkaian upacara Mallekke’ Je’ra yang melibatkan keluarga bangsawan dan masyarakat. Prosesi tersebut memperlihatkan bagaimana rumah lama tetap menjadi ruang penting dalam kehidupan sosial keluarga Pattojo.

Di tengah perkembangan bangunan modern, Saoraja Pattojo mempertahankan bentuk rumah panggung Bugis sekaligus menyimpan jejak perubahan zaman pada dinding dan struktur bawahnya.

Rumah itu akhirnya menjadi semacam arsip yang bisa dilihat langsung: tiangnya menyimpan karakter Bugis, temboknya merekam masa kolonial, sementara benda-benda di dalamnya menjaga ingatan keluarga bangsawan Pattojo.