Sidrap, Katasulsel.com — Siapa bilang penghuni rumah tahanan hanya bisa dibina untuk menjadi lebih baik?

Di Rutan Kelas IIB Sidenreng Rappang, warga binaan justru diajak turun ke sawah. Bukan sekadar mencangkul dan menanam, tetapi sampai menghasilkan sesuatu yang sangat dibutuhkan banyak orang: padi.

Panen raya yang digelar Rutan Sidrap menjadi gambaran bahwa pembinaan warga binaan bisa menghasilkan lebih dari sekadar perubahan perilaku.

Ada keterampilan. Ada produktivitas. Dan ada kontribusi untuk ketahanan pangan.

Sawah menjadi ruang belajar baru bagi warga binaan. Dari mengolah lahan, menanam bibit, merawat tanaman hingga akhirnya memanen, seluruh proses dijalani sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian.

Hasilnya terlihat saat panen raya.

Bulir-bulir padi yang dipanen bukan hanya menjadi hasil kerja warga binaan. Di baliknya ada proses panjang yang mengajarkan kedisiplinan, kesabaran dan tanggung jawab.

Dari Balik Tembok, Ada Hasil untuk Negeri

Inilah bagian menarik dari pembinaan di Rutan Sidrap.

Pemasyarakatan tidak berhenti pada bagaimana warga binaan menjalani masa hukuman. Mereka juga dipersiapkan agar ketika kembali ke masyarakat nanti, sudah memiliki bekal keterampilan.

Pertanian menjadi salah satu pilihan yang masuk akal.

Apalagi Sidrap dikenal sebagai salah satu daerah pertanian di Sulawesi Selatan. Sawah bukan sesuatu yang asing bagi masyarakatnya.

Di tangan warga binaan, lahan pertanian itu kemudian menjadi semacam sekolah kehidupan.

Ada yang belajar mengolah tanah. Ada yang merawat tanaman. Ada yang belajar memahami proses pertumbuhan hingga akhirnya merasakan sendiri hasil dari apa yang mereka kerjakan.

Sederhana, tetapi pesannya kuat: kerja keras menghasilkan sesuatu.

Bukan Sekadar Panen

Panen raya ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan Rutan Sidrap terhadap Program Ketahanan Pangan Nasional dan Asta Cita Presiden.

Program tersebut juga sejalan dengan Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan melalui penguatan pembinaan kemandirian dan optimalisasi potensi warga binaan.

Jadi, ada dua hal yang dipanen dari kegiatan tersebut.

Pertama, tentu saja padi.

Kedua, dan mungkin jauh lebih penting, adalah kemandirian warga binaan.

Sebab ukuran keberhasilan pembinaan tidak selalu harus berupa seremoni atau pidato. Kadang ukurannya sederhana: seseorang yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan, kemudian mampu menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri.

Rutan Bisa Jadi Tempat Belajar

Pandangan terhadap rumah tahanan perlahan memang perlu diubah.

Rutan bukan hanya tempat orang menjalani proses hukum. Di dalamnya ada manusia yang suatu saat akan kembali ke tengah masyarakat.

Mereka perlu diberi kesempatan untuk belajar.

Mereka perlu diberi keterampilan.

Dan yang tidak kalah penting, mereka perlu diberi alasan untuk percaya bahwa setelah keluar nanti masih ada kehidupan yang bisa dibangun kembali.

Panen padi di Rutan Sidrap menjadi contoh kecil dari gagasan tersebut.

Dari lahan yang dikelola warga binaan, tumbuh padi.

Dari padi, lahir kontribusi terhadap ketahanan pangan.

Dan dari proses pembinaan itu, diharapkan tumbuh manusia-manusia yang lebih siap menjalani kehidupan setelah kembali ke masyarakat.

Jadi, kali ini cerita dari Rutan Sidrap bukan soal napi yang dibina.

Ini cerita tentang bagaimana dari balik tembok pemasyarakatan pun ternyata ada orang-orang yang ikut membantu memberi makan Indonesia. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini