Oleh: Edy Basri
Pimred Katasulsel.com
SAYA pernah mendengar banyak alasan anak tidak masuk sekolah.
Sakit.
Bangun kesiangan.
Tidak mengerjakan PR.
Takut guru.
Bolos.
Atau pura-pura sakit.
Tapi kali ini alasannya berbeda.
Tidak bisa mandi.
Awalnya saya kira bercanda.
Mana mungkin pada tahun 2026 masih ada anak tidak sekolah karena tidak bisa mandi?
Bukankah kita hidup di era kecerdasan buatan?
Era digital?
Era ketika orang bisa rapat dengan orang di benua lain hanya lewat telepon genggam?
Ternyata saya yang salah.
Di Parepare, kota yang selama ini dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan di pesisir Sulawesi Selatan, ada anak yang terpaksa tinggal di rumah karena air tidak mengalir.
Tiga hari.
Bukan tiga jam.
Bukan pula tiga menit.
Tiga hari.
Saya membayangkan suasana pagi di rumah itu.
Seragam sekolah mungkin sudah tergantung.
Tas sudah siap.
Buku-buku sudah tersusun.
Tetapi keran tetap kering.
Air tidak datang.
Dan seorang ibu harus mengambil keputusan yang sebenarnya tidak pernah ingin diambil oleh orang tua mana pun.
Hari ini tidak usah sekolah dulu.
Karena tidak bisa mandi.
Begitu sederhana.
Begitu menyakitkan.
Saya lalu teringat masa kecil dulu.
Di kampung.
Kalau air sumur mulai surut, orang-orang mulai panik.
Tetapi setidaknya masih ada sumur.
Masih ada sungai.
Masih ada pilihan.
Di kota, persoalannya berbeda.
Ketika air PAM berhenti mengalir, banyak rumah tiba-tiba kehilangan sumber kehidupan.
Ternyata kita sangat bergantung pada sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Air.
Baru terasa penting ketika ia tidak ada.
Mirip listrik.
Mirip kesehatan.
Mirip oksigen.
Selama tersedia, tidak pernah dipikirkan.
Begitu hilang, semua orang panik.
Di Lorong Maspul, Ujung Baru, warga mulai menjalani rutinitas yang tidak biasa.
Mencari air.
Memburu air.
Mengejar air.
Sebagian harus berjalan ke rumah kerabat.
Sebagian naik turun bukit sambil membawa jeriken.
Sebagian menunggu tengah malam.
Ya, tengah malam.
Karena justru pada jam-jam ketika kebanyakan orang tidur, air kadang muncul.
Saya membayangkan betapa lucunya situasi ini.
Biasanya orang bangun tengah malam untuk salat tahajud.
Atau menonton pertandingan sepak bola Eropa.
Di Parepare sekarang ada yang bangun tengah malam untuk menyambut air.
Begitu terdengar suara keran mulai berdesis, semua wadah langsung disiapkan.
Bak mandi.
Ember.
Jeriken.
Panci.
Apa saja yang bisa menampung air.
Karena tidak ada yang tahu kapan air itu akan datang lagi.
Kita memang sering baru menghargai sesuatu setelah kehilangannya.
Dulu orang membiarkan air mengalir saat menyikat gigi.
Sekarang satu ember air terasa sangat berharga.
Dulu anak-anak mandi sambil bermain.
Sekarang ada yang tidak bisa mandi sama sekali.
Dulu orang mengeluh tagihan air mahal.
Sekarang mereka berharap airnya ada dulu.
Urusan tagihan nanti saja.
Saya tidak ingin buru-buru menyalahkan siapa pun.
Musim kemarau memang sedang menunjukkan kekuatannya.
Debit air baku menurun.
Sumber air menyusut.
Produksi berkurang.
Itu fakta.
Alam memang tidak bisa diperintah.
Tidak bisa disuruh hujan hanya karena pemerintah menginginkannya.
Tetapi krisis seperti ini juga memberi pelajaran.
Bahwa kota-kota kita masih rentan.
Sangat rentan.
Satu musim kemarau panjang saja sudah membuat ribuan orang kesulitan air.
Padahal para ahli sudah lama mengingatkan bahwa cuaca ekstrem akan semakin sering datang.
Pertanyaannya sederhana.
Apakah kita cukup siap?
Atau jangan-jangan kita baru sibuk setelah keran berhenti mengalir?
Saya justru paling teringat pada kalimat seorang ibu.
Anaknya tidak sekolah karena tidak bisa mandi.
Kalimat itu terus berputar di kepala saya.
Karena persoalan air ternyata tidak berhenti pada urusan haus.
Tidak berhenti pada urusan mencuci.
Tidak berhenti pada urusan kebersihan.
Ia merembet ke pendidikan.
Ke aktivitas keluarga.
Ke produktivitas.
Ke martabat manusia.
Sebab ada hal-hal yang sulit dijelaskan kepada anak kecil.
Misalnya mengapa ia tidak bisa mandi hari ini.
Mengapa harus naik bukit mengambil air.
Mengapa kota yang selama ini ramai tiba-tiba kesulitan air.
Anak-anak tidak memahami statistik debit air.
Mereka hanya tahu satu hal.
Keran tidak mengeluarkan air.
Dan bagi mereka, itu sudah cukup untuk membuat dunia terasa berbeda.
Mungkin beberapa hari lagi hujan turun.
Mungkin debit air kembali normal.
Mungkin krisis ini berlalu.
Saya berharap demikian.
Tetapi ada satu pelajaran yang sebaiknya tidak ikut berlalu.
Bahwa air bukan sekadar kebutuhan.
Ia adalah fondasi kehidupan.
Ketika air hilang, kita baru sadar betapa banyak hal ikut hilang bersamanya.
Termasuk sesuatu yang selama ini dianggap sangat biasa.
Seorang anak berangkat ke sekolah setelah mandi pagi. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Parepare Hari Ini .
