Bungku, katasulsel.com — Pelabuhan itu unik.
Orang lebih sering melihat kapal yang datang dan pergi.
Melihat bongkar muat.
Melihat aktivitas di dermaga.
Padahal ada pekerjaan lain yang jarang terlihat mata.
Ada orang-orang yang memastikan semuanya berjalan sesuai aturan.
Ada yang memastikan keselamatan pelayaran.
Ada yang mengawasi lalu lintas kapal.
Ada yang menjaga agar negara tidak kehilangan haknya.
Pekerjaan-pekerjaan sunyi itu sering luput dari perhatian.
Karena itu ketika Andi Arwin Yunus, S.H. dipercaya menjadi Pelaksana Tugas Kepala UPP Kelas III Bungku sejak 1 Juli 2026, yang pertama kali ia bicarakan bukan soal jabatan.
Bukan pula soal seremoni.
Melainkan soal pelayanan dan negara.
Dua kata yang sederhana.
Tetapi tidak selalu mudah dijalankan.
Andi Arwin bukan orang yang datang dari luar sistem.
Ia tumbuh dari lapangan.
Sebelum duduk di kursi pimpinan, ia lebih dulu menjadi Pengawas Kepelabuhanan.
Ia mengenal suara mesin kapal.
Mengerti ritme dermaga.
Paham bagaimana sebuah pelabuhan bekerja sejak matahari terbit hingga larut malam.
Mungkin karena itu ia tahu satu hal penting.
Bahwa pelabuhan bukan hanya soal kapal.
Pelabuhan adalah pintu ekonomi.
Dan setiap pintu harus dijaga.
Dalam rapat bersama jajarannya, Andi Arwin memberi penekanan yang cukup tegas.
Pelayanan harus semakin terintegrasi.
Koordinasi harus semakin kuat.
Dan yang tidak kalah penting, optimalisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP harus menjadi perhatian bersama.
Bagi sebagian orang, PNBP mungkin hanya deretan angka dalam laporan.
Tetapi sesungguhnya angka-angka itulah yang ikut menggerakkan negara.
Membangun jalan.
Membangun pelabuhan.
Membangun layanan publik.
Karena itu Andi Arwin melihat pelayanan dan PNBP sebagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Kalau pelayanan berantakan, penerimaan bisa terganggu.
Kalau pengawasan lemah, negara bisa dirugikan.
Sesederhana itu.
Di kalangan rekan kerjanya, Andi Arwin dikenal sebagai sosok yang disiplin.
Tipe pegawai yang lebih suka memastikan pekerjaan selesai daripada banyak berbicara.
Karakter seperti itu memang lahir dari lapangan.
Sebab laut tidak mengenal alasan.
Kapal tidak bisa menunggu karena administrasi lambat.
Dan pelayanan tidak boleh berhenti hanya karena ada kendala internal.
Semua harus berjalan.
Tepat waktu.
Tepat aturan.
Tepat sasaran.
Itulah yang kini coba ia bawa ke UPP Kelas III Bungku.
Bukan gebrakan yang ramai.
Bukan pula slogan yang terdengar hebat.
Melainkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Karena sesungguhnya pelabuhan yang baik bukan ditentukan oleh seberapa sering pimpinannya berbicara.
Tetapi oleh seberapa lancar pelayanan berjalan ketika masyarakat datang.
Mungkin itulah sebabnya Andi Arwin memilih fokus pada hal-hal mendasar.
Merapikan sistem.
Memperkuat koordinasi.
Menjaga integritas.
Dan memastikan setiap potensi penerimaan negara masuk ke tempat yang semestinya.
Sebab pada akhirnya, pelabuhan bukan hanya tempat kapal bersandar.
Pelabuhan adalah wajah pelayanan negara di tepi laut.
Dan kini, wajah itu sedang dinakhodai oleh seorang mantan pengawas pelabuhan yang paham betul bahwa disiplin bukan sekadar aturan kerja.
Melainkan cara menjaga kepercayaan.
Ditulis oleh: Edy Basri (Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)
