Sidrap, Katasulsel.com — Ada satu pertanyaan yang sedang beredar dari pematang sawah hingga warung kopi di Desa Taccimpo, Kecamatan Dua Pitue.
Pertanyaannya sederhana.
Kalau rumah saja butuh fondasi, kenapa talud ini seperti tidak?
Pertanyaan itu muncul setelah pembangunan talud dan penimbunan Jalan Tani Addewatang menjadi sorotan publik.
Nilai anggarannya tidak kecil untuk ukuran jalan tani desa.
Sekitar Rp75 juta.
Rinciannya, sekitar Rp58 juta untuk pembangunan talud dan sekitar Rp17 juta untuk penimbunan jalan.
Namun yang menjadi pembicaraan bukan nilai anggarannya.
Melainkan hasil pekerjaan yang terlihat di lapangan.
Talud yang Membuat Alis Terangkat
Dari pantauan di lokasi, susunan batu talud terlihat berdiri di sisi jalan persawahan.
Yang menarik perhatian warga adalah bagian bawahnya.
Tidak terlihat bekas penggalian tanah sebagaimana lazimnya pekerjaan pondasi.
Talud tampak tersusun langsung di atas permukaan tanah.
Tentu saja, apakah pekerjaan tersebut memang tidak menggunakan pondasi atau menggunakan metode teknis tertentu, merupakan hal yang perlu dijelaskan oleh pelaksana kegiatan maupun pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan tersebut.
Karena dari permukaan, yang terlihat hanya hasil akhirnya.
Dan hasil akhir itulah yang sedang mengundang tanda tanya.
Seorang warga bahkan berkelakar:
“Kalau talud bisa berdiri tanpa pondasi, mungkin ilmu teknik sipil perlu direvisi.”
Tentu itu hanya celetukan.
Tetapi celetukan biasanya lahir ketika masyarakat mulai bertanya.
Belum Lama Selesai, Sudah Menyisakan Cerita
Sorotan lain muncul pada kondisi fisik talud.
Di beberapa bagian, permukaan pasangan batu tampak belum rapi.
Masih terlihat batu yang terbuka.
Ada bagian yang belum diplester sempurna.
Bahkan terdapat titik-titik yang terlihat mengalami pengelupasan.
Padahal pekerjaan tersebut disebut baru saja rampung.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan yang wajar.
Jika pekerjaan masih baru, bagaimana kondisinya beberapa musim hujan ke depan?
Pertanyaan itu tentu belum memiliki jawaban.
Karena yang bisa menjawab adalah kualitas konstruksinya sendiri.
Waktu biasanya menjadi auditor paling jujur.
Jalan Tani yang Ditimbun Setengah Hati?
Sorotan berikutnya mengarah pada pekerjaan penimbunan jalan.
Dari pantauan di lapangan, material batu tampak lebih banyak menumpuk di bagian tengah badan jalan.
Sementara sisi kanan dan kiri jalan terlihat belum tertutup secara merata.
Dari kejauhan, bentuknya bahkan menyerupai punggung kura-kura.
Tinggi di tengah.
Lebih rendah di pinggir.
Apakah memang demikian desain teknisnya?
Ataukah pekerjaan belum selesai sepenuhnya?
Itulah yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Karena bagi petani yang setiap hari melewati jalan tersebut, yang penting bukan teori.
Melainkan apakah jalan itu benar-benar nyaman dan aman digunakan.
Rp75 Juta dan Sebuah Kata: “Parah”
Yang membuat perhatian publik semakin besar adalah komentar singkat Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Pemdes) Sidrap, Andi Surya.
Saat diperlihatkan foto kondisi talud dan penimbunan jalan tersebut, ia hanya mengucapkan satu kata.
“Parah.”
Satu kata.
Lima huruf.
Tetapi cukup membuat banyak orang berhenti sejenak.
Sebab pernyataan itu datang dari pejabat yang memahami tata kelola pembangunan desa.
Meski demikian, penilaian akhir tetap memerlukan pemeriksaan lapangan dan evaluasi teknis yang lebih mendalam.
Foto dan pengamatan visual saja tidak cukup untuk menyimpulkan ada atau tidaknya pelanggaran spesifikasi pekerjaan.
Jawaban yang Belum Datang
Kepala Desa Taccimpo, Edi, saat dikonfirmasi belum memberikan penjelasan substantif mengenai pekerjaan tersebut.
“Sumbernya dari mana?” ujarnya singkat.
Jawaban itu tentu belum menjawab pertanyaan utama masyarakat.
Bukan soal dari mana informasi berasal.
Tetapi bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan.
Apakah sudah sesuai gambar kerja?
Apakah sesuai RAB?
Apakah sesuai spesifikasi teknis?
Dan yang lebih penting:
Apakah sesuai dengan uang rakyat yang digunakan?
Jalan Tani, Bukan Jalan Kenangan
Jalan Tani Addewatang bukan proyek pajangan.
Ia dibangun untuk petani.
Untuk mengangkut hasil panen.
Untuk mempermudah aktivitas pertanian.
Karena itu masyarakat berharap kualitasnya tidak hanya bagus saat difoto.
Tetapi juga kuat saat dilewati.
Tidak hanya terlihat kokoh dari kejauhan.
Tetapi juga benar-benar kokoh ketika musim hujan datang.
Sebab pembangunan desa pada akhirnya tidak dinilai dari papan proyek.
Tidak pula dari spanduk peresmian.
Melainkan dari satu pertanyaan sederhana:
Apakah hasilnya bertahan lama atau hanya bertahan sampai foto dokumentasi selesai diambil?
Pertanyaan itulah yang kini menunggu jawaban.
Bukan dari warga.
Melainkan dari pihak yang merencanakan, mengawasi, dan melaksanakan pekerjaan senilai sekitar Rp75 juta tersebut.
Karena uang desa boleh habis.
Tetapi kepercayaan masyarakat jangan sampai ikut terkikis.
(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
