Oleh: Edy Basri
SAYA sebenarnya tidak berniat membuat suasana temu sinergi itu menjadi terlalu serius.
Rabu, 26 Agustus 2026, kami berkumpul di Hotel Grand Sidny Pangkajene.
Ada pengusaha.
Ada jurnalis.
Ada Kapolres Sidrap AKBP Indra Waspada Yuda
Di ruangan yang sama, ada Kasat Reskrim, Kasat Narkoba, Kasat Lantas dan Kapolsek Kota (Maritengngae)
Namanya juga temu sinergi.
Ya. Kami saling kenal.
Saling ngobrol. Bahkan saya sempat bercanda kapolres yang pernah menggulung 100 Kg sabu-sabu di Parepare itu.
Membangun komunikasi.
Tetapi saya tahu, ada satu hal yang belakangan ramai dibicarakan.
Penangkapan sejumlah terduga passobis di Sidrap oleh tim Polda Jawa Barat.
Maka ketika sesi tanya jawab dibuka, saya memilih bertanya langsung.
Saya tidak ingin menebak-nebak.
Tidak ingin membangun kesimpulan dari potongan video.
Apalagi dari percakapan di media sosial.
Saya ingin mendengar langsung dari Kapolres.
Pertanyaan saya kira-kira begini:
Apa sikap Polres Sidrap terhadap penangkapan yang dilakukan Polda Jabar itu, sementara aparat Polres Sidrap tidak terlihat dilibatkan secara langsung?
Kapolres Indra menjawab.
Dan jawabannya menurut saya menarik.
“Tidak Mesti”
Indra tidak berputar-putar.
“Koordinasi ada kok. Itu biasa. Namun melibatkan anggota kami dalam rangkaian kegiatan Polda Jabar itu tidak mesti. Kan dia punya tim sendiri dan sudah siap,” katanya.
Saya menangkap satu hal penting dari jawaban itu.
Koordinasi tidak selalu berarti pelibatan personel.
Ini dua hal yang berbeda.
Bagi kita yang melihat dari luar, mungkin logikanya sederhana.
Ada polisi datang dari Jawa Barat.
Masuk ke Sidrap.
Menangkap orang.
Lalu muncul pertanyaan:
Kok polisi Sidrap tidak ada?
Tetapi ternyata mekanisme di lapangan tidak sesederhana itu.
Polisi punya struktur.
Punya kewenangan.
Punya tim penyidik.
Dan setiap tim tentu mempunyai strategi sendiri.
Saya Coba Bayangkan dari Sisi Sebaliknya
Indra kemudian memberikan contoh yang menurut saya cukup mudah dipahami.
Misalnya Polres Sidrap mempunyai buruan di luar daerah.
Apakah setiap kali hendak melakukan penangkapan, polisi di daerah tersebut harus ikut masuk dalam tim?
Belum tentu.
“Kami cukup berkoordinasi. Kalau memang diperlukan, kami minta back up,” ujarnya.
Saya mengangguk.
Masuk akal.
Karena kalau setiap operasi lintas wilayah harus selalu melibatkan personel daerah setempat, mungkin urusan penegakan hukum akan menjadi jauh lebih ribet.
Apalagi kalau targetnya harus ditangkap cepat.
Tetapi Ada Kalimat Indra yang Menurut Saya Lebih Penting
Saya kemudian menangkap bagian lain dari jawaban Kapolres.
Ia menegaskan:
Polres Sidrap mendukung penyidikan Polda Jabar.
Ini penting untuk dicatat.
Sebab jangan sampai publik menerjemahkan ketidakhadiran personel Polres Sidrap sebagai bentuk tidak mendukung.
Itu keliru.
Indra justru mengatakan sebaliknya.
“Kami mendukung penyidikan Polda Jabar,” tegasnya.
Tetapi kemudian ia menambahkan kalimat yang membuat saya merasa perlu mencatatnya baik-baik.
“Terkait informasi lain yang menyebut Polres Sidrap, akan kami tindaklanjuti.”
Nah.
Ini menarik.
Karena kasus ini tidak berhenti pada soal siapa yang datang menangkap.
Ada informasi lain yang beredar.
Ada tudingan.
Ada narasi di media sosial.
Dan ada nama institusi Polres Sidrap yang ikut disebut-sebut.
