Sidrap, Katasulsel.com — Sidrap belakangan lebih sering muncul dengan cerita yang membuat dahi berkerut.

Tetapi Sidrap tentu bukan hanya tentang stigma.

Ada wajah lain yang jarang masuk ke percakapan publik: sawah yang terus berproduksi, energi angin yang berputar di perbukitan, ekonomi yang tumbuh, hingga angka kemiskinan dan stunting yang diklaim terus ditekan.

Wajah Sidrap itulah yang coba dibuka Bupati Sidenreng Rappang, H. Syaharuddin Alrif, dalam sebuah podcast yang dipandu Pimpinan Redaksi Katasulsel.com, Edy Basri.

Di hadapan Edy Basri, Syaharuddin tidak banyak berbicara soal pencitraan. Ia memilih memaparkan sejumlah indikator yang menurutnya menggambarkan perkembangan Sidrap dalam beberapa tahun terakhir.

“Sidrap ini sebenarnya sudah banyak mengalami kemajuan,” kata Syaharuddin.

Menurut dia, jika ukuran kemajuan daerah dikaitkan dengan gagasan kemandirian yang belakangan banyak digaungkan pemerintah pusat, Sidrap sesungguhnya memiliki modal yang cukup kuat.

500 Ribu Ton Beras dari Sidrap

Salah satu yang paling mudah dilihat adalah pertanian.

Syaharuddin menyebut produksi beras Sidrap mencapai sekitar 500 ribu ton per tahun.

Angka itu, menurutnya, menunjukkan posisi Sidrap bukan sekadar daerah yang mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya sendiri.

Produksi dari lumbung-lumbung padi Sidrap ikut menopang kebutuhan pangan kawasan Indonesia Timur.

Bukan hanya beras. Sidrap juga disebut memiliki produksi telur yang turut dikirim ke berbagai daerah.

“Sidrap ini daerah produksi. Kita bukan hanya untuk kebutuhan masyarakat Sidrap,” ujarnya.

Di tengah pembicaraan besar tentang ketahanan pangan, capaian tersebut menjadi modal penting bagi daerah yang sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Sulawesi Selatan.

Dari Sawah ke Energi Angin

Cerita Sidrap ternyata tidak berhenti di sawah.

Di Pabbaresseng, Kecamatan Watang Pulu, berdiri deretan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Kincir-kincir raksasa itu menjadi penanda bahwa Sidrap tidak hanya berbicara tentang pangan, tetapi juga energi terbarukan.

Bagi Syaharuddin, keberadaan PLTB memperkuat posisi Sidrap sebagai daerah yang memiliki sumber energi sendiri.

Ia menyebut Sidrap telah bergerak menuju swasembada energi.

“Sidrap sudah menjadi daerah swasembada energi dengan adanya PLTB,” kata dia.

Ekonomi Tumbuh 7,7 Persen

Kemudian ada angka lain yang menurut Syaharuddin layak diperhatikan.

Ia menyebut berdasarkan statistik 2025, pertumbuhan ekonomi Sidrap bergerak dari sekitar 4 persen menjadi 7,7 persen.

Jika angka tersebut dibandingkan daerah lain di Sulawesi Selatan, Syaharuddin menyebut pertumbuhan ekonomi Sidrap menjadi yang tertinggi.

Angka tentu bukan segalanya.

Tetapi bagi pemerintah daerah, pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator untuk melihat apakah aktivitas masyarakat dan dunia usaha bergerak atau justru melambat.

Stunting dan Kemiskinan

Syaharuddin juga membawa pembicaraan pada isu yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: kesehatan dan kemiskinan.

Ia menyebut angka stunting Sidrap berada pada posisi terendah di Sulawesi Selatan.

Sementara kemiskinan ekstrem disebut berada di angka 0,94 persen, yang menurutnya menjadi salah satu angka terendah untuk kawasan Sulawesi, Papua, Maluku dan Nusa Tenggara.

Untuk angka kemiskinan secara umum, Syaharuddin menyebut Sidrap berada di kisaran 4 persen.

Bagi seorang kepala daerah, angka-angka tersebut menjadi ukuran lain dari keberhasilan pembangunan.

Sebab pembangunan bukan hanya soal jalan yang mulus atau gedung yang berdiri.

Pembangunan pada akhirnya harus terasa di meja makan, di kesehatan keluarga, di pekerjaan, dan di kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sidrap yang Sedang Berlari

Syaharuddin kemudian mengaitkan berbagai capaian tersebut dengan pembangunan infrastruktur.

Salah satunya kehadiran Jembatan Merah Putih di Sidrap yang disebutnya menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas sekaligus melengkapi infrastruktur daerah.

Bagi Syaharuddin, pembangunan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.

Pertanian membutuhkan jalan.

Perdagangan membutuhkan konektivitas.

Dunia usaha membutuhkan energi.

Dan masyarakat membutuhkan pelayanan serta lapangan ekonomi yang terus bergerak.

Karena itu, ia menegaskan pemerintahannya terus mendorong akselerasi pembangunan di berbagai sektor.

Ada satu hal menarik dari paparan tersebut.

Sidrap ternyata tidak sesederhana stigma yang kadang melekat di luar sana.

Di balik cerita yang gaduh, ada petani yang tetap menanam.

Di balik debu jalan, ada beras yang dikirim ke berbagai daerah.

Di balik bukit-bukit Sidrap, turbin angin terus berputar menghasilkan energi.

Dan di balik angka statistik, ada pekerjaan rumah pemerintah untuk memastikan pertumbuhan benar-benar dirasakan masyarakat.

Inilah Sidrap yang jarang diketahui.

Bukan Sidrap yang sempurna.

Tetapi Sidrap yang sedang berusaha menunjukkan bahwa sebuah daerah tidak seharusnya dinilai hanya dari cerita buruk yang paling ramai dibicarakan.

Sebab, sebagaimana disampaikan Syaharuddin dalam podcast tersebut, ukuran kemajuan daerah pada akhirnya bukanlah seberapa sering namanya disebut, melainkan seberapa jauh pembangunan mampu mengubah kehidupan masyarakatnya.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini