Oleh: Dinda Fatimah Zahra

Ada penyakit
yang menolak sembuh,
sebab setiap mulut
masih menganggapnya doa.

Masa inkubasinya
tak pernah menghitung hari.
Ia menunggu
hingga lidah lupa berjaga.

Lalu memilih
kerongkongan yang paling sabar
menelan dendam
tanpa pernah tersedak.

Mula-mula
hanya sepotong ucap
yang terdengar
lebih tajam dari biasanya.

Kemudian beberapa nama
perlahan membusuk
sebelum sempat
dipanggil pulang.

Tak ada demam.
Tak ada nyeri.
Hanya suara yang terdengar sehat
dari tubuh yang terlihat sakit.

πŸ”₯ BACA JUGA
Tenanglah di SisiNya

Setiap kali reda,
ia meninggalkan satu kata
agar tetap hidup
di mulut berikutnya.

Pagi berikutnya,
percakapan kembali dimulai.
Tak seorang pun sadar
siapa yang lebih dulu tertular.

Tanjung Priok, 28 Juli 2026

Topik Terkait: Puisi