Soppeng, Katasulsel.com — Sebuah bangunan bergaya Eropa berdiri di pusat Watansoppeng, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Warna putih dan hijau membuatnya mudah dikenali dari kejauhan.
Bangunan itu bernama Villa Yuliana.
Usianya telah lebih dari satu abad. Dibangun pada 1905 dan selesai pada 1906, bangunan tersebut kini berfungsi sebagai Museum Latemmamala dan menjadi salah satu landmark Kabupaten Soppeng.
Namun, ada cerita menarik di balik namanya.
Villa Yuliana berkaitan dengan keluarga kerajaan Belanda. Bangunan tersebut dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan namanya merujuk kepada Putri Yuliana, putri Ratu Wilhelmina.
Yang menarik, Ratu Wilhelmina dan Putri Yuliana yang disebut dalam rencana kunjungan ke Soppeng ternyata tidak pernah datang ke bangunan tersebut.
Dibangun pada Awal Abad ke-20
Villa Yuliana mulai dibangun pada 1905 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat pembangunannya selesai dan diresmikan pada 1906.
Bangunan tersebut memiliki arsitektur yang memadukan gaya neo-klasik Eropa dan unsur Bugis.
Perpaduan itu membuat Villa Yuliana berbeda dari bangunan kolonial yang hanya menampilkan bentuk arsitektur Eropa.
Lokasinya berada di kawasan pusat Kabupaten Soppeng, tepatnya di wilayah Botto, Kecamatan Lalabata. Pemerintah Kabupaten Soppeng memasukkan Villa Yuliana sebagai salah satu objek wisata sejarah dan budaya daerah.
Sejak awal, bangunan ini memiliki fungsi yang berkaitan dengan kunjungan pejabat kolonial.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat Villa Yuliana dibangun sebagai tempat peristirahatan para petinggi Kerajaan Belanda yang berkunjung ke Sulawesi.
Mengapa Namanya Yuliana?
Nama Villa Yuliana berkaitan dengan kelahiran Putri Yuliana, anak Ratu Wilhelmina yang pada masa itu sangat dinantikan.
Versi sejarah yang dimuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan menyebut pembangunan villa tersebut bertepatan dengan kelahiran Putri Yuliana sehingga bangunan itu kemudian diberi nama Villa Yuliana.
Sementara halaman Museum Villa Yuliana milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan menyebut bangunan itu dibangun pada 1905 oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai hadiah bagi Ratu Wilhelmina dan putrinya, yang saat itu direncanakan berkunjung ke Soppeng.
Namun, kunjungan tersebut batal karena situasi keamanan. Akibatnya, keduanya tidak pernah menempati Villa Yuliana.
Di sinilah kisah Villa Yuliana menjadi menarik.
Sebuah bangunan telah disiapkan dalam konteks kunjungan keluarga kerajaan Belanda, tetapi orang yang namanya melekat pada bangunan tersebut justru tidak pernah tinggal di dalamnya.
Lebih dari seabad kemudian, bangunan itu masih berdiri di Soppeng.
Arsitektur Eropa Bertemu Bugis
Daya tarik Villa Yuliana tidak hanya terletak pada usianya.
Arsitekturnya memperlihatkan pertemuan antara gaya Eropa dan unsur lokal Bugis. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyebut perpaduan tersebut sebagai arsitektur neo-klasik Eropa dan Bugis.
Perpaduan itu menjadi salah satu alasan Villa Yuliana memiliki karakter visual yang berbeda.
Bangunan kolonial tersebut berdiri di lingkungan masyarakat Bugis, tetapi membawa bentuk arsitektur yang berkembang dalam pemerintahan Hindia Belanda.
Dengan demikian, Villa Yuliana tidak hanya menjadi peninggalan kolonial. Bangunan ini juga menjadi salah satu jejak pertemuan kebudayaan Eropa dan lokal yang berlangsung di Soppeng pada awal abad ke-20.
Kini Menjadi Museum
Setelah melewati perjalanan panjang, fungsi Villa Yuliana berubah.
Bangunan tersebut kini digunakan sebagai Museum Latemmamala Kabupaten Soppeng. Di dalamnya terdapat berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Soppeng, termasuk koleksi prasejarah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyebut salah satunya berupa fosil gading gajah yang ditemukan di Kecamatan Lilirilau pada 1993.
Statusnya sebagai museum membuat bangunan tersebut tidak berhenti sebagai peninggalan arsitektur.
Villa Yuliana menjadi ruang untuk menyimpan dan memperkenalkan berbagai jejak sejarah Soppeng kepada masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Soppeng juga memasukkannya dalam kawasan peruntukan pariwisata budaya dan sejarah. Dalam dokumen perencanaan daerah, Villa Yuliana atau Museum Latemmamala tercatat bersama sejumlah situs sejarah lain di Kecamatan Lalabata.
Salah Satu Jejak Sejarah Soppeng
Villa Yuliana juga menunjukkan bagaimana satu bangunan dapat menyimpan beberapa lapisan cerita sekaligus.
Ada sejarah pemerintahan kolonial, hubungan dengan keluarga kerajaan Belanda, arsitektur Eropa dan Bugis, serta perkembangan museum di Soppeng.
Bagi wisatawan yang mencari wisata sejarah Soppeng, Villa Yuliana menjadi salah satu lokasi yang dapat dikunjungi untuk melihat peninggalan tersebut secara langsung.
Bangunan ini juga memperlihatkan perubahan fungsi ruang dari masa ke masa.
Dahulu, Villa Yuliana berkaitan dengan kepentingan pemerintahan kolonial dan rencana kunjungan keluarga kerajaan Belanda. Kini, bangunan yang sama menjadi museum dan bagian dari identitas wisata sejarah Soppeng.
Ratu Wilhelmina dan Putri Yuliana memang tidak pernah menginap di dalamnya.
Namun, nama Yuliana tetap melekat pada bangunan yang telah berdiri di Soppeng selama lebih dari satu abad itu.
Villa Yuliana akhirnya bukan hanya tinggalan kolonial. Ia menjadi saksi perubahan zaman, dari bangunan yang disiapkan untuk sebuah kunjungan kerajaan hingga museum yang menyimpan cerita sejarah Soppeng.
