Sidrap, Katasulsel.com — Ada rasa puas yang sulit disembunyikan dari suara Idris Lanna ketika bercerita tentang sawahnya.
Petani asal Desa Otting, Kabupaten Sidrap, itu baru saja melewati malam panen. Namun yang membuatnya berbeda dari panen-panen sebelumnya bukan sekadar gabah yang dipanen.
Hasilnya.
Dari lahan seluas 1 hektare 5 are, Idris mengaku menghasilkan 10 ton lebih. Ia menyebut capaian tersebut sebagai pengalaman pertama selama bertani ketika produksinya benar-benar melewati hasil yang biasa ia peroleh.
“Panen kemarin malam. Luas lahan saya satu hektare lima are. Hasilnya 10 ton lebih,” ujar Idris saat ditemui Rabu sore, 26 Agustus 2026.
Kalimatnya sederhana. Tetapi bagi petani, angka itu bukan angka biasa.
Sebab sebelumnya, Idris mengaku hasil panennya rata-rata berada di sekitar 8 ton per hektare.
“Selama ini paling sekitar delapan ton per hektare. Sekarang bisa 10 ton lebih. Ini baru saya rasakan seperti ini,” katanya.
115 Hari Menunggu, Hasilnya di Luar Kebiasaan
Idris merupakan petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Malilu Sipakainge 3.
Musim tanam kali ini ia menggunakan varietas MD 59 dengan metode Tabela atau tanam benih langsung.
Sekitar 115 hari setelah tanam, waktunya tiba.
Panen dilakukan pada Selasa malam.
Hasilnya membuat Idris tidak hanya menghitung gabah, tetapi juga membandingkannya dengan pengalaman bertani selama ini.
Menurutnya, capaian tersebut didukung sejumlah faktor. Salah satunya ketersediaan pupuk yang menurutnya lebih lancar.
“Pupuk lancar. Itu juga memengaruhi produktivitas,” ujarnya.
Selain pupuk, ia menyebut kondisi irigasi di Desa Otting sebagai faktor penting.
“Di Otting rata-rata bisa sembilan sampai 10 ton per hektare karena infrastrukturnya bagus, terutama irigasi,” katanya.
Bagi petani, air bukan sekadar soal ada atau tidak ada.
Air menentukan apakah tanaman bisa tumbuh dengan baik hingga memasuki masa panen.
Harga Gabah Rp7.800
Produksi tinggi tentu menjadi kabar baik.
Tetapi bagi Idris, ada kabar baik lainnya.
Harga gabah yang ia sebut berada di kisaran Rp7.800 per kilogram.
“Kalau harga sekarang Rp7.800,” katanya.
Produksi meningkat, harga juga relatif baik.
Dua angka itu membuat hasil panen kali ini terasa lebih berarti bagi Idris.
Ada Nama Bupati di Balik Cerita Idris
Ketika berbicara tentang perubahan yang dirasakannya sebagai petani, Idris tidak lupa menyebut sosok Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif.
Ia mengaku cukup sering bertemu langsung dengan Bupati.
Bukan hanya dalam acara resmi, tetapi juga untuk berbicara dan berkonsultasi mengenai persoalan petani.
“Pak Bupati itu memang selalu datang ke petani. Itu nyata,” ujar Idris.
Menurutnya, kehadiran langsung pemerintah di tengah petani memberikan motivasi tersendiri.
“Termasuk saya sering ketemu, berkonsultasi. Berkat bimbingan, motivasi dan perhatian terhadap petani sehingga bisa tercapai,” katanya.
Idris menilai perhatian tersebut penting karena persoalan pertanian tidak semuanya bisa dibaca dari laporan.
Kadang, kata dia, pemerintah memang perlu melihat langsung kondisi sawah dan mendengar cerita petani.
Setelah Over Produksi, Idris Mau Menanam Lagi
Menariknya, pengalaman panen 10 ton lebih tidak membuat Idris berhenti.
Justru sebaliknya.
Ia sudah merencanakan musim tanam berikutnya.
Jika pasokan air tersedia, Idris ingin kembali menanam sekitar Oktober atau November.
“Kalau air cepat ada, kita menanam lagi. Biasanya Oktober sampai Desember airnya,” katanya.
Ia juga berencana tetap menggunakan sistem Tabela.
Bagi Idris, sawah memang tidak mengenal kata selesai.
Panen hari ini adalah persiapan untuk tanam berikutnya.
Ia juga menyebut ada istilah yang sejak dulu dikenal petani di wilayahnya, yakni Ase Bare, untuk menggambarkan pengalaman bahwa produksi pada musim tanam kedua dapat lebih banyak.
“Ini Saya Alami Sendiri”
Di ujung percakapan, Idris seperti ingin memastikan satu hal.
Bahwa cerita tentang produksi 10 ton lebih tersebut bukan sekadar angka yang beredar dari mulut ke mulut.
“Saya alami sendiri. Hasil yang saya bilang ini asli, bukan manipulasi,” tegasnya.
Itulah yang membuat kisah Idris menarik.
Ia tidak sedang berbicara sebagai pejabat.
Tidak pula sebagai pengamat pertanian.
Ia hanya seorang petani di Desa Otting yang baru saja memanen sawahnya.
Dulu sekitar 8 ton. Kini 10 ton lebih.
Dan untuk pertama kalinya selama bertani, Idris merasakan sendiri apa yang ia sebut sebagai over produksi.
Di tengah cerita itu, satu nama yang terus ia sebut adalah Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif—pemimpin yang menurut Idris bukan hanya berbicara tentang petani, tetapi juga datang menemui, mendengar, memberi motivasi, dan membuka ruang konsultasi dengan mereka.
Bagi Idris, perhatian itu terasa bukan di ruang kantor.
Tetapi di sawah, saat hasil panen akhirnya berbicara. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