Untuk bagian itu, Kapolres mengatakan akan menindaklanjutinya apabila memang ada perkembangan penyidikan Polda Jabar yang menyebut demikian.
Artinya, bola berikutnya sekarang ada pada proses penyidikan dan fakta yang ditemukan.
Saya Tidak Ingin Menjadi Hakim di Media Sosial
Sebagai pimpinan redaksi, saya kira ini penting.
Wartawan boleh kritis.
Bahkan harus kritis.
Tetapi jangan sampai kritik berubah menjadi vonis.
Kita boleh bertanya:
Kenapa begini?
Kenapa begitu?
Mengapa polisi lokal tidak ikut?
Apakah ada koordinasi?
Apakah ada informasi lain?
Tetapi setelah itu, kita juga harus memberi ruang kepada pihak yang ditanya untuk menjawab.
Itulah yang saya lakukan sore itu.
Saya bertanya langsung.
Kapolres menjawab langsung.
Maka pembaca juga mendapatkan informasi dari sumber pertama.
Bukan dari “katanya”.
Bukan dari grup WhatsApp.
Bukan dari komentar akun yang bahkan kita tidak tahu siapa pemiliknya.
Kasusnya Memang Membuat Orang Bertanya
Saya kira wajar kalau kasus ini menjadi perhatian.
Polda Jabar mengungkap dugaan sindikat penipuan online dengan modus menawarkan mobil murah.
Korban berada di Jawa Barat.
Sementara aktivitas yang diduga berkaitan dengan perkara itu ditemukan di Sidrap.
Jaraknya jauh.
Tetapi kejahatan digital memang tidak mengenal jarak.
Orang di Jawa Barat bisa ditipu orang di Sidrap hanya dengan telepon genggam.
Facebook menjadi etalase.
WhatsApp menjadi ruang transaksi.
Rekening menjadi tujuan uang.
Selesai.
Polda Jabar kemudian melakukan penyidikan.
Sekitar 20 orang diamankan.
Dari pemeriksaan, 12 orang ditetapkan sebagai tersangka.
Ada yang disebut berperan sebagai operator unggahan.
Ada yang menjalankan penawaran kendaraan fiktif.
Ada pula dugaan penggunaan atribut TNI untuk meyakinkan korban.
Maka kasus ini memang bukan perkara kecil.
Yang Saya Cari Sore Itu Sebenarnya Sederhana
Saya hanya ingin satu hal.
Kejelasan.
Apakah Polres Sidrap tahu?
Apakah ada koordinasi?
Apakah ketidakhadiran personel Polres Sidrap berarti ada persoalan?
Kapolres sudah menjawab.
Koordinasi ada.
Pelibatan personel tidak mesti.
Dan Polres Sidrap mendukung proses penyidikan Polda Jabar.
Sementara jika nanti dalam proses penyidikan muncul informasi lain yang menyebut Polres Sidrap, hal itu akan ditindaklanjuti.
Menurut saya, jawaban itu harus ditempatkan secara proporsional.
Jangan dibelokkan menjadi kesimpulan yang belum tentu benar.
Sekarang Tinggal Menunggu
Saya justru tertarik dengan kalimat terakhir Indra.
“Terkait informasi lain yang menyebut Polres Sidrap, akan kami tindaklanjuti.”
Kalimat ini penting.
Karena berarti ruang untuk mencari kebenaran masih terbuka.
Kalau memang ada informasi, silakan dibuktikan.
Kalau memang ada keterkaitan, silakan ditindaklanjuti.
Kalau tidak ada, tentu juga harus dijelaskan.
Begitulah seharusnya hukum bekerja.
Bukan berdasarkan suara paling keras.
Bukan berdasarkan siapa yang paling cepat membuat kesimpulan.
Tetapi berdasarkan fakta dan alat bukti.
Dan saya kira, itulah fungsi kami sebagai wartawan.
Bertanya ketika publik bertanya.
Lalu menyampaikan jawaban ketika jawaban itu sudah diberikan.
Sore itu saya bertanya kepada Kapolres Sidrap.
Jawabannya sudah saya dengar.
Sekarang kita tunggu bagaimana perkembangan berikutnya.
Karena dalam perkara hukum, cerita yang ramai belum tentu cerita yang lengkap.
Dan tugas kita adalah mencari bagian yang belum terlihat itu. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
