Jombang, Katasulsel.com — Ada panggung yang membuat seorang penyanyi ingin tampil sebaik mungkin.
Ada pula panggung yang membuat seorang penyanyi ingin menikmati setiap detiknya.
Bagi Camelia Panduwniata, penampilannya di Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026), terasa seperti yang kedua.
Ia berada di tengah rangkaian Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dalam acara “Bersholawat Bersama Seribu Rebana”.
Di hadapannya bukan sekadar penonton.
Ribuan santri dan ulama memenuhi lokasi.
Mereka datang dengan tradisi yang sudah begitu akrab: sholawat dan rebana.
Artis bernama lengkap Camelia Panduwinata Lubis itu kemudian mengambil tempat di panggung.
Ia memilih Sholawat Yalal Wathon.
Begitu lantunan dimulai, suasana perlahan berubah.
Camelia menyanyi.
Peserta menyambut.
Lalu suara rebana mengalun.
Tidak lama kemudian, suara dari panggung dan suara dari kerumunan seperti tidak lagi bisa dibedakan.
Yalal Wathon dinyanyikan bersama.
Camelia tidak berdiri sebagai penyanyi yang berjarak dengan penonton.
Ia justru larut dalam suasana yang tercipta.
Sesekali ia mengikuti irama.
Sesekali mengarahkan pandangan ke tengah kerumunan.
Dan ketika ribuan santri ikut melantunkan sholawat, panggung itu seolah menjadi milik bersama.
Bagi seorang artis, mungkin inilah salah satu pengalaman paling menarik: ketika penonton tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut menjadi bagian dari lagu.
Camelia kemudian tampil bersama Nana Mardiana.
Keduanya membawakan Sholawat Thoriqiyah dan Sholawat Nahdliyah.
Dua suara perempuan itu bertemu dengan suara ribuan peserta.
Sementara rebana menjadi pengikat iramanya.
Suasana tetap meriah, tetapi tidak kehilangan kekhidmatannya.
Kemudian Cak Sodik tampil dengan sejumlah lagu bernuansa NU, termasuk “Gus Dur” dan “Satu Abad NU”.
Malam semakin hidup.
Namun penampilan Camelia meninggalkan kesan tersendiri.
Sebab ia datang dari panggung hiburan ibu kota, lalu berdiri di tengah komunitas pesantren yang memiliki tradisi keagamaan sangat kuat.
Perjumpaan dua dunia itu justru terasa alami.
Tidak perlu dibuat-buat.
Musik menjadi jembatannya.
Sholawat menjadi titik temunya.
Dan ribuan rebana membuat suasana semakin khas.
Di Jombang, sholawat bukan sekadar lantunan yang dinyanyikan sesekali.
Ia adalah bagian dari tradisi.
Karena itu, ketika Camelia menyanyikan Yalal Wathon, respons peserta terasa begitu spontan.
Mereka sudah mengenal lagunya.
Mereka tahu liriknya.
Dan mereka tahu kapan harus ikut menyanyi.
Camelia hanya membuka jalan.
Ribuan orang kemudian meneruskannya.
Ada sesuatu yang indah dari suasana seperti itu.
Seorang artis tidak harus selalu menjadi pusat perhatian.
Kadang justru lebih berkesan ketika ia mampu melebur dengan suasana yang sudah hidup jauh sebelum dirinya datang.
Camelia melakukan itu malam tersebut.
Ia tetap menjadi Camelia Petir.
Tetapi di panggung itu, ia tidak tampil untuk menunjukkan siapa yang paling hebat.
Ia hadir untuk bernyanyi bersama.
Dan Jombang menyambutnya dengan cara yang khas.
Dengan sholawat.
Dengan rebana.
Dengan suara ribuan santri dan ulama.
Acara “Bersholawat Bersama Seribu Rebana” akhirnya bukan hanya menjadi pertunjukan musik religi dalam rangkaian Muktamar NU ke-35.
Ia menjadi pertemuan antara panggung hiburan dan tradisi pesantren.
Camelia Petir berada tepat di tengahnya.
Membawa suara yang kemudian menyatu dengan ribuan suara lainnya.
Mungkin itulah yang membuat penampilan malam itu terasa istimewa.
Bukan karena Camelia berdiri di panggung yang besar.
Tetapi karena untuk beberapa saat, panggung dan penonton seperti kehilangan batas.
Yang tersisa hanya satu suara.
Sholawat.(*)
