Wajo, Katasulsel.com — Ada ironi yang sedang dirasakan warga Kabupaten Wajo.

Daerah ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang akrab dengan industri dan jaringan gas. Bahkan, keberadaan infrastruktur energi bukan hal asing bagi masyarakatnya.

Namun belakangan, warga justru dibuat sibuk mencari satu benda berwarna hijau yang ukurannya jauh lebih kecil.

Tabung LPG 3 kilogram.

Atau yang lebih akrab disebut masyarakat sebagai “gas melon”.

Di sejumlah wilayah, warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain. Ada yang pulang dengan tangan kosong. Ada pula yang terpaksa membeli dengan harga di atas ketentuan karena kebutuhan rumah tangga tidak bisa menunggu.

Situasi itulah yang akhirnya mendorong Pemerintah Kabupaten Wajo bersama PT Pertamina Patra Niaga dan Pertagas menggelar operasi pasar serentak di empat kecamatan, Kamis (27/8/2026).

Empat wilayah yang menjadi sasaran yakni Kecamatan Tanasitolo, Majauleng, Pammana, dan Takkalalla.

Ketika Gas Jadi Barang Buruan

Bagi sebagian keluarga, hilangnya LPG 3 kilogram dari peredaran bukan sekadar persoalan distribusi.

Ia langsung menyentuh dapur.

Menyentuh aktivitas memasak.

Menyentuh pengeluaran harian.

Karena itu, ketika operasi pasar dibuka dengan harga resmi Rp18.500 per tabung, warga langsung menyambutnya.

Bukan karena ada diskon.

Tetapi karena barang yang dicari akhirnya tersedia.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang kerap terdengar di tengah masyarakat:

Bagaimana mungkin gas subsidi sulit ditemukan di daerah yang selama ini dikenal dekat dengan sektor energi?

Pertanyaan itu belum tentu memiliki jawaban sederhana.

Namun yang pasti, kelangkaan LPG 3 kilogram telah menjadi keluhan yang cukup luas hingga memerlukan intervensi pemerintah daerah dan Pertamina.

Operasi Pasar Jadi Jalan Darurat

Wakil Ketua Komisi II DPRD Wajo, Dr H Ambo Dalle, mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan pemerintah daerah bersama Pertamina.

Menurutnya, koordinasi yang dibangun menunjukkan bahwa persoalan masyarakat dapat direspons secara cepat ketika seluruh pihak bergerak bersama.

“Alhamdulillah, operasi pasar LPG 3 kilogram ini bisa dilaksanakan secara bersamaan di empat kecamatan. Kami tentu mengapresiasi koordinasi Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Wajo bersama pihak Pertamina sehingga masyarakat bisa mendapatkan LPG sesuai HET,” ujarnya.

Bagi warga yang beberapa hari terakhir kesulitan mendapatkan gas melon, operasi pasar tersebut menjadi semacam “napas tambahan”.

Setidaknya untuk sementara.

Karena satu hal yang juga dipahami semua pihak adalah bahwa operasi pasar bukanlah solusi permanen.

Ia lebih tepat disebut sebagai obat pereda gejala.

Sementara akar persoalan distribusi tetap harus dicari dan dibenahi.

Jangan Hanya Muncul Saat Langka

Ambo Dalle berharap langkah tersebut tidak berhenti sebagai respons sesaat.

Menurutnya, pengawasan distribusi harus dilakukan secara berkelanjutan agar LPG subsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak.

“Yang terpenting adalah bagaimana kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi. Jangan sampai masyarakat yang membutuhkan justru kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi. Karena itu, pengawasan distribusi harus terus dilakukan bersama,” katanya.

Pernyataan itu menyentuh inti persoalan.

Sebab setiap kali LPG 3 kilogram langka, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah sama:

Apakah pasokannya berkurang, distribusinya terganggu, atau ada masalah pada rantai penyalurannya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi penting agar persoalan tidak terus berulang.

Warga Hanya Ingin Dapur Tetap Menyala

Di luar angka distribusi dan rapat koordinasi, ada realitas yang lebih sederhana.

Warga hanya ingin memasak seperti biasa.

Tidak perlu berkeliling mencari tabung gas.

Tidak perlu membayar lebih mahal.

Tidak perlu panik ketika gas habis di rumah.

Karena itu, masyarakat di empat kecamatan yang menjadi lokasi operasi pasar menyampaikan apresiasi atas langkah yang dilakukan pemerintah daerah dan Pertamina.

Mereka berharap kondisi pasokan segera kembali normal.

Harapan itu terdengar sederhana.

Tetapi bagi ibu rumah tangga yang harus menyiapkan makanan setiap hari, ketersediaan gas bukan perkara kecil.

Ia menentukan apakah dapur tetap mengepul atau tidak.

Kota Gas, Gasnya Dicari

Operasi pasar memang berhasil membantu warga mendapatkan LPG dengan harga sesuai ketentuan.

Namun peristiwa ini menyisakan ironi yang menarik.

Di tengah geliat pembangunan sektor energi, masyarakat justru sedang berburu tabung gas melon.

Maka muncul celetukan yang kini ramai terdengar di tengah warga:

“Wajo dikenal kota gas. Tapi gas melon malah hilang entah ke mana.”

Tentu kalimat itu bukan tuduhan.

Melainkan sindiran halus yang lahir dari keresahan masyarakat.

Karena bagi warga, ukuran keberhasilan distribusi energi sebenarnya sangat sederhana.

Bukan pada panjangnya pipa.

Bukan pada besarnya investasi.

Tetapi ketika ibu-ibu tidak lagi harus bertanya dari satu warung ke warung lain:

“Gas melon ada, Nak?”

(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Wajo Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Wajo hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Wajo terbaru di sini