Bulukumba, Katasulsel.com — Sebuah bangunan tua berdiri di Kelurahan Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Bentuknya tidak seperti bangunan pada umumnya. Bagian dalamnya memiliki struktur segi lima, dengan ruang tengah yang luas dan kamar-kamar di sisi bangunan.

Bangunan itu dikenal sebagai Pesanggrahan Tanete.

Pemerintah Kabupaten Bulukumba menyebutnya sebagai bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda. Setelah direvitalisasi, bangunan tersebut kembali tampil lebih tertata dan menjadi salah satu penanda sejarah di kawasan Tanete.

Namun, semakin jauh menelusuri sejarahnya, semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Bukan karena bangunannya tidak dikenal, melainkan karena sejarah awal Pesanggrahan Tanete belum sepenuhnya terdokumentasi dalam satu versi yang pasti.

Bangunan Tua dengan Bentuk Tak Biasa

Salah satu ciri yang paling mudah dikenali dari Pesanggrahan Tanete adalah bentuk bangunannya.

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bulukumba menyebut struktur bangunan tersebut memiliki bentuk segi lima yang khas. Lokasinya berada di Kelurahan Tanete, Kecamatan Bulukumpa.

Bagian dalam bangunan terdiri atas ruang utama dan sejumlah kamar. Dokumentasi mengenai bangunan tersebut juga memperlihatkan penggunaan material lokal pada sejumlah bagian konstruksi.

Keberadaannya bukan sekadar menjadi sisa bangunan kolonial.

Pada 2023, Pemerintah Kabupaten Bulukumba melakukan revitalisasi terhadap Pesanggrahan Tanete. Pekerjaan tersebut mencakup rehabilitasi bangunan dan penataan kawasan di sekitarnya.

Pada Mei 2026, kondisi Pesanggrahan Tanete kembali mendapat perhatian setelah bangunan yang telah direvitalisasi tersebut dikunjungi mantan Wakil Wali Kota Makassar Andi Herry Iskandar. Pemerintah Kabupaten Bulukumba menyebut bangunan itu kini tampil lebih tertata setelah proses revitalisasi.

Pernah Disiapkan untuk Apa?

Di sinilah sejarah Pesanggrahan Tanete menjadi menarik.

Dinas Pariwisata Bulukumba menyebut bangunan tersebut pada awalnya direncanakan sebagai calon pusat pemerintahan Hindia Belanda. Namun, rencana itu kemudian berubah dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Ujung Bulu, yang kini menjadi pusat Kota Bulukumba.

Setelah itu, bangunan tersebut disebut difungsikan sebagai tempat persinggahan pejabat-pejabat Belanda yang berkunjung ke wilayah Tanete.

Namun, sumber lain menunjukkan bahwa cerita mengenai fungsi awal Pesanggrahan Tanete belum sepenuhnya tunggal.

Kajian dan penelusuran sejarah lokal yang diterbitkan Warta Bulukumba mencatat adanya beberapa versi mengenai bangunan tersebut. Ada versi yang mengaitkannya dengan rencana pusat pemerintahan, ada yang menyebutnya sebagai tempat peristirahatan pejabat Belanda, dan ada pula dugaan hubungan dengan aktivitas perkebunan.

Karena itu, tidak semua cerita tersebut dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sudah final.

Justru bagian inilah yang membuat Pesanggrahan Tanete berbeda.

Bangunannya masih berdiri, tetapi cerita tentang bagaimana dan untuk apa persisnya bangunan itu pertama kali digunakan masih menyisakan ruang penelitian.

Foto Tahun 1931

Jejak keberadaan Pesanggrahan Tanete tidak hanya berasal dari cerita lisan.

Sebuah foto lama yang berasal dari koleksi KITLV memperlihatkan bangunan tersebut sekitar 1931. Foto itu kemudian dibandingkan dengan kondisi Pesanggrahan Tanete pada 2024 dalam dokumentasi yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Bulukumba.

Perbandingan foto lama dan kondisi sekarang menunjukkan bahwa bangunan tersebut telah melewati rentang waktu yang panjang.

Lebih dari sembilan dekade setelah foto tersebut dibuat, Pesanggrahan Tanete masih dapat dikenali sebagai bangunan yang sama.

Perubahan tentu terjadi pada bagian tertentu, terutama setelah proses pemeliharaan dan revitalisasi. Namun, keberadaan struktur utamanya membuat masyarakat masih dapat melihat jejak bangunan kolonial tersebut.

Kisah Westerling, Jangan Disamakan dengan Fakta

Ada pula cerita yang sering dikaitkan dengan Pesanggrahan Tanete: Westerling disebut pernah singgah di tempat tersebut.

Cerita itu memang muncul dalam sejumlah sumber lokal dan bahkan dicantumkan dalam halaman Dinas Pariwisata Bulukumba. Namun, sumber tersebut sendiri menggunakan kata “konon”. Sumber penelusuran sejarah lokal juga menyebutnya sebagai cerita yang berkembang, bukan bukti dokumenter yang memastikan kunjungan tersebut.

Karena itu, kisah tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari cerita yang berkembang mengenai Pesanggrahan Tanete, bukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi.

Pembedaan ini penting agar nilai sejarah bangunan tidak justru tertutup oleh cerita yang belum memiliki bukti cukup.

Dari Bangunan Kolonial Menjadi Ruang Publik

Kini, Pesanggrahan Tanete memasuki babak baru.

Setelah direvitalisasi, bangunan tersebut tampil lebih tertata. Pemerintah Kabupaten Bulukumba berharap keberadaan bangunan bersejarah itu dapat menjadi bagian dari ruang publik sekaligus memperkuat daya tarik kawasan Tanete.

Perubahan fungsi tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah bangunan peninggalan masa kolonial dapat memperoleh kehidupan baru.

Dahulu, bangunan ini berkaitan dengan aktivitas pemerintahan dan pejabat kolonial. Kini, keberadaannya justru menjadi bagian dari memori sejarah masyarakat Bulukumba.

Bagi pencari wisata sejarah Bulukumba, Pesanggrahan Tanete menawarkan sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya bangunan tua yang dapat dilihat, tetapi juga cerita tentang perubahan pusat pemerintahan, jejak kolonial, arsitektur yang khas, dan sejarah lokal yang belum seluruhnya menemukan satu jawaban.

Pesanggrahan Tanete mungkin telah berdiri lebih dari seabad.

Namun, sebagian ceritanya masih terus dicari.

Di balik dinding bangunan tua dan bentuk segi limanya, Pesanggrahan Tanete menyimpan satu hal yang membuatnya tetap menarik hingga sekarang: bangunannya masih ada, tetapi sejarah lengkap tentangnya belum sepenuhnya selesai ditulis.