Sidrap, Katasulsel.com 30 Juli 2026, AKBP Indra Waspada Yuda resmi menempati kursi Kapolres Sidenreng Rappang. Belum sebulan memimpin, wajahnya sudah lebih sering terlihat di tengah persoalan warga ketimbang sekadar di balik meja kantor.

Indra menggantikan AKBP Fantry Taherong sebagai Kapolres Sidrap.

Dan setelah itu, satu demi satu persoalan datang.

Kemarau membuat sawah-sawah warga kekurangan air. Tanaman padi yang sudah mendekati panen terancam mati.

Indra merespons.

Bukan hanya dengan imbauan.

Water Cannon Polres Sidrap dikerahkan untuk menyiram sawah warga.

Kini persoalannya bergeser.

Bukan lagi bagaimana mendapatkan air.

Tetapi bagaimana menghentikan api.

Senin (24/8/2026) sore hingga malam, sekitar 11 hektare lahan warga di Dusun II Makkadae, Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, terbakar.

Dan sekali lagi, Kapolres Indra turun langsung.

Baru 25 Hari Menjabat, Sudah Berhadapan dengan Dua Wajah Kemarau

Jika dihitung dari 30 Juli hingga kebakaran lahan pada 24 Agustus, Indra baru sekitar 25 hari memimpin Polres Sidrap.

Namun dalam waktu sesingkat itu, ia sudah berhadapan dengan dua persoalan yang lahir dari kondisi yang sama: musim kemarau.

Pertama, kekeringan yang mengancam tanaman pangan.

Kedua, kebakaran lahan yang mengancam milik warga.

Pada persoalan pertama, polisi membawa air.

Pada persoalan kedua, polisi membantu memadamkan api.

Dua pekerjaan yang sebenarnya berada di luar gambaran klasik tugas kepolisian, tetapi sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Water Cannon Bukan Hanya untuk Pengamanan

Bagi masyarakat, Water Cannon biasanya identik dengan kendaraan taktis yang digunakan dalam pengamanan aksi massa.

Di Sidrap, fungsinya dibuat berbeda.

Ketika sawah petani kekeringan, kendaraan tersebut digunakan untuk membantu menyuplai air.

Langkah itu dilakukan karena tanaman padi warga sudah berada dalam kondisi memprihatinkan akibat minimnya pasokan air.

Bagi petani, air datang tepat waktu bisa berarti satu hal penting:

masih ada harapan untuk panen.

Indra memilih persoalan itu sebagai bagian dari kehadiran polisi di tengah masyarakat.

Namun belum selesai persoalan kekeringan, ancaman lain muncul.

Api.

Senja Berubah Menjadi Malam yang Panjang

Kebakaran di Lainungan diketahui sekitar pukul 17.30 WITA.

Lahan yang kering membuat api cepat merambat. Angin turut membuat kobaran semakin sulit dikendalikan.

Tiga lahan warga terdampak, masing-masing milik Isia (60), Latapa (alm.) dan Lagilibu (70).

Satu unit mobil Damkar tiba sekitar pukul 17.45 WITA.

Tetapi medan menjadi masalah.

Tidak seluruh titik api dapat dijangkau kendaraan.

Warga kemudian berjibaku dengan peralatan seadanya.

Sekitar pukul 19.40 WITA, Indra tiba di lokasi bersama Dandim 1420/Sidrap Letkol Inf. Andi Zulhakim Asdar, S.H.I., M.H.I.

Api belum padam.

Kapolres kemudian bergabung bersama personel TNI, Damkar, pemerintah desa dan masyarakat.

Ranting pohon digunakan untuk memukul api. Jalur rambatan diputus. Titik-titik yang masih menyala dikejar satu per satu.

Malam semakin larut.

Baru sekitar pukul 21.15 WITA, api berhasil dipadamkan.

Sekitar 11 hektare lahan warga terdampak.

Tidak ada korban jiwa maupun personel yang mengalami cedera.

Indra: Keselamatan Warga Tetap Prioritas

Kepada Katasulsel.com, Rabu (25/8/2026), Indra mengatakan kondisi kemarau membuat potensi kebakaran harus menjadi perhatian bersama.

“Yang paling penting adalah memastikan api tidak meluas dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas,” ujar Indra.

Setelah api padam, personel tetap melakukan pemantauan.

Sebab dalam kondisi lahan yang kering, bara kecil masih bisa berubah menjadi kobaran baru.

Dari Fantry ke Indra, Ada Babak Baru Polres Sidrap

Pergantian Kapolres sebenarnya merupakan hal biasa dalam tubuh Polri.

AKBP Fantry Taherong menyerahkan tongkat komando kepada AKBP Indra Waspada Yuda.

Tetapi bagi masyarakat, yang lebih penting bukan siapa yang duduk di kursi Kapolres.

Yang lebih mudah dilihat adalah apa yang dilakukan setelah berada di kursi tersebut.

Dalam 25 hari pertama, Indra sudah menunjukkan pola kehadiran yang cukup jelas.

Ketika petani kesulitan air, polisi bergerak.

Ketika lahan warga terbakar, Kapolres turun.

Bukan berarti semua persoalan masyarakat harus ditangani polisi.

Tetapi ketika situasi membutuhkan kehadiran bersama, Polres Sidrap memilih berada di dalam barisan.

Seolah Belum Sempat Beristirahat

Ada ironi menarik dalam perjalanan awal Indra memimpin Polres Sidrap.

Belum lama dilantik, langsung berhadapan dengan kemarau.

Kemarau membawa kekeringan.

Polisi membawa Water Cannon.

Kemarau kemudian membawa kebakaran.

Kapolres turun membawa personel.

Dari sawah yang membutuhkan air hingga lahan yang harus diselamatkan dari api, wajah Indra semakin sering terlihat di lapangan.

Mungkin terlalu dini menyimpulkan gaya kepemimpinannya hanya dari 25 hari pertama.

Tetapi satu hal sudah terlihat:

AKBP Indra Waspada Yuda tampaknya ingin memulai masa jabatannya bukan dengan banyak bicara, melainkan dengan banyak berada di tengah persoalan masyarakat.

Dan musim kemarau Sidrap seperti langsung memberinya ujian.

Pertama menyelamatkan padi.

Kemudian memadamkan api.

Belum sebulan menjabat, tetapi seolah belum sempat istirahat.

(edybasri)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini