Makassar, katasulsel.com — Nama H. Suwardi Haseng kembali menjadi perhatian dalam susunan kepengurusan baru DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2025–2030.

Bupati Soppeng itu dipercaya Ketua DPD I Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), sebagai Wakil Ketua Bidang Kerjasama Ormas, Hubungan Kerjasama Legislatif dan Eksekutif.

Penugasan ini menarik karena datang di tengah berbagai spekulasi politik yang sempat beredar. Suwardi Haseng sebelumnya pernah diisukan akan meninggalkan Partai Golkar dan berlabuh ke partai lain.

Namun, susunan baru Golkar Sulsel justru memperlihatkan pesan yang berbeda.

IAS tidak hanya mempertahankan Suwardi Haseng di dalam struktur, tetapi menempatkannya pada salah satu bidang yang memiliki peran penting dalam membangun jejaring politik, hubungan kelembagaan, hingga konsolidasi organisasi.

Lebih menarik lagi, Suwardi Haseng berada dalam satu rumpun kerja strategis bersama sejumlah figur penting Golkar Sulsel, yakni Abbas Hady pada Bidang Kebijakan Publik dan Isu-Isu Strategis, Maqbul Halim pada Bidang Komunikasi Publik, Muhammad Yusuf pada Bidang Media dan Penggalangan Opini, serta Dr. Nawir Rahman pada Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM.

Jika dicermati, bidang-bidang tersebut menjadi pusat pergerakan gagasan, komunikasi politik, pendidikan kader, hingga penguatan citra partai di tengah masyarakat.

Artinya, kepercayaan yang diberikan kepada Suwardi Haseng bukan sekadar jabatan struktural, tetapi bagian dari mesin strategis Golkar Sulsel menghadapi dinamika politik ke depan.

Bagi banyak kader, penempatan ini sekaligus menjadi jawaban atas berbagai isu yang sempat berkembang.

Ketika nama Suwardi Haseng dikaitkan dengan kemungkinan hengkang dari Golkar, IAS justru memberi ruang penting dalam kepengurusan baru.

Sebuah sinyal bahwa hubungan politik keduanya tetap terjaga, dan Golkar masih menempatkan Bupati Soppeng itu sebagai salah satu figur yang diperhitungkan dalam peta politik Sulawesi Selatan.

Apa makna politik di balik kepercayaan besar IAS kepada Suwardi Haseng? Dan mengapa posisi ini dianggap strategis dalam desain baru Golkar Sulsel? (*)