Dinda Fatimah Zahrah, Reporter katasulsel.com di Jakarta melaporkan……….
Saya memperhatikan satu hal menarik di Studio 5 Indosiar.
Awalnya biasa saja.
Lampu panggung menyala. Kru sibuk. Penonton mulai memenuhi kursi tribun. Host lalu-lalang. Kamera berseliweran seperti lebah mencari bunga.
Semua normal.
Sampai kemudian rombongan dari Sidrap datang.
Di depan rombongan itu ada Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.
Yang terjadi setelah itu tidak ada dalam rundown acara.
Tidak ada di skenario Indosiar.
Tidak ada pula dalam naskah para host.
Studio mendadak riuh.
Saya sempat berpikir ada artis ibu kota yang baru datang.
Ternyata bukan.
Yang datang hanya seorang bupati dari daerah bernama Sidenreng Rappang.
Tetapi reaksinya seperti menyambut selebritas.
“Pak Syahar…!”
Teriakan itu muncul dari berbagai sudut tribun.
Lalu satu orang mendekat.
Dua orang.
Lima orang.
Sepuluh orang.
Setelah itu saya berhenti menghitung.
Yang terjadi berikutnya adalah antrean selfie.
Saya menyaksikan sendiri.
Bukan hanya warga Sidrap.
Ada penonton dari Jawa Barat. Dari Banten. Dari Sumatera. Dari Kalimantan.
Mereka menyalami Syahar.
Ada yang meminta foto.
Ada yang mengajak ngobrol.
Ada yang hanya ingin bersalaman lalu tersenyum.
Saya jadi penasaran.
Mengapa seorang bupati bisa begitu dikenal di studio televisi nasional?
Jawabannya mungkin sederhana.
Syahar memang bukan orang baru di Studio 5.
Sudah beberapa kali ia datang memberi dukungan kepada putra-putri Sidrap yang bertarung di panggung Indosiar.
Ia bukan tipe kepala daerah yang hanya mengirim karangan bunga lalu selesai.
Kalau ada anak Sidrap berjuang di level nasional, ia sering hadir sendiri.
Datang langsung.
Menyaksikan langsung.
Memberi semangat langsung.
Malam itu yang didukung adalah Melani.
Kontestan asal Sidrap yang sedang berjuang di panggung D’Academy 8.
Persaingannya tidak main-main.
Di DA8, peserta tidak cukup hanya punya suara bagus.
Mereka harus memiliki karakter vokal.
Harus mampu memainkan dinamika lagu.
Harus kuat menghadapi komentar juri.
Harus siap tampil di depan jutaan pemirsa.
Dan yang paling berat, harus mampu mengelola tekanan.
Karena itu dukungan dari daerah asal sering menjadi vitamin mental yang tidak terlihat.
Melani mendapat vitamin itu malam itu.
Bukan dalam bentuk pidato.
Bukan pula dalam bentuk seremoni.
Tetapi lewat kehadiran.
Syahar datang bersama Ibu Wakil Bupati, sejumlah kepala dinas, dan rombongan pendukung dari Sidrap.
Turut mendampingi Ilham Junaedy, pengusaha dan politisi yang juga dipercaya sebagai Bendahara KONI Sidrap serta LO Audisi DA8 Kabupaten Sidrap.
Tribun pendukung Melani yang sudah bersemangat sejak awal mendadak naik level.
Kalau dalam dunia musik ada istilah crescendoβsuara yang makin lama makin membesarβmaka itulah yang terjadi.
Tepuk tangan makin keras.
Yel-yel makin kompak.
Semangat makin terasa.
Di atas panggung, Melani berjuang dengan suara.
Di bawah panggung, Sidrap berjuang dengan dukungan.
Saya lalu menyadari sesuatu.
Mungkin inilah alasan mengapa setiap kali Syahar datang ke Studio 5, suasana selalu berubah.
Ia tidak datang sebagai pejabat.
Ia datang sebagai supporter.
Dan supporter yang datang langsung ke arena pertandingan selalu punya energi berbeda.
Malam semakin larut.
Acara terus berjalan.
Lampu panggung tetap berkilau.
Kamera terus berputar.
Tetapi bagi banyak penonton malam itu, ada dua tontonan sekaligus.
Melani di atas panggung.
Dan Syahar yang tak henti-hentinya diajak foto di bawah panggung.
Studio 5 tetap milik Indosiar.
Hanya saja, untuk beberapa jam malam itu, rasanya Sidrap ikut memiliki sebagian suasananya. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
